Pengunjuk rasa memegang kertas kosong dalam aksi unjuk rasa menentang karantina wilayah di Beijing, Ahad (27/11/2022). | AP Photo/Ng Han Guan

Internasional

Menakar Napas Gerakan Antipemerintah di Cina

Gerakan massa di Cina diperkirakan akan berdampak panjang.

OLEH KAMRAN DIKARMA, RIZKY SURYARANDIKA

Pada malam hari 24 November 2024 lalu, api menyala-nyala di Urumqi, ibu kota Daerah Otonomi Khusus Xinjiang di Cina. Gelora api tersebut melahap lantai 14 sebuah gedung apartemen di pusat kota, tak jauh dari pasar utama.

Deutsche Welle melaporkan, api dengan lekas melahap lantai-lantai di atasnya. Data resmi yang dilansir pemerintah menunjukkan 10 orang meninggal dan 9 lainnya terluka karena kebakaran itu. Namun, sejumlah aktivis mengeklaim korban meninggal bisa mencapai puluhan.

Kematian-kematian itu saja sudah cukup untuk menyebutnya sebagai tragedi. Namun, keadaan yang disebut memungkinkan kematian itu kini turut menjadi api yang menjalar ke seantero Cina.

Gambar-gambar yang beredar di media sosial Cina menunjukkan pintu-pintu yang digembok di apartemen tersebut membuat sukar para korban melarikan diri. Saat kebakaran terjadi, Urumqi memasuki tepat hari ke-100 karantina wilayah alias lockdown karena temuan penularan Covid-19 di wilayah itu.

photo
Sebuah perangkat keamanan yang dipasang pemerintah untuk memberi akses warga ke kompleks mereka di sebuah gerbang kawasan Urumqi, Daerah Otonomi Uyghur, Xinjiang, Cina, beberapa waktu lalu. - (REUTERS/Thomas Peter)

Pemerintah Cina masih bertangan besi soal Covid-19 saat itu. Mereka masih meyakini bahwa kebijakan nol-Covid-19 bisa efektif menghalau pandemi. Persoalannya, warga sudah lelah. Terlebih jika melihat orang-orang di bagian dunia lain sudah bebas ke sana-kemari, menyaksikan konser musik atau pertandingan sepak bola.

Aksi unjuk rasa memprotes penerapan karantina wilayah pun terjadi di sejumlah wilayah di Cina. Mulanya di Beijing pada Ahad (27/11/2022). Dalam aksinya, massa yang telah frustrasi dengan kebijakan nol-Covid pemerintah pusat tak segan menyeru Presiden Cina Xi Jinping untuk mundur.

Setidaknya 400 warga Cina menggelar unjuk rasa di tepi Sungai Liangma. Beberapa peserta aksi meneriakkan, “Kita semua orang Xinjiang! Pergilah orang Cina!” Dalam aksi tersebut, mereka pun menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Kepolisian Beijing mengawal jalannya unjuk rasa.

Di Shanghai, para pengunjuk rasa menggelar aksinya di Jalan Wulumuqi. Wulumuqi merupakan nama Mandarin untuk Urumqi. Selain menunjukkan dukungan untuk warga Urumqi, massa aksi turut mengecam pemerintahan Xi Jinping. “Xi Jinping mundur! Partai Komunis Cina mundur!” teriak beberapa warga Shanghai yang berpartisipasi dalam unjuk rasa, dilaporkan the Straits Times.

Unjuk rasa di Shanghai akhirnya berakhir bentrok dengan aparat kepolisian. Namun, pada Ahad sore, ratusan warga Shanghai berbondong-bondong mendatangi Jalan Wulumuqi lagi. Mereka membawa kertas kosong dan bunga, kemudian menggelar unjuk rasa senyap. 

Aksi unjuk rasa serupa dilaporkan turut terjadi di Wuhan, Guangzhou, Chengdu, dan Hong Kong. Momen protes yang meluas semacam itu jarang terjadi di Cina. Hal itu karena otoritas Negeri Tirai Bambu selalu berhasil menekan setiap pihak yang mencoba beroposisi atau berseberangan dengan pemerintah.

Protes-protes itu berlangsung lama. Pada Selasa (29/11/2022), unjuk rasa di Guangzhou diwarnai bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa.

