Manfaat tertawa untuk kesehatan (ilustrasi) | Unsplash/Jamie Brown

Medika

Terapi Tertawa untuk Kesehatan Jantung, Seperti Apa?

Peneliti menemukan adanya perbaikan kemampuan arteri pada partisipan yang menonton tayangan komedi.

Tertawa ternyata tidak hanya dapat menghadirkan rasa bahagia, tetapi juga menyehatkan tubuh. Orang-orang yang sering tertawa cenderung memiliki tingkat peradangan jantung yang lebih rendah dan kesehatan jantung yang lebih baik.


Manfaat tertawa bagi kesehatan jantung ini, diungkapkan dalam sebuah studi yang telah dipresentasikan dalam pertemuan tahunan European Society of Cardiology di Amsterdam, Belanda. Studi ini melibatkan 26 orang partisipan dengan rerata usia 64 tahun. Seluruh partisipan terdiagnosis dengan penyakit jantung koroner.


Selama studi, para partisipan dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk menonton dua acara komedi di televisi berdurasi satu jam setiap pekan. Sedangkan kelompok kedua diminta untuk menonton dokumenter dengan topik yang serius, seperti politik atau hutan hujan Amazon setiap pekan.

Penyakit Jantung di Indonesia - (Republika)

  ​
Setelah 12 pekan, tim peneliti menemukan bahwa partisipan di kelompok pertama yang menonton tayangan komedi mengalami perbaikan kesehatan jantung yang signifikan. Jumlah oksigen yang yang bisa dipompa ke seluruh tubuh oleh jantung mereka mengalami peningkatan sebesar 10 persen.


Tim peneliti juga menemukan adanya perbaikan kemampuan arteri atau pembuluh darah untuk melebar pada partisipan yang mendapatkan "terapi tertawa" dengan menonton tayangan komedi. Tak hanya itu, penanda peradangan pada kelompok ini juga mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan dengan kelompok kedua.


"Peradangan memiliki peran besar dalam proses aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di arteri," ungkap ketua tim peneliti dari Hospital de Clinicas de Porto Alegre, Prof Marco Saffi, seperti dilansir The Guardian, Rabu (30/8/2023).


Saffi mengungkapkan, pasien penyakit jantung koroner yang datang ke rumah sakit memiliki banyak penanda peradangan. Studi ini, lanjut Saffi, menunjukkan bahwa terapi tertawa bisa menjadi intervensi yang baik untuk pasien penyakit jantung.

photo
Petugas kesehatan beraktivitas di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Mayapada Hospital Bandung usai diresmikan di Jalan Terusan Buah Batu, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/3/2023). Presiden Joko Widodo meresmikan Mayapada Hospital Bandung yang tersertifikasi Greenship & Edge serta memiliki empat pelayanan Center of Excellence yakni Oncology Center (layanan pasien kanker), Center Excellence Cardiovascular (layanan gangguan jantung), Tahir Neuroscience Center (layanan gangguan saraf) dan Tahir Uronrphrology Center (layanan terpadu ginjal dan saluran kemih). Presiden Jokowi berharap kehadiran rumah sakit tersebut dapat mengurangi jumlah masyarakat yang berobat ke luar negeri. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)


"Terapi tertawa merupakan intervensi yang baik dan bisa membantu menurunkan peradangan serta mengurangi risiko serangan jantung dan strok," katanya menambahkan, seperti dilansir WebMD. Menurut Saffi, terapi tertawa bisa diimplementasikan pada institusi-institusi dan sistem layanan kesehatan.

Terapi tertawa ini, dapat ditujukan untuk pasien-pasien yang berisiko terhadap beragam masalah kesehatan jantung. Selain itu, Saffi mengungkapkan bahwa terapi tertawa tidak harus dilakukan dengan menonton acara komedi di televisi.

Para pasien bisa melakukan terapi tertawa dengan banyak cara, termasuk menonton acara komedi stand up atau meluangkan waktu yang menyenangkan dan penuh tawa bersama teman serta keluarga. "Orang-orang perlu mencoba beragam hal yang membuat mereka tertawa, setidaknya dua kali dalam satu pekan," kata Saffi.


Menurut dia, tertawa bisa menyehatkan jantung karena tertawa melepaskan endorfin di dalam tubuh. Keberadaan endorfin ini dapat membantu menurunkan peradangan dan membantu merelaksasi jantung serta pembuluh darah.


Selain itu, tertawa dapat menurunkan kadar hormon stres. Seperti diketahui, hormon stres kerap memberikan tekanan lebih pada jantung. "Tertawa secara umum membantu orang-orang merasa lebih bahagia, dan kita tahu, ketika orang lebih bahagia mereka cenderung lebih patuh untuk mengonsumsi obat," ujar Saffi. 


Tren Gangguan Irama Jantung Meningkat, Waspadai Gejalanya

photo
Sakit jantung (ilustrasi) - (Freepik/Vectorjuice)


Tren gangguan irama jantung tampak terus meningkat, baik di Indonesia maupun dunia. Bila tak terdiagnosis dan dibiarkan begitu saja, pasien gangguan irama jantung bisa berisiko mengalami komplikasi yang lebih serius atau bahkan mematikan.


