Masjid Agung Makhachkala atau disebut pula Masjid Yusuf Bey di Republik Dagestan, Federasi Rusia. | DOK WIKIPEDIA

Arsitektur

Mutiara di Bumi Dagestan

Masjid raya di Kota Makhachkala, Dagestan, Federasi Rusia, ini mengusung gaya arsitektur Utsmaniyah.

Selimut awan hitam menggelayut di atas bangunan berwarna putih. Berlatar langit yang cerah, warna putih susu yang terpancar dari bangunan Masjid Agung Makhachkala kian menyiratkan pesona.

Masjid ini menjadi salah satu kebanggaan bagi kaum Muslimin di Dagestan. Wilayah itu adalah salah satu negara dalam lingkup Federasi Rusia. Letak masjid ini berada di ibu kota Dagestan, Makhachkala.

Tempat ibadah Islam ini enjadi kebanggaan publik setempat karena statusnya yang menyandang sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Daya tampung dalam satu kali ibadah bisa mencapai lebih dari 15 ribu jamaah.

Tapi, bukan hanya besar bangunannya yang membuat masjid ini menjadi tampak memikat. Namun, para pelancong yang kebetulan singgah ke Makhachkala akan dibuat terpesona karena melihat gaya arsitektur bangunan masjid ini.

photo
Masjid nan megah ini dibangun pada tahun 1996, ketika Uni Soviet masih ada. - (DOK WIKIPEDIA )

Dari luar, tampak nyata adanya pengaruh arsitektur Turki Utsmani. Bahkan, seperti tertulis di situs resmi masjid ini, desain utamanya mengadopsi pada bangunan Masjid Biru di Istanbul, Turki. Kuatnya pengaruh Turki ini menjadi hal yang sangat wajar pada Masjid Agung Makhachkala.

Masih dari situs resminya, disampaikan biaya untuk pembangunan masjid ini mendapatkan sokongan besar dari dermawan Turki. Tak heran jika kemudian Masjid Agung Makhachkala ini memiliki pesona layaknya Masjid Biru di Istanbul. Keduanya memiliki pola kubah yang bertumpuk-tumpuk.

Di Masjid Agung Makhachkala ini, total kubah masjidnya berjumlah 57. Kubah utamanya berada di bagian teratas dengan ukuran paling besar. Lalu, kubah yang berukuran lebih kecil berada di bagian bawah kubah utama. Kubah-kubah kecil itu kemudian membentuk pola bertumpuk layaknya Masjid Biru.

Selain kubah bertumpuk, hadir juga dua buah menara atau minaret. Dua minaret ini hasil adopsi arsitek Mimar Sinan. Ia adalah sosok paling berpengaruh dalam perancangan sejumlah masjid di Turki pada masa kekhalifahan Utsmani.

photo
Mengusung corak arsitektur Turki Utsmaniyah, Masjid Agung Makhachkala pun dilengkapi dengan menara-menara tinggi bak pensil raksasa. - (DOK WIKIPEDIA)

Menara hasil rancangannya tersebut memiliki bentuk kotak pada bagian dasar. Setelah itu, dipadukan dengan bentuk silinder yang ramping. Pada bagian atas minaret, dihadirkan bentuk kerucut. Pada minaret di masjid ini terdapat dua balkon kecil.

Hadirnya bentuk kubah dan minaret pada Masjid Agung Makhachkala inilah yang membuatnya begitu kuat diasosiasikan dengan gaya arsitektur masjid Turki. Tampilan itu terasa lengkap dipandang ketika bagian luar itu dilumuri oleh cat berwarna putih susu. Kala malam tiba, pendaran putih dari kubah dan menara akan menjadi sangat terlihat nyata. Inilah pesona yang tersaji di bagian luar.

Jika ingin menuntaskan rasa ingin tahu tentang keindahan Masjid Agung Makhachkala, singgahlah ke bagian dalamnya. Di bagian dalam masjid ini akan terlihat bangunan dua lantai. Namun, dari kedua lantai itu, pandangan mata kali pertama akan tersedot untuk melihat lampu gantung.

