Refleksi--Didin Hafidhuddin | Republika/Daan Yahya

Refleksi

Ramadhan Bulan Penguatan Akhlak Mulia

Ramadhan menjadi bulan pembiasaan dan penguatan akhlak mulia.

Oleh KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan, bulan pembiasaan dan penguatan akhlak mulia. Bulan suci Ramadlan 1444 H.

Mudah-mudahan Allah SWT akan memudahkan segala urusan ibadah kita dan menjadikannya sebagai wasilah penguatan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2]: 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Juga sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih, “Dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda, 'Telah datang bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Wajib bagi kalian puasa di bulan itu, pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka dan ditutup pintu-pintu neraka, dan setan dirantai. Pada bulan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka terhalanglah ia'." (HR Ahmad, Nasa’i, dan Baihaqi).

 
Terdapat perbedaan tekanan tata cara ibadah puasa dengan ibadah yang lain.
 
 

Terdapat perbedaan tekanan tata cara ibadah puasa dengan ibadah yang lain. Jika shalat adalah ibadah yang ditekankan pada ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) dan diakhiri dengan salam dengan persyaratan-persyaratan tertentu.

Zakat adalah ibadah yang ditekankan pada mengeluarkan harta yang kita miliki yang telah mencapai nishab dengan persyaratan tertentu pula sebesar 2,5 persen atau 5 persen atau 20 persen yang dikeluarkan melalui amil zakat untuk kemudian disalurkan kepada yang berhak menerimanya (mustahik).

Sebagaimana dinyatakan dalam QS at-Taubah [9]: 60, “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."

Ibadah haji penekanannya pada ucapan dan perbuatan pada waktu tertentu (musim haji) dengan persyaratan utama bagi mereka yang mampu dalam perjalanannya (istatha’a/إستطاع).

Sebagaimana dinyatakan dalam QS Ali Imran [3]: 96-97, “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam (96). Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (97)."

Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui bahwa secara harfiah (bahasa), shaum itu adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan pelaksanaannya, mulai dari terbit fajar shidik sampai terbenamnya matahari dan juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang akan membatalkan pahalanya.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadis bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW bersabda, 'Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak ada hasilnya kecuali lapar dan dahaga'." (HR Ahmad, Ibn Majah, dan ad-Darimi).

Juga sabdanya dalam hadis yang lain: “Dari Abu Said Al-Khudri RA Nabi SAW bersabda: 'Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, mengetahui aturannya, memelihara apa yang mesti dipelihara, maka akan menyebabkan diampuni segala dosanya yang terdahulu'." (HR Ahmad dan Baihaqi).

Hadis tersebut di atas menegaskan perlunya menjaga hal-hal yang tidak pantas untuk dilakukan atau diucapkan jika puasa itu ingin diterima oleh Allah SWT. Shaum yang dilakukan selama bulan Ramadhan pun memiliki beberapa keistimewaan yang jika melekat dan masuk ke dalam struktur rohani dan kepribadian orang yang berpuasa, akan menjadikan mereka orang yang mulia dalam pandangan Allah SWT.

Di antara keistimewaan tersebut adalah berikut.

Pertama, menumbuhkan kesadaran untuk selalu berbuat ikhlas karena Allah SWT. Dan hal ini merupakan puncak dari ibadah dan puncak dari kenikmatan dan kelezatan beriman.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, “Setiap amal perbuatan seseorang (anak Adam) itu adalah baginya, terkecuali ibadah puasa, karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasanya. Orang itu meninggalkan makan karena Aku, meninggalkan minum karena Aku, meninggalkan kenikmatan karena Aku, dan meninggalkan menggauli istri (di siang hari) karena Aku'." (HR Ibnu Huzaimah).

Hadis ini juga menguatkan firman Allah SWT dalam QS al-Bayyinah [98]: 5, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…..” (QS al-Bayyinah [98]: 5).

Kedua, shaum melatih kesabaran, keuletan, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, sekaligus ibadah shaum itu merupakan zakat dari tubuh kita (fisik).

Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Segala sesuatu itu ada zakatnya. Zakatnya badan itu adalah melaksanakan puasa, dan puasa itu adalah sebagian dari sabar." (HR Ibnu Majah).

Ketiga, shaum sebagai perisai dari perbuatan buruk yang merusak dan mencelakakan, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Inginkah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Shaum adalah perisai, sedekah dapat memadamkan/menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api …..” (HR Tirmidzi).

Juga perisai dari pergaulan bebas dan bahkan perisai dari perbuatan zina. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Wahai para pemuda, jika kalian mampu untuk melaksanakan nikah, maka nikahlah. Karena nikah itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah, karena puasa itu baginya merupakan perisai." (HR Bukhari).

Keempat, puasa yang benar yang pelaksanaannya sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW akan menumbuhkan kekuatan pengendalian diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Bahkan juga yang akan merusak, seperti korupsi, menyuap, dan mengambil harta yang bukan haknya, hanya untuk memuaskan pribadi dan keluarganya.

Karena itu, Alquran menjelaskan larangan berbuat kebatilan dengan harta (QS al-Baqarah [2]: 188) setelah ayat-ayat tentang ibadah shaum (QS al-Baqarah [2]: 183-187).

Perhatikan firman-Nya, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Kelima, shaum yang benar juga akan melahirkan kasih sayang yang tinggi pada sesama manusia dan terutama pada mereka yang termasuk kategori dhuafa dan miskin dan kelompok orang-orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari kita. Kasih sayang kepada sesama ini akan mengundang kasih sayang makhluk yang di langit (seperti Malaikat) kepada orang-orang yang berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang selalu berbuat kasih sayang, maka akan memberikan kasih sayang kepadanya Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berilah kasih sayang pada segala yang ada di bumi, maka akan memberikan kasih sayang segala yang ada di langit." (HR Abu Dawud dan Turmudzi).

Selamat melaksanakan ibadah shaum 1444 H. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Amin.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

Kenangan di Kamp Konsentrasi Yahudi Tangerang

Yahudi Shepardic dari Surabaya meminta dapur halal.

SELENGKAPNYA

20 Tahun Lalu, Perang Jahanam Itu Dimulai

Invasi AS ke Irak menimbulkan dampak panjang pada dunia.

SELENGKAPNYA

Megahnya Baghdad Sebelum Perang

Baghdad merupakan kota paling maju pada masa keemasannya.

SELENGKAPNYA