ILUSTRASI Bimaristan, bentuk rumah sakit pada zaman klasik di daulah Islam. | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

Teladan Inklusif Layanan Kesehatan Islam

Kisah berikut mengilustrasikan betapa inklusifnya layanan kesehatan di peradaban Islam.

Peradaban Islam memberikan begitu banyak sumbangsih bagi umat manusia. Dalam bidang kesehatan, misalnya, sejarah mencatat bahwa umat agama ini menjadi inisiator perkembangan pesat layanan medis.

Bukan hanya dalam kondisi damai, melainkan juga perang. Dr Sharif Kaf al-Ghazal dalam artikelnya, “The Origin of Bimaristans (Hospitals) in Islamic Medical History” (2007) menjelaskan, Nabi Muhammad SAW adalah figur pertama yang membentuk kesatuan militer bergerak (mobile) yang secara khusus menyediakan perawatan bagi prajurit yang luka-luka di medan tempur. Kaum Muslimah pun menggoreskan pencapaian dengan sosok Rufaidah al-Aslamiyah sebagai perawat pertama dalam sejarah.

Kemajuan praktik layanan kesehatan terjadi pada era kekhalifahan-kekhalifahan. Bahkan, pelayanan tidak hanya berlaku bagi saudara seiman, melainkan juga non-Muslim. Prinsip inklusi diterapkan dengan amat baik.

Salah satu contohnya digambarkan oleh Aniceto Baltasar dalam artikelnya pada jurnal Obesity Surgery (2004). Pada abad ke-10, kawasan Spanyol Utara di Semenanjung Iberia, Benua Eropa, dipimpin seorang raja yang bernama Sancho I. Yang menyedihkan, pemimpin Nasrani itu justru dibenci rakyatnya sendiri dan sesama ningrat.

Sebab, secara fisik dirinya sangat gemuk. Obesitas yang mendera tubuhnya membuatnya merana, lahir maupun batin. Raja Sancho I kesulitan menaiki kuda. Sakadar mengayunkan pedang pun tidak mampu dilakukannya dengan benar. Publik meledeknya dengan sebutan: Sancho el Craso, ‘Sancho si Gembrot.’

 

Publik meledeknya dengan sebutan: Sancho el Craso, ‘Sancho si Gembrot.’

 

Ia pun depresi. Dua tahun lamanya (958-960), Sancho I menyendiri di kastil Pamplona, sekira 400 km dari pusat Leon. Kota tersebut merupakan wilayah Kerajaan Navarre, yang diperintah Ratu Toda. Nenek Sancho I itu ingin sekali memulihkan kepercayaan diri sang cucu tercinta.

Di tengah kegalauan, sang ratu kemudian meminta pertolongan dari Khalifah Abdurrahman III, sang raja Kekhalifahan Kordoba. Memang, antara negeri Navarre yang Kristen dan Kordoba terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik.

photo
Sancho I, seorang elite Kerajaan Navarre yang menderita obesitas. - (DOK UNCYCLOMEDIA)

Sang khalifah memiliki dokter istana sekaligus diplomat ulung bernama Hasdai bin Shaprut. Figur yang beragama Yahudi ini diutus ke Pamplona untuk melihat langsung bagaimana kondisi Sancho I. Sesampainya di sana, Ibnu Sahprut memastikan bahwa pangeran Kristen ini hanya bisa mendapatkan perawatan intens bila tinggal di Kordoba. Sebab, pelbagai fasilitas kesehatan yang mendukung tersedia lengkap di kota kosmopolitan itu, yang pada masanya setara Baghdad atau Konstantinopel.

Jarak tempuh sepanjang 800 km dari Pamplona ke Kordoba adalah persoalan tersendiri. Alasannya, Sancho I tidak mampu menunggangi kuda. Tubuhnya sendiri tidak muat di kereta. Hasdai bersiasat dengan merancang kereta kuda yang lebih akomodatif serta membius pasiennya itu dalam jangka waktu tertentu selama perjalanan. Kemudian, empat bagal disediakan hanya untuk menarik pengidap obesitas ini.