Lampu gantung seberat hampir satu ton itu berada di bagian tengah. Dalam situs culture.ru disebutkan chandelier itu didatangkan dari Suriah. Ketika lampu penerang dinyalakan, pendaran kuning keemasan akan menerangi seluruh ruang tempat ibadah, sekaligus juga memberikan kehangatan bagi para jamaah yang berada di dalamnya.

Keindahan lainnya terletak juga pada permainan hiasan dengan pola geometri dan flora. Pola hias ini hampir mengisi bagian langit-langit masjid. Terutama, pada bagian dalam kubah yang dihiasi juga dengan permainan warna-warnanya yang cerah.

photo
Sisi interior Masjid Agung Makhachkala. - (DOK WIKIPEDIA)

Ah, ketika mendongakkan kepala ke atas, akan terlihat betapa penuh ketelitian proses pengerjaan hiasan tersebut. Bahkan, di bawah kubah itu dihiasi juga dengan Asmaul Husna yang dibingkai secara terpisah dalam pola yang dibuat memikat.

Hiasan kaligrafi berbahasa Arab ini juga tertera di beberapa bagian. Semuanya diselaraskan dengan bentuk geometris yang berulang serta racikan warna yang cerah.

Semua ornamen hias itu seakan memberikan keanggunan pada pola tata ruang. Tata ruang yang lapang itu sesungguhnya masih diberikan kesan ‘ramai’ melalui permainan lengkungan yang menghubungan antarpilar yang menopang puluhan kubah. Inilah sebuah keindahan sekaligus pesona yang tersaji dari gaya arsitektur Turki. Itu bisa dilihat di sebuah masjid yang berjarak ribuan mil jauhnya dari Turki.

Selintas sejarah 

Masjid Agung Makhachkala mengawali proses pembangunannya pada 1996. Pada saat awal, masjid ini hanya memiliki daya tampung tak lebih dari 8.000 jamaah. Namun, membeludaknya jamaah pada saat shalat Jumat dan hari libur, terbetiklah ikhtiar untuk melakukan perluasan masjid.

Tak banyak informasi yang menjelaskan areal yang mengalami perluasan itu pada bagian apa saja. Termasuk, juga pada bangunan yang sekarang ini hanya berapa persennya dari bangunan orisinalnya.

photo
Area taman di depan Masjid Agung Makhachkala. Pembangunan tempat ibadah ini turut didukung pemerintah Turki. - (DOK WIKIPEDIA)

Namun, yang dapat dijelaskan dampak dari perluasan masjid itu, daya tampung masjid mampu mencapai 15 ribu jamaah. Boleh dibilang kapasitas baru nyaris dua kali lipat dari bangunan awal.

Dalam sejumlah situs lainnya disebutkan, pada proses pembangunan ini sudah terjalin hubungan dengan Turki. Hubungan itu tak hanya sebatas donasi dalam bentuk dana segar untuk pembangunan masjid. Namun, hubungan terus berlanjut sampai proses untuk memakmurkan masjid.

Sampai Mei 1998, perwakilan dari Turki secara formal menjadi imam di masjid ini. Badan agama Islam Dagestan secara aktif berhubungan dengan Turki dengan mediasi dari seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat Turki dan keturunan imigran asal Dagestan, Mahdi Pasha Sungurov. Ini menjadi bentuk totalitas Turki untuk membuat umat Muslim di Makhachkala agar selalu ringan langkahnya menuju masjid yang mereka banggakan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kekuatan Doa Seorang Wali

Wali Allah ini memanjatkan doa, yang lalu dikabulkan oleh Allah. Pertolongan datang melalui perantaraan malaikat.

SELENGKAPNYA

Tahun Ini, Jamaah Haji Dapat Jatah 10 Liter Zamzam

Masih ada jamaah yang memaksakan diri menaruh air zamzam di dalam koper

SELENGKAPNYA

Babak Baru Digitalisasi UMKM

Setiap wilayah di Indonesia, memiliki tantangan adopsi pembayayaran digital yang berbeda pula.

SELENGKAPNYA