Peserta meminum obat penambah darah secara serentak pada giat Gerakan Nasional Aksi Bergizi di Kantor Dinas Kesehatan Prov Kalteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (26/10/2022). Aksi yang digelar serentak di Indonesia tersebut bertujuan untuk menge | ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Medika

Anak Anemia Berisiko Jadi Korban Bullying, Kok Bisa?

Sebagian besar kasus anemia, terutama pada anak, tidak menimbulkan gejala

Anemia atau kurang darah pada anak sering kali tak memunculkan gejala berarti. Padahal, anemia pada anak tak hanya memberikan dampak negatif terhadap fisik, tetapi juga kondisi psikologis anak.

Bahkan, secara tidak langsung, kondisi anemia yang tak ditangani bisa membuat anak lebih rentan menjadi korban perundungan di kemudian hari. Menurut psikolog klinis anak dan keluarga Anna Surti Ariani SPsi MSi Psi, anemia bisa membuat anak menjadi lebih sulit untuk berkonsentrasi dan susah untuk menangkap atau mengingat informasi.

Dalam jangka pendek, anemia pun bisa membuat emosi anak menjadi cenderung lebih negatif. "Lebih mudah sedih atau marah dan rentan stres," kata psikolog yang akrab disapa dengan Nina tersebut dalam diskusi "Bersama Cegah Anemia, Optimalkan Kognitif Generasi Maju" bersama Danone Indonesia dan Sarihusada di Jakarta, Kamis (31/8/2023).

photo
Danone Indonesia dan Sarihusada beri edukasi soal pencegahan anemia pada anak balita. - (dok. Danone Indonesia)

Bila tak segera ditangani, dalam jangka panjang anemia juga bisa menghambat proses tumbuh kembang anak. Seiring waktu, performa anak di sekolah bisa semakin menurun.

Karena sulit berkonsentrasi dan memahami informasi, anak yang anemia juga dapat mengalami kesulitan dalam bergaul. Dia mungkin tidak mampu mengikuti obrolan teman-teman sebayanya. Kondisi ini dapat membuat anak dijauhi oleh teman-teman sebayanya. "Karena ga nangkep, diajak ngobrol ga nyambung, temen-temen jadi males ngomong sama dia, dia jadi sulit bergaul," ujar Nina.

Padahal, anak-anak mulai membutuhkan teman ketika memasuki usia empat atau lima tahun. Bila tidak memiliki teman, anak bisa merasa tidak nyaman dan dihantui oleh beragam emosi negatif, seperti merasa jelek, tidak pintar, atau rendah diri.

Ketika anak terus-menerus merasa dirinya gagal atau jelek, akan muncul bibit-bibit masalah kejiwaan seperti kecemasan atau depresi. Misalnya, anak menjadi murung secara terus-menerus karena tak memiliki teman mengobrol di sekolah.

Kesulitan berteman hingga munculnya emosi negatif akibat anemia inilah yang bisa membuat anak berisiko mengalami perundungan pada kemudian hari. "Di situ dia kena potensi untuk mengalami bullying atau perundungan," kata Nina.

 

Ia menambahkan, tidak semua anak yang anemia pasti akan menjadi korban perundungan. Namun, mengingat ada beragam dampak merugikan dari anemia, orang tua perlu melakukan beragam upaya pencegahan agar anak mereka tidak terkena anemia. "Semua dampak buruk ini tidak harus terjadi, sangat bisa dicegah," ujar Nina.

Mengingat anemia pada anak sering tak menunjukkan gejala yang signifikan, orang tua disarankan untuk membawa anak mereka melakukan tes skrining anemia. Tes skrining anemia sudah bisa dimulai sejak anak berusia dua tahun.

"Pastikan juga asupan makanan anak baik, stimulasinya baik, dan hubungan kita hangat dengan anak sehingga bullying dan masalah kejiwaan tidak sampai terjadi," ujar Nina. 

 

Deteksi Anemia pada Balita

Sekitar satu dari tiga anak di Indonesia, rentan mengalami anemia defisiensi zat besi. Ironisnya, anemia defisiensi zat besi sering kali tak menimbulkan gejala, khususnya pada anak.


