Pedagang menunjukkan beras kualitas premium di kiosnya di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (7/11/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Perlukah Impor Beras?

Tatkala harga beras naik bisa berbuntut panjang: terjadi perebutan di pasar dan panic buying.

KHUDORI, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia dan Komite Pendayagunaan Pertanian

Dalam beberapa hari ini, sejumlah media menyodorkan pertanyaan seragam ke saya: perlukah kita impor beras? Pertanyaan ini muncul bukan saja didasari proyeksi BPS pada 2022 ada surplus produksi beras 1,7 juta ton.

Lebih dari itu, pertanyaan ini didorong “balas pantun” Kementerian Pertanian (Kementan), Perum Bulog, dan Badan Pangan Nasional (NFA) ihwal cadangan beras pemerintah (CBP). Di satu sisi, yakin produksi surplus, Kementan mendorong tak impor beras.

Di sisi lain, karena CBP rendah Bulog mengaku dapat mandat mengimpor 500 ribu ton beras. NFA mencoba di tengah: jika pengadaan domestik kecil, opsi impor dibuka. Aksi “balas pantun” ini oleh publik dibaca tidak satunya otoritas merespons satu masalah yang sama.

Sebenarnya ketiganya menggunakan data dari sumber yang sama: BPS. Namun, saat menarasikan ke publik yang ditonjolkan interest masing-masing. Mestinya sebagai otoritas publik, narasi yang disampaikan meneduhkan, bukan malah memicu gaduh.

 

 
Mestinya sebagai otoritas publik, narasi yang disampaikan meneduhkan, bukan malah memicu gaduh.
 
 

 

Menurut BPS (Oktober 2022), produksi beras tahun ini diperkirakan 31,9 juta ton beras, lebih tinggi 1,7 persen dari 2021. Konsumsi 2022 mencapai 30,2 juta ton beras. Ada surplus 1,7 juta ton.

Surplus bisa lebih kecil atau lebih besar bergantung pada realisasi panen November-Desember 2022. Ditambah surplus kumulatif tahun lalu 5,2 juta ton beras, total 6,9 juta ton. Ini setara konsumsi beras 2,7 bulan.

Mengacu survei cadangan beras nasional, surplus ini tersebar di rumah tangga (67 persen), pedagang (12 persen), Bulog (10 persen), penggilingan (9 persen), dan horeka (2 persen).

Dari sisi produksi, karena mengacu data yang sama, tak ada perdebatan. Produksi beras surplus. Masalahnya, tak besar. Surplus tahunan pada 2019 sebesar 2,38 juta ton, menurun jadi 2,13 juta ton pada 2020, dan 1,31 juta ton pada 2021.

 

 
Karena surplus tak besar, isu manajemen stok/cadangan jadi krusial. 
 
 

 

Karena surplus tak besar, isu manajemen stok/cadangan jadi krusial. Surplus produksi beras hanya 6-7 bulan dalam setahun. Sisanya tak mencukupi kebutuhan konsumsi bulanan. Surplus produksi juga hanya terjadi di sembilan provinsi.

Per 6 Desember 2022, stok beras di gudang Bulog hanya 494.202 ton, yaitu terdiri atas 295.337 ton CBP (kualitas medium) dan 198.865 ton beras komersial (kualitas premium). CBP ini jauh dari jumlah yang diminta pemerintah: 1,2 juta ton.

Saat ini hingga Februari 2023 paceklik. Karena harga beras tetap tinggi, CBP untuk operasi pasar berpeluang mengalir deras. Mengacu operasi pasar Agustus-November 2022, Desember ini jumlahnya bisa sama: 195.094 ton. CBP akhir 2022 hanya 100.243 ton (295.337-195.094).

Pada Januari-Februari 2023, operasi pasar masih perlu guna meredam harga beras yang cenderung tinggi saat paceklik.

 
Karena harga beras tetap tinggi, CBP untuk operasi pasar berpeluang mengalir deras.
 
 

Saat itu, Bulog diperkirakan masih kesulitan menyerap gabah/beras domestik. Selain produksi terbatas, harganya tinggi. Demikian pula, menggenjot pengadaan beras dari produksi domestik saat ini hanya akan menambah salah urus.

Mendorong Bulog masuk pasar dan bersaing dengan pelaku pasar lain bakal mengerek harga beras. Impor untuk memastikan pemerintah punya cadangan memadai guna mengintervensi pasar.

Dengan CBP memadai, pemerintah punya instrumen siap siaga, juga mengirim sinyal ke pasar agar tidak ada pemain, apakah pedagang atau penggilingan padi yang menguasai stok besar untuk ‘bermain-main’ dengan keadaan saat ini.

Penggilingan padi dan pedagang melepas stok bergantung ekspektasi harga. Kalau harga beras terus meningkat, mereka menahan stok. Stok bakal dilepas menjelang panen raya akhir Februari 2023. Jika CBP tak memadai, pasar beras sulit dikelola pemerintah.

 
Di tengah proteksionisme, banyak eksportir pangan tak mudah mendapatkan beras.
 
 

Sebaliknya, dengan CBP memadai, penggilingan padi dan pedagang berpikir seribu kali untuk menahan stok. CBP yang memadai apalagi kualitasnya premium, diperhitungkan swasta dalam aksi spekulasi.

Kalau stok Bulog ‘kuat’ dan digunakan untuk intervensi pasar, harga beras turun. Masyarakat dan swasta segera melepas stok berasnya. Jika tetap menahan stok kala harga menurun dan panen raya tiba, mereka rugi.

Selain jumlahnya harus dihitung cermat, tak kalah penting memastikan beras impor datang tepat waktu. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso memastikan beras tiba Desember. Sekitar 200 ribu ton. Ia belum bisa 300 ribu ton sisanya bisa direalisasikan.

Di tengah proteksionisme, banyak eksportir pangan tak mudah mendapatkan beras. Maka, bisa dipahami NFA memutuskan beras komersial Bulog dikonversi ke CBP.Ini langkah taktis di tengah sulitnya menambah CBP baik dari produksi domestik maupun impor.

Lewat langkah ini pemerintah mengirim pesan ke publik, pasokan beras aman. Harapannya, harga beras stabil. Ini penting. Sebab, dalam struktur pengeluaran rumah tangga, terutama warga miskin, beras masih mendominasi: rerata 24 persen dari total pengeluaran.

Tatkala harga beras naik, biasa berbuntut panjang: terjadi perebutan di pasar dan panic buying. 

Berhubungan Intim tanpa Ejakulasi, Wajibkah Mandi Junub?

Jika terjadi kesepakatan bertemunya dua jenis alat kelamin yang berbeda, hal itu mewajibkan mandi janabah.

SELENGKAPNYA

Notaris Meng-imla'-kan Perjanjian

Perlu juga untuk memastikan bahwa yang dibacakan itu tersampaikan dan dipahami.

SELENGKAPNYA

Ombudsman: Impor Beras Harus Sesuai Aturan

Pemerintah perlu memperhatikan penetapan waktu impor agar tak merugikan petani.  

SELENGKAPNYA