Wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong agama Allah SWT. | Republika

Hikmah

Makna Identitas Masyarakat Islam

Kehilangan identitas, dalam arti makna, menjadikan seseorang tiada pandangan hidup.

Oleh AUNUR ROFIQ


Identitas masyarakat Islam adalah masyarakat yang dapat menyeimbangkan antara kehidupan materiil dan spiritual. Hanya saja, identitas masyarakat Islam menekankan pada kehidupan berbudaya: mampu membudayakan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya kepada budaya yang sesuai kemanusiaan secara rasional.

Identitas menjadi perlu, seperti kartu tanda penduduk (KTP) yang di dalamnya mengandung unsur nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat rumah, agama, status, dan profesi. Identitas ini berguna karena setiap kita mengurus sesuatu maka identitas tersebut sebagai syarat.

Kehilangan identitas, dalam arti makna, menjadikan seseorang tiada pandangan hidup, mengikuti saja arus di masyarakat. Seseorang yang kehilangan nama, laksana tumbuhan air yang tidak mendapatkan tempat kokoh untuk berpijak dan tentu tidak akan bisa berbuah.

 
Maka umat yang kehilangan kemuliaannya telah kehilangan identitas dirinya. Saat itu, ia hidup dengan mengikuti pandangan yang ada dan sekadar hidup tanpa makna.
 

Maka umat yang kehilangan kemuliaannya telah kehilangan identitas dirinya. Saat itu, ia hidup dengan mengikuti pandangan yang ada dan sekadar hidup tanpa makna. Aktivitas kehidupan yang hanya berupa makan dan minum, tiada kesadaran akan makna dan tujuan hidup.

Telah lama kita menjadi kaum terbelakang. Terlelap dalam tidur yang demikian panjang. Tidur dengan berselimutkan kelam, hingga kita lupa bahwa pagi akan segera menjelang. Terlalu lamanya tidur, hampir tidak bisa bangkit.

Oleh karena itu, kita tidak ada alasan apa pun untuk tetap terbelenggu dalam ketertinggalan dan keterbelakangan, sementara dunia di sekitar kita terus bergerak maju.

Umat Islam Indonesia memiliki prinsip dan dorongan agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan yang mengharuskan kita untuk maju dan tidak tinggal diam. Ingatlah kita juga memiliki sumber daya alam, sumber daya manusia yang memungkinkan untuk maju bersama negara-negara yang maju.

Allah SWT menyifati umat ini sebagai umat yang baik serta menerangkan kebaikannya bahwa kita disuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan beriman kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT.”

Sebagaimana umat terbaik yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, tapi kenyataan saat ini ada sebagian umat yang bersikap sebaliknya. Perasaan dan pertimbangannya sudah hilang, sehingga mereka melihat kebaikan sebagai sesuatu yang mungkar dan melihat kemungkaran sebagai sesuatu yang baik.

Hal ini akan melahirkan perselisihan dan adu domba di antara umat. Padahal Allah SWT menyifati kita sebagai umat yang adil dan pilihan.

Ingatlah firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 143, “Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.”

 
Kita telah meninggalkan kedudukan sebagai umat yang adil dan pilihan guna mengikuti kecenderungan angin yang berembus ke kanan dan ke kiri.
 

Kita telah meninggalkan kedudukan sebagai umat yang adil dan pilihan guna mengikuti kecenderungan angin yang berembus ke kanan dan ke kiri. Inilah yang disebut kehilangan identitas, sehingga pandangan-pandangannya bukan berasal dari keyakinan atau keimanan.

Mereka telah meninggalkan jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah dianugerahi nikmat Allah SWT. Mari kita simak firman Allah SWT yang memperingatkan kita agar tidak lupa (berpaling) dari-Nya.

Surah al-Anbiya’ ayat 92 yang artinya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”

Saat ini kita bukan umat yang bersatu seperti dalam ayat tersebut. Namun menjadi umat yang terpecah-pecah sebagaimana yang diinginkan pihak-pihak yang kurang suka atas bersatunya umat.

Maka identitas sebagai masyarakat Islam yang menyeimbangkan antara kehidupan materiil dan kehidupan spiritual hendaknya tampil dan berkontribusi dalam memajukan kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan bernegara, identitas pilar-pilar demokrasi hendaknya jelas dan menjadi nyata di antara para partai politik. Antara satu partai dengan lainnya ada yang berbeda, ada yang beririsan, ada yang hampir sama.

Namun, semua itu hendaknya menjadi fakta dengan berbeda, tapi tetap rukun menjalin kebersamaan dalam mengurus negeri. Perbedaan tidak perlu dibenturkan dan dalam ajaran Islam perbedaan itu hendaknya diselesaikan dengan musyawarah. Pendekatan musyawarah saat ini menjadi miskin sebagai solusi, padahal sila keempat Pancasila mengamanatkan itu.

Tahun ini sudah masuk agenda pesta demokrasi, setiap peserta pemilu hendaknya mengedepankan akhlak kesantunan, sehingga proses kontestasi ini berjalan saling menghormati dan tidak menghasilkan keterbelahan masyarakat.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah pada kita semua.

Ketika Setan ‘Menolong’ Sahabat Nabi

Sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Ummi Maktum, ditolong lelaki misterius yang menuntunnya ke masjid.

SELENGKAPNYA

Abdullah bin Ummi Maktum, Sahabat Nabi Penyandang Disabilitas Netra

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum menjadi asbabun nuzul Alquran surah Abasa.

SELENGKAPNYA

KH Khalil Bangkalan, Ulama Pejuang dari Madura

KH Khalil Bangkalan memiliki sejumlah murid yang di kemudian hari menjadi ulama-ulama besar.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya