Meneladani Imam Tirmizi/Hadis (Ilustrasi) | DOK EPA Sohail Shahzad

Tuntunan

Meneladan Imam Tirmizi, Ulama Buta yang Tawadhu

Imam Tirmizi kerap dijadikan sumber pengambilan hadis para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.

Khazanah keilmuan Islam klasik mencatat sosok ini sebagai salah satu periwayat dan ahli hadis utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama lainnya.

Karyanya, Kitab Al Jami', atau biasa dikenal dengan kitab Jami' Tirmizi, menjadi salah satu rujukan penting yang berkaitan masalah hadis dan ilmunya, serta termasuk dalam Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang hadis) dan ensiklopedia hadis terkenal.

Sosok penuh tawadhu dan ahli ibadah ini tak lain adalah Imam Tirmizi. Dilahirkan pada 279 H di Kota Tirmiz, Imam Tirmizi bernama lengkap Imam Al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmizi.

Sejak kecil, Imam Tirmizi gemar belajar ilmu dan mencari hadis.  Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.

Dalam lawatannya itu, ia kerap mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru hadis untuk mendengar hadis, kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di antara gurunya adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud.

Selain itu, ia juga belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdurrahman, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni', dan lainnya.

photo
ILUSTRASI Imam Tirmizi. - (DOK BUKUREPUBLIKA)

 

Perjalanan panjang dalam pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan mengumpulkan hadis itu mengantarkan dirinya sebagai ulama hadis yang sangat disegani kalangan ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain.

Daya upaya mulianya itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tunanetra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada usia 70 tahun.

Di kemudian hari, kumpulan hadis dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama, di antaranya Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Abd bin Muhammad An-Nasfiyyun, Al-Haisam bin Kulaib Asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf An-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud Al-Mahbubi, yang meriwayatkan Kitab Al-Jami' daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula murid-murid Imam Tirmizi.

 
Banyak kalangan ulama dan ahli Hadis mengakui kekuatan dan kelebihan Imam Tirmizi. Kesalehan dan ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi.
 
 

 

Banyak kalangan ulama dan ahli hadis mengakui kekuatan dan kelebihan dalam diri Imam Tirmizi. Selain itu, kesalehan dan ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi. Salah satu ulama itu, yakni Ibnu Hibban Al-Busti, pakar hadis, mengakui kemampuan Tirmizi dalam menghafal, menghimpun, menyusun, dan meneliti hadis, sehingga menjadikan dirinya sumber pengambilan hadis para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.

Sementara kalangan ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmizi adalah sosok yang dapat dipercaya, amanah, dan sangat teliti. 

Kisah yang dikemukakan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Tahzib At-Tahzib-nya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah salah satu bukti kelebihan sang Imam.

"Aku mendengar Abu Isa At-Tirmizi berkata: 'Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah, dan ketika itu aku telah menulis dua jilid buku berisi hadis-hadis berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu aku bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian aku menemuinya. Aku mengira bahwa 'dua jilid kitab' itu ada padaku.

Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika bertemu dengannya, aku memohon kepadanya untuk mendengar hadis, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadis yang dihafalnya. 

Di sela-sela pembacaan itu, ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun. Melihat kenyataan ini, ia berkata, 'Tidakkah engkau malu kepadaku?'

Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. 'Coba bacakan!' suruhnya.

Aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi, 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?' Aku menjawab, 'Tidak.'

Kemudian aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadis yang lain. Ia kemudian membacakan 40 hadis yang tergolong hadis-hadis sulit atau gharib lalu berkata, 'Coba ulangi apa yang kubacakan tadi.'

Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai, dan ia berkomentar, 'Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.'"

Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal hadis, mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, Imam Tirmizi juga dikenal sebagai ahli fikih dengan wawasan dan pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fikih itu misalnya, dapat ditemukan dalam kitabnya Al-Jami'.

Kajian-kajiannya mengenai persoalan fikih ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya.

Sebagai tamsil, penjelasannya terhadap sebuah hadis mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut: "Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi Az-Zunad, dari Al-Arai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bersabda: Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya."

Bagaimana penjelasan sang Imam? "Sebagian ahli ilmu berkata: 'Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.'

Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: 'Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal 'alaih, baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil). Alasannya adalah tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim.

Menurut Ibnu Ishak, perkataan 'Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim' ini adalah 'Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, tetapi ternyata orang lain itu tidak mampu, tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu'," demikian penjelasan Imam Tirmizi.

Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya pemikiran fikih Imam Tirmizi dalam memahami nash-nash hadis, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.

photo
ILUSTRASI Puasa Asyura dikatakan dalam sebuah hadis, dapat menghapus dosa-dosa - (DOK AP Anupam Nath )

 

Hingga meninggalnya, Imam Tirmizi telah menulis puluhan kitab, di antaranya: Kitab Al-Jami', terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi, Kitab Al-'Ilal, Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama'il an-Nabawiyyah, Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-Asma' wal-Kuna.

Selain dikenal dengan sebutan Kitab Jami' Tirmizi, kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan At-Tirmizi. Di kalangan muhaddisin (ahli Hadis), kitab ini menjadi rujukan utama selain kitab sejenis lainnya dari Imam Bukhari ataupun Imam Muslim. 

Kitab Sunan Tirmizi dianggap sangat penting karena kitab ini betul-betul memperhatikan ta'lil (penentuan nilai) hadis dengan menyebutkan secara eksplisit hadis yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat ke-4 dalam urutan Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun, Hajji Khalfah (w. 1657), kedudukan Sunan Tirmizi berada pada tingkat ke-3 dalam hierarki Kutubus Sittah. Tidak seperti kitab Hadis Imam Bukhari, atau yang ditulis Imam Muslim dan lainnya, kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh siapa saja, yang memahami bahasa Arab tentunya.

 
Kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh siapa saja, yang memahami bahasa Arab tentunya.
 
 

 

Dalam menyeleksi hadis untuk kitabnya itu, Imam Tirmizi bertolak pada dasar, apakah hadis itu dipakai oleh fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak. Sebaliknya, Tirmizi tidak menyaring hadis dari aspek hadis itu dhaif atau tidak.

Itu sebabnya, ia selalu memberikan uraian tentang nilai hadis, bahkan uraian perbandingan dan kesimpulannya. Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: "Semua hadis yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan."

Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua hadis, yaitu: Pertama, yang artinya: "Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab takut dan dalam perjalanan."

Juga hadis, "Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia."

Hadis ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma' ulama menunjukkan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan shalat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fikih dan ahli hadis juga Ibn Munzir.

Beberapa keistimewaan Kitab Jami' atau Sunan Tirmizi adalah pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam hadis pokok (Hadis al Bab), baik isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang bertentangan sama sekali secara langsung ataupun tidak langsung.

Selain itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al Hadis (ilmu-ilmu hadis) adalah masalah ta'lil Hadis. Hadis-hadis yang dimuat disebutkan nilainya dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting.

Kitab ini dinilai positif karena dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah ilmu Hadis, khususnya ta'lil Hadis tersebut.

Meneladan Imam Tirmizi, Ulama Buta yang Tawadhu

Imam Tirmizi kerap dijadikan sumber pengambilan hadis para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.

SELENGKAPNYA

Imlek Tempo Dulu

Imlek dan Cap Go Meh masa lalu sangat meriah.

SELENGKAPNYA

Trik Menyimpan Bawang Bombay Hingga Enam Bulan

Bawang bombay yang sudah dipotong-potong sebaiknya disimpan di dalam kulkas.

SELENGKAPNYA