Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Motivasi Alquran

Jabatan Itu Amanah (Bagian 2)

Amanah kepemimpinan hakikatnya adalah kelanjutan dari tugas kenabian.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Pidato kepemimpinan Abu Bakar pada saat dibaiat sebagai khalifah benar-benar penting sebagai pedoman politik terutama dalam mengelola demokrasi. Di antara pernyataanya adalah “dukunglah aku selama aku berbuat baik" (fa in ahsantu fa’aiinuuni). Sebaliknya, "jika aku berbuat buruk luruskanlah" (wa in asa’tu fa qawwimuunii).

Kata qawwimuuni (luruskanlah) menunjukkan sikapnya yang sangat terbuka atas saran dan kritik. Bahwa seorang pemimpin hadir bukan untuk diktator dan merasa paling benar sendiri, tetapi untuk menyediakan solusi yang terbaik bagi kemaslahatan rakyatnya.

Dalam kaidah usul fikih dikatakan bahwa semua tindak tanduk seorang pemimpin tidak lain hanyalah untuk membawa maslahat (tasharruful imam ‘alar ra’iyyati manuuthun bil mashlahati).

 
Dalam kaidah usul fikih dikatakan bahwa semua tindak tanduk seorang pemimpin tidak lain hanyalah untuk membawa maslahat.
 
 

Makna ini semakin jelas pada pernyataan Abu Bakar selanjutnya bahwa ia akan bersikap tegas kepada siapa yang kuat agar menggunakan kekuatannya dalam mendukung negara (fal qawwiyyu fiikum dhaiifun inddi hatta aakhdzal haqqa minhu). Sebaliknya bagi yang lemah, negara akan turun tangan untuk mengurus mereka dengan sebaik-baiknya (wad dhaiifu ffikum qawiyyun inddii hatta akhuzda lahu haqqahuu).

Sebuah sikap ksatria seorang pemimpin di mana ia terjun bukan dengan niatan busuk untuk menguasai kekayaan negara demi kepentingan pribadi melainkan untuk mendistribusikan kekayaan Allah SWT secara andil. Ini juga termasuk cerminan ayat dalam surah al-Maarij, "Walladziinahum liamaanatihim wa ‘ahdihim raa'uun"

Lalu Abu Bakar mengatakan, “Aiinuuni maa tah’tullaha wa rasuulahu" (Dukunglah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya.). Di sini ada ajakan yang mengandung pengakuan bahwa jabatan yang ia dapatkan sebenarnya dari Allah SWT, maka tidak boleh ia menggunakannya untuk melawan aturan-Nya.

Bahwa tugas kepemimpinan yang ia pikul selain harus berdasarkan undang-undang bumi, tetapi juga harus berdasarkan undang-undang langit agar tidak saja lebih aman, juga lebih berkah. Bila inti aturan bumi adalah untuk memelihara kemaslahatan, maka inti aturan langit adalah untuk menegakkan keadilan yang dengannya akan terantar kepada ketakwaan, (I’diluu huwa aqrabu littaqwaa) (QS al-Maidah [5]: 8).

Perintah i’diluu yang dihubungkan dengan kata takwa dalam ayat di atas menunjukkan bahwa ketakwaan seorang pemimpin tidak cukup hanya dibuktikan lewat jalur kepatuhan ritual, tetapi lebih dari itu harus juga dibuktikan melalui kasalehan sosial, ekonomi, dan politik.

 
Ketakwaan seorang pemimpin tidak cukup hanya dibuktikan lewat jalur kepatuhan ritual, tetapi juga melalui kasalehan sosial, ekonomi, dan politik.
 
 

Itulah mengapa dalam surah al-Baqarah kita menemukan ayat-ayat tentang hukum pidana berdampingan secara berurutan dengan hukum waris, puasa, dan haji. Itu bukti bahwa semua aturan Allah SWT antara satu dengan lainnya adalah sama, tidak boleh dibeda-bedakan. Apalagi hanya diambil sepenggal-sepenggal. Semua saling melengkapi dan saling menyempurnakan.

Dari sini jelas, makna perintah-Nya agar masuk Islam secara utuh (udkhuluu fis silmi kaafah). Ini tidak lain supaya keberkahan hidup yang Allah SWT sebarkan di alam semesta bisa dirasakan secara lengkap dan menyeluruh.

Inilah makna ayat "Wa maa arsalnaaka illaa rahmtal lil’aalamiin" (Tidaklah Kami mengutusmu Muhammad kecuali untuk menyebarkan rahmat bagi seluruh alam). Bahwa amanah kepemimpinan hakikatnya adalah kelanjutan dari tugas kenabian.

Karena itu dalam menjalankannya harus benar-benar ikhlas karena Allah SWT dan dengan berpegang teguh kepada aturan-Nya. Sebuah jalur kepemimpinan hakiki yang selama ini terbaikan.     

Denda karena Mahasiswa Terlambat Registrasi KRS

Bolehkah beri sanksi denda uang kepada mahasiswa yang terlambat mengisi KRS?

SELENGKAPNYA

Teguran dari Langit tentang Adab

Ada kejadian cara beradab di zaman Nabi SAW yang langsung ditegur oleh Allah SWT.

SELENGKAPNYA

Semua Ada Tempatnya

Semua ibadah ada tempatnya, jika dilakukan bukan pada tempatnya akan sia-sia.

SELENGKAPNYA