Gangguan irama jantung atau aritmia terjadi ketika sinyal listrik yang mengoordinasikan detak jantung tidak bekerja dengan baik. Pada gangguan irama jantung, detak jantung pasien bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.


"Jenis aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrium (FA)," kata Dewan Penasihat Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Dr dr Dicky Armein Hanafy SpJP(K) FIHA FAsCC, dalam peringatan satu dekade InaHRS, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Republika, Selasa (29/8/2023).


Prevalensi gangguan irama jantung secara umum di dunia adalah sekitar 1,5 persen hingga 5 persen dari populasi global. Sedangkan jumlah kasus FA di dunia diperkirakan mencapai 46,3 juta kasus.


Per 2050, jumlah kasus FA diprediksi akan terus meningkat. Pada tahun tersebut, kasus FA diprediksi akan mencapai enam hingga 15 juta kasus di Amerika Serikat, 14 juta kasus di Eropa, 72 juta kasus di Asia, dan tiga juta kasus di Indonesia.


Dicky mengungkapkan, gangguan irama jantung bisa memunculkan gejala, seperti jantung berdetak lebih cepat dari normal (takikardia), jantung berdetak lebih lambat dari normal (bradikardia), pusing, pingsan, cepat lelah, sesak napas, serta nyeri dada. Terkadang, gejala gangguan irama jantung bisa tidak dirasakan oleh penderita. "Sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya," kata Dicky.


Kondisi gangguan irama jantung yang tak terdeteksi dan dibiarkan begitu saja dapat membuat penderitanya lebih berisiko terhadap komplikasi yang membahayakan. Sebagian dari komplikasi tersebut adalah strok, gagal jantung, dan kematian jantung mendadak. Penderita FA juga diketahui berisiko lima kali lipat lebih tinggi terhadap strok dibandingkan individu tanpa FA.


Secara umum, gangguan irama jantung bisa terjadi pada siapa saja. Meski begitu, kemunculan gangguan irama jantung sering kali sporadis. Selain itu, pada sebagian kecil pasien, kasus gangguan irama jantung terjadi karena dipengaruhi faktor bawaan.


Terlepas dari itu, Dicky mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang lebih berisiko mengalami gangguan irama jantung. Sebagian dari faktor risiko tersebut adalah usia, menderita penyakit jantung koroner, memiliki riwayat penyalahgunaan narkoba atau zat-zat tertentu, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, mengonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, serta mengonsumsi kafein berlebihan.


Pada kasus gangguan irama jantung, ada beberapa jenis terapi yang bisa diberikan kepada pasien. Sebagian di antaranya adalah kateter ablasi utuk kondisi detak jantung tidak teratur dan terlalu cepat, pemasangan alat implantable cardioverter defibrillator (ICD) untuk mencegah kematian jantung mendadak, serta obat-obatan. "Obat-obatan hanya dapat meredam kemunculan aritmia, tetapi tidak menyembuhkannya," kata Dicky.  


Meski jumlah kasus gangguan irama jantung terus bertambah, masih ada sejumlah tantangan yang kerap dihadapi di Indonesia. Menurut Ketua InaHRS dr Sunu Budhi Raharjo SpJP, salah satu dari tantangan tersebut adalah jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang ahli di bidang aritmia masih terbatas. "Terdapat hanya 46 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ahli aritmia di Indonesia sampai tahun 2023," ujar Sunu.


Tantangan lain yang juga disoroti oleh Sunu adalah akses masyarakat terhadap tatalaksana penyakit gangguan irama jantung yang masih sangat buruk. Sebagai contoh, lanjut Sunu, jumlah kasus kematian jantung mendadak di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 100 ribu per tahun.

Akan tetapi, tindakan pencegahan untuk kematian jantung mendadak dengan pemasangan alat ICD pada pasien masih di bawah angka 100 alat per tahun. Menurut Sunu, angka tersebut masih jauh di bawah negara-negara tetangga Indonesia, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, dan India.

Menurut InaHRS, faktor utama yang memicu timbulnya fenomena ini adalah adanya kesenjangan besar antara coverage Jaminan Kesehatan Nasional dan biaya tindakan-tindakan medis, yang harus dilakukan oleh dokter ahli aritmia dalam praktik. 

 

 
Obat-obatan hanya dapat meredam kemunculan aritmia tetapi tidak menyembuhkannya. 
 
 
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Gelombang Panas, Polusi, dan Risiko Serangan Jantung

Gunakan pakaian yang sesuai dengan cuaca, dan selalu perhatikan hidrasi.

SELENGKAPNYA

Gaya Hidup Pascapandemi dan Risiko Serangan Jantung pada Usia Muda

Gaya hidup yang tidak sehat berperan sangat dominan sebagai penyebab penyakit jantung.

SELENGKAPNYA

Seperti Apa Rasanya Serangan Jantung? Waspadai Sinyalnya

Ketidaknyamanan seperti mulas, sangat umum dirasa pada serangan jantung.

SELENGKAPNYA