Jaket Merah | Daan Yahya/Republika

Sastra

Jaket Merah 

Cerpen Pandu WS

Oleh PANDU WS

Setiap kali hendak berangkat ke tempat kerja, ayah selalu berteriak meminta ibu mengambilkan jaket merah. Padahal, ada beberapa jaket lain yang sengaja dibelikan ibu untuk ayah. Tapi, jaket-jaket selain jaket merah itu tak pernah sekali pun disentuh. Jika ibu menyodorkan jaket lain, ayah marah dan memaki-maki ibu.

Jaket ayah itu berbahan kulit dengan kerah shanghai. Terdapat saku ritsleting di kanan dan kirinya. Jaket kulit biasa. Aku tak ingat kapan ayah pertama kali mengenakan atau membeli jaket tersebut. Seingatku, jaket itu sudah ada di rumah kami sejak dulu. Kemungkinan ayah sudah memilikinya sebelum aku lahir.

Aku belum pernah melihat ayah memakai jaket lain. Saat jaket merahnya basah, ayah tetap akan mengenakannya. Kalau tidak, ayah akan menunda urusan atau pekerjaannya sampai jaket merahnya kering. Kalau ada yang robek atau rusak, ayah akan memperbaikinya sendiri nyaris sempurna seperti semula.

Satu hal lagi tentang jaket ayah itu, aromanya selalu wangi. Aku tidak tahu jenis aroma apa, tapi dugaanku semacam jenis kayu yang harum. Aromanya sangat kuat, khususnya pada satu hari pada hari Kamis setiap bulannya. 

 
Saat jaket merahnya basah, ayah tetap akan mengenakannya.
 
 

Pernah aku bertanya pada ibu soal jaket merah, dari mana dan kenapa ayah selalu memakainya. Ibu tidak menjawab sama sekali. Dia justru menyuruh agar aku tidak menanyakannya lagi.

Sejak saat itu aku pun tak pernah memikirkan jaket merah ayah. Sampai suatu hari jaket merah tersebut tiba-tiba hilang. Ayah menduga pembantu kami yang menghilangkan. Tapi, pembantu kami menyanggah tuduhan tersebut.

Selama beberapa hari, ayah seperti orang linglung dan selalu murung. Dia seolah kehilangan semangat hidup. Ayah kemudian jatuh sakit. Pembantu kami pun sudah berkali-kali meminta maaf karena merasa dirinya teledor. Karena merasa kasihan dengan kondisi ayah, dia bahkan menawarkan ganti rugi uang. Sayang, seandainya solusinya semudah itu, kami tentu tidak perlu pusing.

Peristiwa tersebut membuatku berpikir lagi tentang jaket merah ayah. Bagaimana mungkin batas semangat hidup begitu tipis. Hanya ditentukan oleh sebuah jaket usang. 

Satu bulan lebih ayah terbaring di tempat tidurnya. Kondisinya terus memburuk. Badannya semakin kurus. Ayah memang terbilang kurus. Sebelumnya, lipatan kulit dan lekuk tulang sudah sangat terlihat, tapi tidak seperti saat ini. Tulang-tulang sendinya pun kini semakin terlihat menonjol.

 
Selama beberapa hari, ayah seperti orang linglung dan selalu murung.
 
 

Ayah menolak segala macam obat yang diberikan ibu, apalagi datang ke dokter atau rumah sakit. Ayah sangat tahu pasti apa yang dibutuhkannya: jaket merahnya. Ibu pun tidak berani memaksa ayah. Yang kami lakukan hanya satu, terus mencari jaket ayah dan berharap itu ada di suatu tempat.

Tidak terhitung berapa kali sudut rumah kami sisir dan isi rumah kami bongkar. Halaman, gudang, tempat kerja ayah, warung langganan ayah, binatu tempat kami kadang mencucikan baju, hingga tempat pembuangan sampah umum pun kami datangi. 

Hampir setiap rumah tetangga kami ketuk untuk menanyakan apakah mereka melihat atau menemukan jaket tersebut. Saat mengendarai motor, berangkat maupun pulang sekolah, mataku lebih sering menelusuri bahu-bahu jalan berharap jaket itu teronggok di suatu tempat di sisi jalan.

