Sukses menjelang Ramadhan adalah kita cinta kepada Alquran. | Republika

Laporan Utama

Mengenali Wajah Ramadhan

Dengan berpuasa, seseorang akan menghindari hal yang dilarang dan merusak keutamaan puasa.

Oleh ANDRIAN SAPUTRA

Ramadhan merupakan bulan yang begitu dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa. Pakar tafsir Alquran yang juga Pengasuh Pesantren Pasca-tahfidz Bayt Alquran-PSQ Jakarta, KH Syahrullah Iskandar, mengatakan, dalam Alquran ada dua terminologi yang digunakan untuk menyebut puasa, yaitu shaum dan shiyam.

Kata shaum hanya tersebut sekali dalam Alquran, yaitu pada QS Maryam ayat 26. Puasa dalam konteks ayat tersebut tidak diperintahkan secara khusus karena hanya diminta untuk diam tanpa bicara.

Puasa pun tak menghalangi seseorang untuk menjalin silaturahim dengan orang lain. Kiai Syahrullah mengatakan, dalam syariat Islam, perintah berpuasa justru menggunakan kata shiyam. Kata itu disebut tujuh kali dalam Alquran. Di antaranya pada surat al-Baqarah ayat 183.

photo
Jamaah berjalan menujua ruang utama Masjid Istiqlal, Jakarta, (9/4). Pada Ramadhan tahun ini masjid Istiqlal melaksanakan sholat tarawih dengan membatasi jumlah kapasitas jamaah hanya untuk 2.000 orang atau setara 30 persen dari kapasitas masjid sebanyak 250.000 orang. Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika.)

Pada ayat tersebut, menurut Kiai Syahrullah, puasa yang dimaksud mencakup puasa wajib, seperti Ramadhan, kafarat, dan nazar serta puasa sunah lainnya. Abu al-Hasan Ali Nadvi dalam kitab al-Arkan al-Arba’ah menguraikan bahwa perintah puasa mengandung latihan dan pendidikan, perbaikan dan penyucian, dan menjadi wadah penempaan moral (madrasah khuluqiyah).

Dengan berpuasa, seseorang akan menghindari hal yang dilarang dan merusak keutamaan puasa. Al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat memaknainya secara etimologis sebagai menahan (imsak), sedangkan makna terminologisnya yaitu menahan dalam bentuk khusus, yaitu menahan diri dari makan, minum, bersetubuh, dari Subuh hari hingga Maghrib yang disertai niat.

"Redaksi definisi puasa ini banyak ragamnya dalam referensi fikih yang muktabar meski substansinya sama, yaitu upaya menahan dari yang dapat merusak puasa dan hadirnya niat di dalamnya. Kedua komponen inilah yang menjadi rukun puasa. Puasa adalah rukun keempat dari rukun Islam yang mulai diwajibkan pada pada tahun kedua Hijriyah. Dengan begitu, Rasulullah SAW berpuasa Ramadhan selama sembilan kali dalam hidupnya," kata Kiai Syahrullah.

 
Rasulullah SAW berpuasa Ramadhan selama sembilan kali dalam hidupnya.
 
 

Kiai Syahrullah menjelaskan, terminologi Ramadhan telah dikenal sejak dahulu yang biasanya bertepatan dengan cuaca yang panas. Ibnu Manzhur memaknainya dari kata ramadh karena seorang yang berpuasa berpengaruh pada hawa kerongkongannya akibat dahaga.

Namun demikian, pertanyaan yang sering mengemuka adalah mengapa kewajiban puasa jatuh di bulan Ramadhan? Apa relasi keduanya?

Ramadhan adalah bulan turunnya Alquran yang menjadi hidayah penerang dalam hidup manusia. Berpuasa setiap hari pada bulan Ramadhan adalah penghormatan terhadap turunnya kitab suci samawi terakhir tersebut. Bulan Ramadhan ini menghimpun aneka kebaikan dan berkah yang akan menghiasi hidup manusia, tidak hanya pada bulan Ramadhan, tetapi berbulan-bulan setelahnya.

Kiai Syahrullah yang juga menjabat sebagai wakil sekjen Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad (PBDDI) mengatakan, berpuasa baru diwajibkan setelah hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah karena penanaman keyakinan (credo) di periode Makkiyah telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Korelasinya dengan dimulainya ayat 183 surah al-Baqarah dengan kalimat "ya ayyuhalladzina amanu" (wahai orang-orang yang beriman).

Menurut Kiai Syahrullah, seorang yang beriman akan senang hati menerima dan melaksanakan pembebanan (taklif) dari Allah SWT meski mengandung kesukaran. Al-Sya’rawi menyebut penerimaan seperti itu sebagai kontrak keimanan (al-ta’aqud al-imani).

Atas dasar itulah, orang beriman menjadi subjek pelaksanaan perintah puasa karena akan terasa berat bagi orang yang tidak beriman untuk menerima dan melaksanakannya. Pelaksanaan puasa bagi seseorang akan meningkatkan derajat ketakwaan (la’allakum tattaqun).

Ia mengatakan, puasa menyiapkan diri meraih ketakwaan karena berpuasa membatasi dan mengendalikan syahwat. Puasa menghindarkan dari sifat buruk karena upaya menahan (imsak) meliputi dimensi jasad dan rohani. Itulah korelasinya dengan hadis bahwa puasa adalah perisai (as-shiyam junnah).