Enam bulan lamanya Sancho I menjalani perawatan di Kordoba. Macam-macam diet, olah raga, dan stimulus sesuai jadwal para dokter setempat dilakukannya. Hasilnya cukup menggembirakan. Lebih dari separuh berat badannya semula berhasil hilang. Berbeda dari sebelumnya, kali ini dia bisa menunggangi kuda. Dengan gagah, dia pulang ke Leon untuk mendapatkan kembali takhta kerajaan.

Bagaimanapun, akhir hidupnya tidak begitu baik. Wafatnya Khalifah Abdurrahman III membuat Kerajaan Leon berani menggempur Kordoba.

Khalifah berikutnya, al-Hakam, dapat mengatasi serangan Sancho I dan pasukan. Gencatan senjata jilid dua pun disepakati. Pada 966, Sancho I mati setelah memakan apel yang telah diracun. Belakangan, pelaku pembunuhan ini terkuak berasal dari kalangan bangsawan Leon yang kecewa terhadap beberapa kebijakannya.

Tak pandang agama

Pelajaran lainnya mengenai inklusifnya medis Islami adalah riwayat dari sang pembebas Masjid al-Aqsha, Shalahuddin al-Ayyubi. Sultan yang lahir pada 1137 M itu dikenal sebagai pemimpin yang bijak, pemberani, dan disegani baik kawan maupun lawan.

Sewaktu mencaplok Yerusalem pada 1099, tentara Salib membunuh seluruh kaum Muslimin dan Yahudi, bahkan termasuk anak-anak dan perempuan. Situasinya berbalik pada Perang Hattin tahun 1187. Sultan Saladin—demikian namanya populer di Barat—berhasil merebut kembali tanah suci ketiga dalam ajaran Islam tersebut.

Apa yang kali ini dilakukannya? Tidak ada balas dendam. Seluruh penduduk sipil tak bersenjata, walaupun beragama Kristen, dibebaskannya. Sekira satu bulan lamanya Sultan Shalahuddin membiarkan orang-orang yang telah kalah itu kembali ke tanah kelahiran mereka dengan membawa barang-barang kebutuhan. Selain itu, hak-hak kaum pendeta Kristen dan Yahudi juga dipulihkan sehingga umat non-Islam itu bebas keluar-masuk Yerusalem. Tidak ada satu pun gereja dan sinagog yang diganggu.

Akhlak terhadap lawannya juga tidak kurang mulia—dan inilah poin pembahasan kita. Sultan Shalahuddin dan Baldwin IV merupakan musuh satu sama lain. Raja Kristen itu memerintah Yerusalem sejak 1174 hingga kematiannya pada usia 24 tahun. Sejarah mengenang putra Almaric I itu sebagai penderita lepra. Penyakit ini cukup parah dan gejalanya sudah muncul sejak dia masih anak-anak.

Sebelum pecah Perang Hattin, Sultan Shalahuddin memimpin pasukannya menuju benteng Kristen. Tujuannya mendesak pertanggungjawaban atas ulah Raynald of Châtillon yang telah mengusik kafilah Muslimin. Raja Baldwin IV dengan diiringi prajurit menemuinya. Alih-alih pertempuran, terjadilah kesepakatan damai. Sang sultan menerima janji darinya yang akan menghukum Raynald.

Tidak hanya itu. Menyadari sakit lepra yang diderita musuhnya itu, Sultan Shalahuddin berjanji mengirimkan dokter pribadinya kepada pemimpin Kristen tersebut. Mengutip uraian Christian P Potholm dalam War Wisdom: A Cross-Cultural Sampling, penguasa Mesir itu mengatakan, “Kejayaan adalah mengubah pandangan musuhmu dengan sikap lemah lembut dan kebaikan.”

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Penegakan Hukum atas Kasus Korupsi di Zaman Nabi

Nabi Muhammad SAW memberikan teladan ketegasan penegakan hukum atas korupsi.

SELENGKAPNYA

Menikahi Lelaki yang Selevel, Haruskah?

Setiap Muslim adalah kufu bagi Muslimah sepanjang dia bukan orang yang fasik.

SELENGKAPNYA

Siapakah al-Masih Dajjal?

Kemunculan Dajjal berkaitan dengan tanda kiamat besar.

SELENGKAPNYA