Aku dan ibu sudah putus asa. Kalau bukan karena melihat kondisi ayah, kami pasti berhenti mencari. Akhirnya, kami berulang-ulang mencari, meski di tempat-tempat yang sama. Hingga suatu waktu aku sadar ada satu tempat yang sepertinya belum pernah aku periksa. Lemari ibu.

 
Hampir setiap rumah tetangga kami ketuk untuk menanyakan apakah mereka melihat atau menemukan jaket tersebut.
 
 

Tentu lemari ibu sudah dicari oleh ibu. Aku yakin. Namun, entah kenapa ada dorongan kuat bahwa aku harus memeriksa langsung lemari ibu. Aku akan melakukan scanning cepat saja.

Pagi hari setelah sembahyang Subuh aku masuk ke kamar ayah-ibu. Antara fajar hingga pukul 6.30 adalah jam tersibuk ibu. Dia mencuci, belanja ke pasar dekat rumah, lalu memasak di dapur. Aku baru saja mendengar pintu pagar terbuka yang artinya ibu baru saja berangkat ke pasar. Sementara bagi ayah, ini adalah waktu paling lelap. Ayah selalu sulit tidur malam sejak sakit.

Aku membuka lemari kayu yang tingginya tidak lebih tinggi dari tinggiku. Ada tiga rak. Aku sedikit menunduk untuk menyisir rak tengah dan bawah. Jaket merah tidak terlihat di lemari tersebut. Namun, samar-samar aku mencium aroma wangi yang biasanya aku cium dari jaket ayah. Aku tertegun. Jaket itu ada di sini sebelumnya. Aku yakin. 

Aku pun urung menutup lemari ibu. Aku mengambil posisi jongkok untuk bisa lebih mengamati satu per satu lapis pakain di lemari ibu. Tidak ada jaket merah. Namun, aku melihat sebuah map besar ada di bawah tumpukan baju. Ada gambar kecil terlihat di ujung map. Tak butuh waktu lama, aku langsung mengenali gambar tersebut. Logo salah satu rumah sakit. Ini adalah map rekam medis.

 
Namun, samar-samar aku mencium aroma wangi yang biasanya aku cium dari jaket ayah.
 
 

Dadaku bergetar. Rekam medis. Seumur-umur, aku belum pernah tahu ayah maupun ibu ke rumah sakit. Apalagi sampai ada rekam medis seperti ini. Ayah adalah orang yang sangat percaya pada hal-hal di luar logika. Untuk urusan pengobatan saat sakit, ayah lebih suka pengobatan cara lain, orang menyebut alternatif atau klenik. 

Bagi ayah, segala macam sakit adalah akibat adanya “serangan” atau “gangguan” dari “yang tidak terlihat”. Kebalikan dengan ayah, menurutku ibu lebih rasional. Saat sakit ibu akan membeli obat atau memeriksakan diri ke bidan terdekat seperti orang lain. Ibu juga tidak percaya dengan hal-hal berbau klenik. Dapat dibilang ibu lebih agamais: sembahyang lima waktu dan membaca kitab suci.

"Rekam medis milik siapakah ini"

Aku membuka isi map. Nama pasien "Wirya Sucipta". Ini adalah rekam medis ayah. Aku tidak paham isinya. Rekam medis menunjukkan tanggal 17 Februari, dua bulan yang lalu.

Seketika aku ambil ponsel di saku dan memfoto lembaran rekam medis tersebut. Aku kembalikan map seperti posisi semula dan bergegas keluar. Aku segera memakai seragam, mengganti celana pendek dengan rok, lalu berangkat ke sekolah.

Dari Bu Lasmi, petugas puskesmas yang membina UKS sekolah, aku tahu bahwa ayah menderita sakit serius. Bu Lasmi tidak langsung memberitahuku. Dari luar pintu UKS, aku mencuri dengar pembicaraannya dengan seorang guru pembina setelah aku memperlihatkan foto rekam medis itu pada Bu Lasmi. Aku pun mendengar bahwa Bu Lasmi mengucapkan sesuatu yang samar-samar terdengar seperti “tinggal menunggu”. 

 
Aku pun mendengar bahwa Bu Lasmi mengucapkan sesuatu yang samar-samar terdengar seperti “tinggal menunggu”.
 
