Sepasang suami istri berjalan sendirian di Kansas City, Mo, taman saat matahari terbenam Senin, 13 April 2020, ketika pesanan tinggal di rumah berlanjut di sebagian besar negara itu dalam upaya membendung penyebaran virus corona baru. (Foto AP / Charlie R | AP

Fikih Muslimah

Berhubungan Intim tanpa Ejakulasi, Wajibkah Mandi Junub?

Jika terjadi kesepakatan bertemunya dua jenis alat kelamin yang berbeda, hal itu mewajibkan mandi janabah.

Jika sepasang suami melakukan hubungan intim pada waktu yang tidak dilarang, mereka diwajibkan untuk bersuci selepas berhubungan dengan cara mandi janabah.

Namun, bagaimana hukumnya jika saat melakukan hubungan intim tidak terjadi ejakulasi atau keluarnya sperma dari pihak suami? Dalam perkara hukum ini, pasangan suami istri perlu melihatnya secara lebih terukur.

Para sahabat saling berselisih pendapat tentang alasan diwajibkannya bersuci setelah melakukan hubungan intim suami istri (mandi junub). Sebagian dari mereka ada yang berpendapat wajib, sedangkan sebagian yang lain tidak mewajibkan mandi.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menyampaikan, menurut sebagian sahabat, diwajibkannya mandi junub karena ada pertemuan dua jenis alat kelamin yang berbeda. Terlepas apakah sampai mengeluarkan sperma (berejakulasi) atau tidak.

photo
Pasangan suami istri Warga Negara Indonesia Efrika Rita (kanan) dan Muhammad Iqbal menunjukkan mahar pernikahan saat mengikuti sidang isbat nikah di Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (27/10/2022). KBRI Kuala Lumpur menggelar sidang isbat nikah bagi 68 pasangan suami istri Warga Negara Indonesia di Malaysia untuk dapat mengesahkan status pernikahannya sesuai undang-undang pada 26-27 Oktober 2022. - (ANTARA FOTO/Virna Puspa Setyorini)

Pendapat itu dijadikan pegangan oleh para ulama Anshar, Imam Malik berikut murid-muridnya, Imam Syafii berikut murid-muridnya, dan beberapa ulama dari Mazhab Zhahiri. Sedangkan, sebagian ulama dari Mazhab Zhahiri lainnya berpendapat, yang diwajibkan bersuci hanya hubungan intim yang sampai ejakulasi.

Adapun pangkal perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama mengenai masalah ini, yakni akibat beberapa perbedaan hadis yang terkesan bertentangan. Untuk masalah ini, memang ada dua hadis yang sama-sama disepakati kesahihannya.

Menurut Al-Qadhi, yang dimaksud ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim atau minimal yang telah mereka sepakati.

Pertama, hadis dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya beliau bersabda, "Idza qa'ada baina syu'abiha al-arba'a wa alzaqa al-khitaanu bil-khitaani faqad wajaba al-ghusl." Artinya, "Jika ia telah duduk di antara empat sudut (selangkangan) anggota badannya, lalu dua alat kelamin menempel, wajib (hukumnya) mandi."

Adapun hadis kedua hadis Usman, sesungguhnya ia ditanya, "Bagaimana menurut Anda tentang seseorang yang menyetubuhi istrinya tapi ia tidak mengeluarkan sperma?" Usman menjawab, "Ia harus berwudhu seperti ia berwudhu untuk melakukan shalat. Aku (Usman) mendengar itu dari Rasulullah SAW."

Dijelaskan bahwa tentang kedua hadis tersebut terdapat dua pendapat di kalangan para ulama, yakni pendapat yang menasakh dan pendapat yang mengembalikan kepada kesepakatan jika terjadi pertentangan yang tidak mungkin ada upaya tarjih atau pengunggulan maupun jam'u atau mengompromikan.

photo
ILUSTRASI Seokor kupu-kupu. . (AP Photo/Carolyn Kaster) - (AP)

Menurut mayoritas ulama, hadis Abu Hurairah menasakh hadis Usman. Argumen atau hujjah mereka atas hal itu ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'ab. Dia berkata, "Sesungguhnya pada zaman permulaan Islam, Rasulullah SAW menjadikan hal itu sebagai rukhsah atau kemurahan. Kemudian beliau memerintahkan mandi." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Adapun para ulama yang menganggap bahwa kedua hadis yang bertentangan tersebut termasuk yang tidak mungkin dilakukan upaya tarjih atau pengunggulan maupun jam'u, maka harus dikembalikan kepada kesepakatan, yakni adanya air dari air (sperma).

Mayoritas ulama mengunggulkan hadis Abu Hurairah dari segi qiyas. Menurut mereka, jika terjadi kesepakatan bahwa bertemunya dua jenis alat kelamin yang berbeda, hal itu mewajibkan mandi janabah.

Mereka menguatkan pendirian tersebut dengan mengemukakan hadis Sayyidah Aisyah karena ia mengabarkan hal itu dari Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.  

Merekam Video Saat Berhubungan Intim, Apa Hukumnya?

Hadis tersebut diharamkan seorang suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya dari perkara jima'

SELENGKAPNYA

Suami Istri Menonton Film Porno, Bolehkah?

Allah SWT memerintahkan seorang mukmin untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan.

SELENGKAPNYA