Sejumlah pengungsi memanjatkan doa seusai melaksanakan shalat Maghrib di Kampung Gasol II, Desa Gasol, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (24/11/2022). Berdasarkan data dari BNPB, hingga hari Kamis (24/11/2022) jumlah pengungsi akibat gempa di | Republika/Thoudy Badai

Tuntunan

Tak Punya Rumah di Dunia, Rumah di Surga Pun Jadi

Rasulullah SAW menjelaskan, dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Tak semua orang bisa memiliki rumah pada zaman ini. Tingginya harga jual tanah dan bahan bangunan membuat rumah hanya bisa dimiliki orang dengan kemampuan finansial tinggi. Rumah dan apartemen di kota-kota besar seperti Jakarta sudah berharga ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Kaum papa dan para dhuafa dengan kemampuan pendapatan di bawah upah minimum provinsi hanya bisa gigit jari. Banyak di antara mereka yang hidup dari kontrakan ke kontrakan, dari satu petak ke petak lain.

Namun, Allah SWT yang memiliki sifat Rahman dan Rahim menjanjikan rumah istimewa di surga. Bagi Muslim yang menginginkan, terlepas dia dhuafa atau orang kaya, rumah itu bisa dipesan dari sekarang. Bukan lewat kredit perumahan rakyat (KPR) dari bank-bank ternama. Rumah itu hanya bisa dipesan lewat amalan istimewa.

Hadis yang diriwayatkan dari Ummu Habibah, istri Nabi SAW mengungkapkan, Rasulullah SAW bersabda "Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat tathawwu' selain shalat fardhu, sebanyak 12 rakaat dalam sehari semalam karena (mengharap ridha) Allah melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, (atau melainkan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga)"(HR Muslim).

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasa'i, 12 rakaat yang dimaksud tersebut ditafsirkan sebagai empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelah Zhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.

Meski demikian, ada juga ulama yang mengatakan, shalat sunah rawatib dua rakaat sebelum Zhuhur. Itu didasarkan dari sebuah dalil yang diriwayatkan Abdullah bin Umar.

 
...Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, (atau melainkan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga).
HR MUSLIM
 

 

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, "Aku senantiasa mengerjakan shalat 10 rakaat dari Rasulullah SAW, dua rakaat sebelum dan sesudah Zhuhur, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.

Itulah saat ketika tidak ada yang masuk menemui Nabi. Hafshah memberitahuku bahwasanya jika seorang muazin telah mengumandangkan azan dan fajar telah terbit. Beliau pun mengerjakan shalat dua rakaat."

Dari sebelum Subuh

Dikutip dari Shalat-Shalat Sunah Rasulullah karangan Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, shalat sunah sebelum Subuh termasuk shalat sunah rawatib yang sangat Rasulullah SAW anjurkan. Sampai-sampai, Rasulullah SAW menjelaskan, dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Nabi SAW selalu mengerjakannya serta tidak pernah meninggalkannya, baik saat berada di rumah atau dalam perjalanan. Hadis sahih dari Abu Maryam menceritakan, Rasulullah pernah dalam satu perjalanan malam.

Di ambang Subuh, Rasulullah singgah, kemudian tidur. Orang-orang pun ikut tidur. Mereka kemudian terbangun ketika matahari telah terbit menyinari. Rasulullah pun menyuruh muazin mengumandangkan azan. Kemudian, Nabi mengerjakan shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh.

Rasulullah pun mencontohkan untuk berbaring di atas lambung kanan setelah menunaikan shalat sunah itu. Meski demikian, apa yang dicontohkan itu bukan termasuk wajib, melainkan sunah.

Itu berdasarkan keterangan dari Aisyah yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi terbiasa berbincang-bincang dengan Aisyah. Jika tidak maka beliau berbaring, setelah shalat sunah tersebut hingga ikamah dikumandangkan sebagai tanda shalat.

photo
Seorang ustadz (kiri) tengah membetulkan gerakan Shalat kepada seorang muallaf (kanan) di Pesantren Pembinaan Muallaf, Yayasan Annaba Center, Tanggerang, Jawa Barat, Rabu (29/2). Liputan Khusus Dialog Jumat - (Republika/Agung Supri)

Meng-qadha shalat

Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita untuk istiqamah dalam mengerjakan ibadah, tak terkecuali shalat sunah rawatib. Nabi bahkan pernah meng-qadha atau mengganti shalat sunah qabliyah Zhuhur.

Syahdan, Kuraib, pembantu Ibnu Abbas, diutus untuk menemui Aisyah RA untuk menanyakan dua rakaat setelah shalat Ashar. Kuraib lantas diminta Aisyah untuk menemui Ummu Salamah. Dia pun mendapatkan penjelasan, Rasulullah memang pernah melarang mengerjakan dua rakaat setelah Ashar. Namun, Ummu Salamah sempat menyaksikan Nabi melakukan shalat sunah tersebut di dalam rumah. Ketika itu, dia sudah mengerjakan shalat Ashar.

Ummu Salamah kemudian mengutus seorang budak wanita untuk menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Ummu Salamah berpesan, dia pernah mendengar Rasulullah melarang kedua shalat ini.

Rasulullah SAW pun bersabda. "Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya tentang dua rakaat setelah Ashar? Sesungguhnya beberapa orang dari Abdul Qais mendatangiku untuk mengislamkan beberapa orang dari kaumnya sehingga aku tidak sempat mengerjakan dua rakaat setelah Zhuhur. Maka, yang kukerjakan adalah shalat tersebut" (HR Bukhari Muslim).

Hadis itu pun menunjukkan bahwa disyariatkan untuk meng-qadha shalat sunah rawatib setelah Zhuhur jika seseorang tidak sempat mengerjakannya.

photo
Istana (Ilustrasi). - (AP Photo/FL Wong)

Dikerjakan di Rumah

Rasulullah SAW juga mencontohkan untuk mengerjakan shalat sunah rawatib Maghrib di rumah kecuali bagi yang berhalangan. Penekanan itu pernah disampaikan Rasulullah SAW saat mendatangi bani Abdul Asyhal. Nabi mengerjakan shalat Maghrib bersama mereka.

Setelah mengucapkan salam, orang-orang lalu berdiri untuk mengerjakan shalat sunah. Dia pun berkata, "Kerjakanlah kedua rakaat ini di rumah kalian masing-masing." Diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasai.

Aisyah RA juga menjelaskan shalat sunah rawatib di rumah saat ditanya oleh Abdullah bin Syaqiq. Menurut Aisyah, Rasulullah SAW biasa shalat sunah empat rakaat di rumah sebelum shalat Zhuhur. Kemudian, Rasulullah berangkat dan mengerjakan shalat Zhuhur berjamaah di masjid.

Setelah itu, Nabi masuk rumah lagi dan mengerjakan shalat dua rakaat. Dia juga biasa mengerjakan shalat Maghrib bersama orang-orang lalu masuk rumah lagi dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Suara Hati Pramugari yang Dilarang untuk Berjilbab

Mereka mendapatkan informasi ketika wawancara rekrutmen awal bahwa jilbab belum boleh dikenakan.

SELENGKAPNYA

Seabad Observatorium Astronomi Modern Indonesia

Teleskop sepanjang 11 meter yang didatangkan dari Jerman dan mulai beroperasi sejak tahun 1928 tersebut menjadi alat pengamatan bintang terbesar serta menjadi ikon observatorium itu.

SELENGKAPNYA

Menggugat Dominasi Finansial Liga Inggris

Liga-liga di Eropa kesulitan bersaing finansial dengan Liga Primer

SELENGKAPNYA