"Sudah dilakukan penelitian di Amerika Serikat. Sebagian besar kasus anemia, terutama pada anak, tidak menimbulkan gejala," ujar Scientific Affairs, Research and Evidence Lead Danone Indonesia, dr Tonny Sundjaya Msc, dalam kesempatan yang sama. 


Minimnya gejala membuat orang tua bisa tidak menyadari bahwa anak mereka mungkin mengalami anemia defisiensi zat besi. Hal ini tentu berisiko karena anemia defisiensi zat besi bisa menimbulkan beberapa dampak buruk bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.


Dalam jangka pendek misalnya, anemia defisiensi zat besi pada anak bisa menyebabkan perkembangan otak terhambat. Padahal, sekitar 90 persen proses perkembangan otak terjadi hingga anak berusia lima tahun. "Jangan sampai terlewat," kata Tonny.

photo
YOGYAKARTA, 6/5 - CEGAH ANEMIA PELAJAR. Pelajar kelas XI, Khairani Afifah menunjukkan pil penambah darah sebelum diminumnya pada acara Deklarasi Cantik dan Cerdas Tanpa Anemia di SMAN 11 Yogyakarta, Senin (6/5). Deklarasi tersebut bertujuan untuk menekan angka remaja putri yang mengalami anemia karena pelajar yang mengalami anemia akan berpengaruh pada daya konsentrasi belajar sehingga berpengaruh pada prestasi mereka. FOTO ANTARA/Noveradika/Koz/Spt/13.YOGYAKARTA, 6/5 - CEGAH ANEMIA PELAJAR. Pelajar kelas XI, Khairani Afifah menunjukkan pil penambah darah sebelum diminumnya pada acara Deklarasi Cantik dan Cerdas Tanpa Anemia di SMAN 11 Yogyakarta, Senin (6/5). Deklarasi tersebut bertujuan untuk menekan angka remaja putri yang mengalami anemia karena pelajar yang mengalami anemia akan berpengaruh pada daya konsentrasi belajar sehingga berpengaruh pada prestasi mereka. FOTO ANTARA/Noveradika/Koz/Spt/13. - (ANTARAFOTO)


Mengingat anemia defisiensi zat besi sering tak bergejala, satu-satunya cara untuk mendeteksi kondisi tersebut lebih awal adalah melalui skrining. Saat ini, Tonny melanjutkan, pemeriksaan skrining anemia bisa dilakukan tanpa menggunakan jarum atau menusuk jari. "Anemia harus diketahui dari awal dengan skrining, kalau ditemukan, harus ditindaklanjuti," ujarnya. 


Hal serupa juga direkomendasikan oleh pakar gizi klinik dan Presiden Indonesian Nutrition Association (INA), Dr dr Luciana B Sutanto MS SpGK(K). Pada anak, menurut dia, skrining anemia sebaiknya mulai dilakukan sejak anak berusia dua tahun. "Meskipun tidak ada gejala," kata Luciana.


Terkadang, dia melanjutkan, anak dengan anemia sebenarnya sudah menunjukkan sejumlah gejala seperti sedikit lesu atau lemas. Tak jarang, gejala yang muncul berupa penurunan nilai di sekolah. "Nilainya kurang bagus mungkin masalahnya bukan di kecerdasan, tetapi karena anemia," ujar Luciana. 



 
Pastikan juga asupan makanan anak baik, stimulasinya baik, dan hubungan kita hangat dengan anak, sehingga bullying dan masalah kejiwaan tidak sampai terjadi. 
 
ANNA SURTI ARIANI, Psikolog klinis anak dan keluarga. 
 
 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Jangan Ragu Bersiasat Kembangkan Bakat Anak

Kesenian di Indonesia juga bisa mengikuti berbagai tren terkini.

SELENGKAPNYA

Kejar Ketertinggalan Asupan Omega Anak Indonesia

Hanya hanya dua dari 10 anak Indonesia yang tercukupi asupan Omega 3 dan 6.

SELENGKAPNYA

Melindungi Masa Depan Anak dari Jahatnya Polusi Udara

Otak anak masih dalam tahap tumbuh kembang, sehingga jika terganggu oleh polutan, maka fungsinya akan terganggu

SELENGKAPNYA

Marak Perundungan, Revolusi Mental Gagal?

Sebanyak 16 kasus perundungan jadi sorotan sejak Januari.

SELENGKAPNYA