Rekaman di media sosial menunjukkan polisi dengan pakaian hazmat putih mencengkeram perisai antihuru-hara untuk melindungi diri dari puing-puing dan kaca yang dilemparkan oleh pengunjuk rasa. Video lain menunjukkan beberapa orang digiring polisi dengan borgol.

photo
Warga menyampaikan solidaritas atas bencana kebakaran di Urumqi, Xinjiang, dalam unjuk rasa di Istanbul, Turki, beberapa waktu lalu. - (Khalil Hamra/AP Photo)

Protes-protes itu akhirnya berhasil memaksa Pemerintah Cina melonggarkan kebijakan Covid-19 pada Desember 2022. Untuk pertama kalinya sejak lama, warga berhasil memaksa pemerintah mengubah kebijakan mereka. Apakah gerakan yang juga menyoroti tangan besi Beijing itu akan berlanjut? 

Pakar politik dan hubungan internasional dari University of Western Australia, Profesor Jie Chen, mengiyakan. Menurut dia, gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Kertas Putih itu memiliki beberapa perbedaan dari gerakan serupa yang terjadi di Cina sejak tahun 1990. 

Hal itu disampaikan Prof Chen dalam seminar “Anti Government Protest in China: A Threat to the Regime?” yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) pada Senin (23/1). Prof Chen menyebut elemen-elemen dalam Gerakan Kertas Putih menantang legitimasi rezim Partai Komunis Cina (PKC) sekaligus bangkitnya diktator. 

"Gerakan Kertas Putih menandakan munculnya kebangkitan politik di kalangan masyarakat Cina generasi pasca-1990-an," kata Prof Chen dalam kegiatan tersebut. 

Konteksnya, Cina pernah mengalami gejolak unjuk rasa pemuda pada 1989. Aksi para pemuda di Lapangan Tiananmen itu ditindak dengan brutal oleh aparat keamanan pada Juni 1989. Pemerintah Cina tak pernah melansir korban jiwa dalam aksi-aksi itu, tapi jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan, bahkan seribu orang lebih. Selepas itu, tak ada lagi aksi besar-besaran di Cina, tapi pemerintah juga kemudian melonggarkan kebijakan ekonomi.

photo
Para pemuda melakukan aksi unjuk rasa menuntut demokratisasi di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 27 Mei 1989. - (AP Photo/Mark Avery)

Prof Chen juga mengatakan, kebangkitan politik kali ini telah membuat banyak pihak terkejut. Ia yakin Gerakan Kertas Putih terjadi tanpa dipengaruhi gerakan demokrasi di luar negeri.

Menurut dia, inspirasi gerakan tersebut berawal dari tayangan Piala Dunia di Qatar yang memperlihatkan kehidupan bebas tanpa lockdown ataupun masker. "Gerakan ini memang berawal dari protes anti-lockdown," ucap Prof Chen. 

Prof Chen memprediksi protes serupa akan lebih banyak terjadi sepanjang era pemerintahan Xi Jinping ke depan. Karena itu, ia meyakini, gerakan tersebut akan menjadi batu uji kemampuan dari kepemimpinan Cina. 

"Dapatkah tim kepemimpinan yang baru, yang terdiri atas Xi dan para kroninya itu, mengatasi tantangan dan krisis yang dihadapi Cina? Ini akan menjadi tantangan terbesar Xi dan para sekutunya dalam kepemimpinan Cina," ucap Prof Chen. 

photo
Pengunjuk rasa memegang lilin dan kertas kosong dalam aksi unjuk rasa menentang karantina wilayah di Beijing, Ahad (27/11/2022). - (AP Photo/Ng Han Guan)

Sementara itu, Ketua FSI Johanes Herlijanto menilai Gerakan Kertas Putih memperlihatkan kondisi internal di Cina masih dipenuhi berbagai permasalahan yang belum terselesaikan. Menurut dia, model pemerintahan otoriter PKC yang bersifat top-down dan mengandalkan pengawasan dan tekanan cenderung tidak laku. 

"Ternyata bukan model yang tepat untuk mengatasi berbagai persoalan yang timbul dalam masyarakat," ujar Johanes. 

Menurut, Johanes, protes di Cina memperlihatkan masih belum terpenuhinya kebebasan dan sistem pemerintahan yang demokratis. Kemudian, deretan protes warga di Cina yang tiba-tiba pecah dalam kurun enam pekan menunjukkan terganggunya stabilitas. 

"Stabilitas itu hanya membuktikan keras dan kuatnya pengawasan dan pembungkaman terhadap suara yang berbeda dari pemerintah," ucap pakar kajian Cina dari Universitas Pelita Harapan itu. 

Dalam Sepekan, Covid-19 Renggut Nyawa 12.658 Warga Cina

Kemenlu Cina meminta warganya mematuhi aturan prokes di negara tujuan.

SELENGKAPNYA

Gen Z Cina yang tak Lagi Percaya Pemerintah

Generasi Z adalah yang paling pesimistis dari semua kelompok umur di Cina.

SELENGKAPNYA