Lebih lanjut, Kiai Syahrullah mengatakan, huruf alif-lam pada kata al-shiyam di surah al-Baqarah 183 adalah lil ‘ahdi al dzihni (sesuatu yang telah dikenali sebelumnya). Dengan begitu, ibadah puasa telah ada dan dilaksanakan oleh umat-umat terdahulu.

Berpuasa sebagai rukun ibadah (rukn ta’abbudi) memang telah ada di agama-agama sebelum Islam. Ada yang berpuasa dari semua jenis makanan, ada juga yang hanya berpuasa dari jenis makanan tertentu. Jumlah hari berpuasanya juga berbeda.

Salah satu buktinya adalah bahwa jauh sebelum Islam, tepatnya setiap hari Asyura (10 Muharram), kalangan Arab dan masyarakat jahiliyah berpuasa.

photo
Santri membaca Al Quran bersama saat mengaji malam selikuran di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Mubarokah, Andong, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (22/4/2022). - (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Itu juga menjadi dalil bahwa nama-nama bulan dalam penanggalan Hijriyah telah dikenal sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Redaksi kama kutiba ‘alalladzina min qablikum turut menguatkan kewajiban berpuasa bagi umat-umat terdahulu. Hanya saja, tata cara dan jangka waktu pelaksanaannya berbeda dengan puasa yang diperintahkan kepada umat Islam.

Sementara itu, Mahmud Syaltut menyatakan, berpuasa merupakan kebutuhan fitrah yang sangat dibutuhkan oleh manusia sedari dulu. Selain berpuasa sebagai sebuah metode untuk mendidik manusia (manhaj li-tarbiyah insan fi al-adyan), ia juga mengandung nilai solidaritas sosial (tadhamuniyah). Dengan puasa, manusia terlatih mengendalikan nafsu hayawaniyah (kebinatangan) sehingga manusia semakin menonjolkan dimensi malakiyah dalam kata dan perbuatannya.

Berpuasa juga melatih kesabaran yang merupakan pangkal kebaikan. Berpuasa berimplikasi juga pada rasa tenggang rasa, yang berpunya juga bisa merasakan kehidupan yang tidak berpunya, dan aneka kegiatan sosial di sekitar puasa yang memupuk solidaritas sosial.

Junaid al-Baghdadi menyebut puasa merupakan setengah dari metode tasawuf. Bahkan, al-Hujwiri menyebut puasa mencakup semua metode tasawuf karena hakikat puasa adalah kezuhudan.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa berpuasa memiliki keistimewaan daripada ibadah lainnya dalam dua hal. Pertama, puasa menghalangi nafsu dan syahwat merajalela hingga berisiko mengendalikan diri seseorang. Kedua, berpuasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT. Yang tahu persis tentang ibadah puasa yang dilakukan seseorang hanya Allah SWT dan orang yang berpuasa itu sendiri.

Berpuasa adalah ibadah yang bersifat ruhaniyah. Ini selaras dengan hadis qudsi, “Berpuasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran untuknya” (as-shaum li wa Ana ajzi bih).

 
Berpuasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran untuknya.
AL-QURTHUBI
 

Laku berpuasa tidak mungkin dihinggapi penyakit riya’ karena tidak tampak dari tampilan seseorang, sedangkan ibadah lainnya mungkin saja dirasuki penyakit riya’. Andaikan ada seseorang yang memproklamasikan dirinya “Saya berpuasa” dengan maksud pamer maka hakikatnya dia tidak berpuasa.

Berpuasa bukanlah penghalang seseorang untuk beraktivitas. Tidak perlu meliburkan diri dari rutinitas keseharian hanya karena berpuasa. Sejarah membuktikan, terdapat beberapa peristiwa penting pada masa Rasulullah SAW yang menguras fisik dan pikiran yang terjadi di bulan Ramadhan.

Sebutlah misalnya Perang Badar yang terjadi pada pertengahan Ramadhan tahun kedua Hijriyah dan peristiwa Fathu Makkah pada tahun kedelapan Hijriyah. Bahkan, sejumlah peristiwa bersejarah pada generasi setelahnya juga terjadi ketika bulan suci Ramadhan.

Berpuasa dengan hanya menahan dari semua yang membatalkan puasa disertai niat masih dalam kategori puasa formal yang hanya menggugurkan kewajiban. Tak jarang ada yang berpuasa, tetapi tetap melakukan perbuatan gibah, berkomentar, atau mengunggah hal di medsos yang tidak mencerminkan sikap sebagai orang yang sedang berpuasa.

Inilah yang diwanti-wanti Rasulullah SAW, “Betapa banyak yang berpuasa, tetapi hanya lapar dan dahaga yang diperoleh dari puasanya.”

Orang yang berpuasa seharusnya juga menghindari segala yang dapat mengurangi keutamaan puasa kita meski tidak membatalkan, sehingga kualitas puasanya juga menghantarkan kepada ketakwaan sejati.

Uang Suami Itu Uang Istri?

Benarkah pendapatan suami juga menjadi milik istri, sedangkan uang istri itu miliknya sendiri?

SELENGKAPNYA

Semua Ada Harganya

Semua ada harganya, tak ada satu perbuatan tanpa ganjaran di hadapan manusia maupun Allah SWT.

SELENGKAPNYA

Memakmurkan Masjid Kampus UGM

Masjid Kampus UGM ini dimakmurkan dengan berbagai kegiatan.

SELENGKAPNYA