 

Anak sekolah menengah pertama sepertiku tentu tidak tahu apa-apa soal medis. Tapi, dari percakapan mereka aku menangkap bahwa penyakit ayah mematikan dan itu berkaitan dengan otak. Kalimat “tinggal menunggu” pun tidak mungkin diartikan lain sangat jelas bahwa itu terkait umur ayah. 

Ayah pasti sudah lama merasakan sakit. Kemudian ibu mengajak ayah memeriksakan diri ke rumah sakit. Ibu sudah tahu sakit yang diderita dan dokter juga sudah memberi tahu ibu soal umur ayah. Kemungkinan ibu menyembunyikan itu dari ayah.

Aku memperhatikan lagi foto rekam medis ayah di ponsel. Tak ada yang aku pahami kecuali data ayah dan tanggal rekam medis. “Tunggu. Tanggal ini. Rekam medis ini keluar lima hari sebelum jaket ayah hilang.“

Aku jadi berpikir bahwa ibulah yang menyembunyikan jaket merah itu selama ini. “Apakah ibu berniat memperparah penyakit dan mempercepat kematian ayah. Apa ibu tidak kasihan kepada ayah? Semenjak jaketnya hilang, kondisi ayah terus memburuk. Bukankah seharusnya ibu melakukan apa pun supaya ayah bahagia dan senang pada momen-momen seperti ini.” Berbagai pikiran dan keheranan pun berkecamuk di pikiranku.

 
Matanya terpejam tapi mulutnya bersuara lirih.
 
 

Aku pulang sekolah dengan perasaan gamang. Sesampainya di rumah, aku melihat ayah masih di atas tempat tidur. Matanya terpejam tapi mulutnya bersuara lirih. “Ayah mau aku ambilkan apa? Minum? Apakah ayah lapar? tanyaku pada ayah. Ayah tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala. 

Aku mendatangi ibu yang tampaknya sedang istirahat di ruang keluarga masih mengenakan mukena sembahyangnya. Kulihat ada sisa keringat tipis di dagunya. Dia pasti sangat lelah. 

“Bu, maaf. Tadi pagi saat ibu keluar. Aku mencoba mencari-cari jaket ayah lagi, aku coba mencari di lemari ibu. Aku menemukan rekam medis ayah”.

Ibu tampak kaget. Dia diam sejenak untuk mengatur napasnya. Tiba-tiba air mata menetes di wajahnya. 

 
Ibu tampak kaget. Dia diam sejenak untuk mengatur napasnya. Tiba-tiba air mata menetes di wajahnya.
 
 

Ibu akhirnya memberi tahu bahwa ayah sudah merasakan sakit cukup lama di kepalanya. Ibu membujuk ayah ke rumah sakit dan ayah menyetujui. Setelah ayah diperiksa di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ibu harus terus berdoa dan bersemangat.

Ibu tahu maksud dokter bahwa umur ayah tidak lama. Ibu pun tahu bahwa umur ayah bisa jadi hanya beberapa bulan sebab beberapa saudara ibu pun pernah menderita penyakit yang sama. Ibu tidak memberitahukan itu pada ayah. Lagi pula, menurut ibu, ayah juga tidak akan percaya dengan dokter. 

Benar dugaanku bahwa ibu menyembunyikan jaket ayah. Kata ibu, jaket merah ayah adalah jaket biasa. Tapi, ayah menyembunyikan sesuatu di jaket itu, di balik kain furing bagian dalam jaket. Ibu tidak pernah melihat apa itu, tapi ayah yakin bahwa itulah yang selama ini menjaganya, melindungi, dan membuat urusan-urusan ayah lancar. 

Dengan bibir bergetar sembari mengatur napas ibu berkata bahwa kalau memang ini waktunya ayah harus “dipanggil”, Ibu tidak mau di penghujung hidupnya ayah terus bergantung pada benda itu. Ibu berharap ayah “kembali” dan “menghadap” kepada-Nya  dengan patut. Saat itu, tak terasa air mataku ikut menetes. 

Ikhtiar Indonesia Mencegah Perang Irak

Pada awal 2003, marak aksi menentang serangan AS ke Irak.

SELENGKAPNYA

Secercah Cahaya untuk Pemuda Irak

20 tahun setelah perang para pemuda siap membenahi Irak

SELENGKAPNYA

Merintis Ilmu Hadis

Pembukuan hadis mulai berkembang pesat pada masa Dinasti Umayyah.

SELENGKAPNYA