Relawan menyiapkan hidangan makan malam untuk pemgungsi korban gempa Cianjur di posko relawan Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). | Republika/Thoudy Badai

Kisah Dalam Negeri

Cerita Para Relawan yang Rela Cuti demi Menolong

Menjadi relawan bencana merupakan kebanggaan karena membantu warga yang terdampak gempa.

OLEH RIGA NURUL IMAN, ARIE LUKIHARDIANTI 

Cici Airin Destriyani (20 tahun) warga Desa Panyusuhan, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan salah satu dari 6.555 relawan yang membantu sejak Cianjur dilanda gempa.

Mahasiswi tingkat akhir jurusan keperawatan Universitas Indonesia Maju (Uima) Jakarta ini secara sukarela bergabung dalam penanganan bencana sejak hari kejadian pada 21 November 2022 lalu hingga sekarang.

"Sejak kejadian saya langsung bergerak ke markas PMI Cianjur untuk membantu menolong warga yang terluka akibat terkena robohan bangunan akibat gempa," ujar Cici, Selasa (6/12).

Pada waktu itu banyak warga yang luka berdatangan dan harus mendapatkan perawatan pertama pada kecelakaan. "Bahkan saya ikut membawa korban untuk dirujuk ke RSUD R Syamsudin SH di Kota Sukabumi dengan menggunakan ambulans," kata Cici.

Ia ingat saat itu tidak membawa ponsel dan dompet. Cici bahkan sampai menahan lapar karena situasi di hari-hari pertama masih penuh kepanikan. Aktivitas Cici menjadi relawan tidak hanya pada saat kejadian. Melainkan berlanjut pada pemberian dukungan psikosial atau trauma healing kepada anak-anak di lokasi pengungsian di sejumlah posko PMI di Kecamatan Cugenang, Cianjur.

photo
Anak bermain rappeling saat kegiatan trauma healing korban terdampak gempa di Taman Prawitasari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Ahad (27/11/2022). Kegiatan yang digelar Rappeling Education (RED) tersebut ditujukan untuk mengurangi trauma pada anak akibat gempa bumi. - (Republika/Thoudy Badai)

Cici menyadari aktivitasnya membantu warga terdampak ini adalah panggilan hati dan tidak ada imbalan materi. '' Saya tengah membuat skprisi sebagai tugas akhir kuliah dan sementara memang tidak maksimal dilakukan,'' ungkap dia.

Di tengah kesibukannya menjadi relawan, Cici berupaya tetap menyusun skripsi agar bisa lulus tepat waktu. Cici menilai pengalaman dalam menangani korban luka dan memberikan dukungan psikosial kepada anak korban gempa merupakan pengalaman yang sangat berharga. Walaupun ia harus memberikan tenaga, waktu dan pikiran tanpa digaji ia mengaku senang karena telah menjadi panggilan hati sebagai seorang relawan kemanusiaan.

Relawan lainnya yang ada di lokasi bencana Agus Handri (39) dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Sukabumi sekaligus relawan Tagana. Ia mempunyai cerita lain dalam penanganan bencana. Agus menjadi bagian dari relawan yang menyiapkan makanan di dapur umum lapangan di Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

photo
Relawan menyiapkan hidangan makan malam untuk pemgungsi korban gempa Cianjur di posko relawan Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

"Saya menjadi relawan dalam membantu menyiapkan makanan bagi warga terdampak bencana," kata Agus. Ia izin dari tempat kerjanya di Kota Sukabumi agar bisa membantu penanganan korban gempa di Cianjur.

Dalam sehari ia bersama relawan lainnya menyiapkan makanan hingga sebanyak 1.500 paket makanan. Menu yang dimasak pun sesuai dengan keinginan warga misalnya menginginkan ikan asin dan sayuran serta bahan makanan lainnya. Sehingga warga mendapatkan pasokan makanan yang sesuai seleranya.

Diakui Agus, keterlibatanya dalam relawan bencana ini merupakan kebanggaan karena menjadi bagian membantu warga yang terdampak gempa. "Saya menikmatinya, meskipun izin beberapa hari tidak masuk kerja tapi ini demi kemanusiaan," cetus dia, yang sehari-hari bekerja di bidang rehabilitasi sosial Dinsos Kota Sukabumi.

Sementara itu relawan medis dari Jabar Quick Response (JQR) Muthia Utami, mengingat saat timnya masuk ke perkampungan yang belum terjamah bantuan. Seperti Desa Cibulakan, Desa Gasol, Desa Benjot dan Desa Barukaso. 

 “Kita relawan pertama yang datang kesitu pertama memberikan pengobatan, mereka mengungsi di persawahan gitu,” ujar Muthia. 

Karena sangat senang, kata Muthia, warga pun ikut membantu mendirikan tenda untuk medis. Walau jujur, kata Muthia, karena pertama kali turun menjadi tim medis, awalnya ia merasa khawatir. 

 “Kebencanaan ikut relawan tim medis ini baru pertama kali, pengalaman pertama awalnya khawatir tapi setelah melewati ya jadi terbiasa. Pengalaman ini tidak bisa dilupakan, saya sangat terketuk hati melihat warga tidur di tenda, ada yang nangis kehilangan sanak saudaranya,” paparnya.

photo
Relawan mengevakuasi warga yang sakit di area lokasi pengungsian di Lapang Sepak Bola Cariu, Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Rabu (23/11/2022). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Hal sama dirasakan juga oleh relawan lainnya Fauziah. Ia sempat ke pengungsian warga yang tinggal di kendang kambing. Warga terpaksa harus tinggal di pengungsian kambing karena lebih aman.

“Saya masih terbawa suasana melihat warga harus mengungsi ke pengungsian ternak kambing, sedih juga melihat warga tinggal di sana, bayi dan lansia yang terpaksa tinggal di sana,” kata Fauziah.

Data menyebutkan organisasi relawan yang tercatat dalam penanganan bencana hingga 3 Desember 2022 mencapai sebanyak 468 yang bekerja di 15 sektor. Sedang jumlah relawan sebanyak 6.555 orang dari berbagai daerah.

Memperkuat Kontribusi BPRS dalam Ekosistem Syariah

Saat ini, belum banyak BPRS yang masuk ke ranah pembiayaan properti.

SELENGKAPNYA

Rupiah Digital Terhubung dengan Mata Uang Global

BI belum memberikan batas waktu peluncuran rupiah digital.

SELENGKAPNYA

Giroud, Sang Raja Gol Prancis

Giroud sempat disindir Benzema bahwa kualitas mereka jauh berbeda bak mobil F1 dan gokart.

SELENGKAPNYA