Petugas berada di dekat rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) atau kereta untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, Rabu (9/11/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Ekonomi

KJCB Dipastikan Terintegrasi

Perpindahan antarmoda dan fasilitas bagi penumpang dibuat senyaman dan semudah mungkin.

JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan saat ini tengah menyiapkan dua layanan kereta api (KA) yang akan menghubungkan pusat kota Jakarta dan Bandung, Jawa Barat, dengan stasiun Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Nantinya, KCJB akan terkoneksi dengan LRT Jabodebek dan KA pengumpan (feeder).

"Hadirnya LRT Jabodebek dan KA feeder ini akan mempermudah konektivitas masyarakat untuk menuju stasiun KCJB melalui sistem transportasi yang bebas kemacetan dan tepat waktu," kata VP Public Relations KAI Joni Martinus dalam pernyataan tulis, Senin (5/12). 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kereta Api Cepat Jakarta Bandung (@keretacepat_id)

Dengan menggunakan LRT Jabodebek, kata Joni, penumpang cukup menempuh waktu selama 20 menit dari Stasiun LRT Jabodebek Dukuh Atas menuju Stasiun LRT Jabodebek Halim. Selanjutnya, penumpang dapat langsung berpindah dari Stasiun LRT Jabodebek Halim ke Stasiun KCJB Halim karena kedua layanan tersebut telah terintegrasi pada lokasi yang sama.

Untuk memudahkan masyarakat, Joni memastikan headway LRT Jabodebek pada rute Dukuh Atas-Halim pada jam sibuk dapat mencapai delapan menit sekali. Karena, KAI sudah menerapkan teknologi paling modern dalam operasional LRT Jabodebek.

"Masyarakat juga dapat menggunakan KRL Commuterline menuju stasiun yang terkoneksi dengan LRT Jabodebek, yaitu Stasiun Sudirman dan Cawang, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan menggunakan LRT ke Stasiun KCJB Halim," kata Joni.

 
 
Hadirnya LRT Jabodebek dan KA feeder ini akan mempermudah konektivitas masyarakat menuju stasiun KCJB melalui sistem transportasi yang bebas kemacetan.
 
 

Setelah menempuh perjalanan LRT Jabodebek selama 20 menit, perjalanan KCJB dari Stasiun KCJB Halim menuju Stasiun KCJB Padalarang akan ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Lalu, di Padalarang, KAI telah menyediakan layanan KA feeder yang jadwalnya menyesuaikan dengan jadwal kedatangan KCJB.

Joni menuturkan, waktu tempuh KA feeder KCJB untuk menuju Stasiun Bandung hanya 18 menit. Dengan menggunakan layanan kereta api yang sudah terkoneksi tersebut, total waktu yang dibutuhkan antarpusat Kota Jakarta dan Bandung sekitar satu jam perjalanan. 

"Dengan teknologi dan SDM terbaik, KAI akan memastikan seluruh perjalanan KA tersebut beroperasi tepat waktu, seperti layanan KAI yang sudah ada saat ini," ucap Joni.

KAI pun terus mempersiapkan sarana dan prasarana operasional KA feeder. Sarana KA feeder berupa lima rangkaian yang setiap rangkaiannya terdiri atas lima kereta. Dalam satu rangkaian, KA feeder berkapasitas 280 penumpang.

Joni menjelaskan, untuk menambah kenyamanan pelanggan, KA feeder dilengkapi fasilitas rak bagasi dan toilet. Sementara itu, untuk prasarana KA feeder, saat ini pembangunan fisik ruang tunggu khusus pelanggan KCJB di Stasiun Bandung dan Cimahi telah selesai 100 persen. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kereta Api Kita (@keretaapikita)

Sementara, progres di Stasiun Padalarang masih pembangunan. Joni menegaskan, KAI dan PT Kereta Cepat Indonesia-China (PT KCIC) saat ini sedang menyiapkan fasilitas dan standar pelayanan minimum untuk park and ride dan ruang tunggu KA feeder.

Joni menambahkan, KAI akan memastikan perpindahan antarmoda, antarperon, ketersediaan ruang tunggu, dan fasilitas yang disediakan untuk penumpang dibuat senyaman dan semudah mungkin. "Hal ini adalah upaya KAI menumbuhkan minat masyarakat untuk beralih ke transportasi umum melalui layanan kereta api yang saling terkoneksi dan terintegrasi," kata Joni. 

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (5/12), Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengemukakan, Kementerian BUMN terus mendorong penyelesaian proyek KCJB dan LRT Jabodebek sebagai salah satu pendukung ekosistem transportasi di DKI Jakarta. Proyek KCJB ditargetkan bisa beroperasi sesuai rencana sekitar Juni atau Juli 2023.

"Kemarin sudah disetujui PMN sebesar Rp 3,2 triliun (untuk proyek KCJB), sudah sepakati. Sekarang sedang diproses di Komisi XI untuk dicairkan akhir tahun," kata dia.

 
 
Ini memang tantangan besar, tapi ini lompatan teknologi. Semoga kalau berhasil, ini jadi kebanggaan Adhi Karya, KAI, dan INKA.
 
 

Tiko, sapaan akrabnya, berharap operasional KCJB bisa dilakukan secara simultan dengan LRT Jabodebek. Ia mengakui, operasional LRT Jabodebek memang tertunda dari yang seharusnya pada Agustus 2022 ke sekitar Juli 2023 karena sistem perangkat lunak (software) yang digunakan. LRT Jabodebek rencananya akan dioperasikan tanpa masinis.

"Ini memang tantangan besar, tapi ini lompatan teknologi. Semoga kalau berhasil, ini jadi kebanggaan Adhi Karya, KAI, dan INKA yang membangun sistem transportasi berteknologi LRT terkini, yaitu tanpa menggunakan masinis," ungkap Tiko.

Empat Macam Fitnah

Sekelompok pemuda yang berjuang menjaga imannya dan mengajak orang lain agar beriman kepada Allah SWT.

SELENGKAPNYA

Pj Gubernur DKI Ajak Dukung Normalisasi Ciliwung

Pemprov DKI akan melakukan normalisasi Kali Ciliwung sepanjang 4,8 kilometer.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Hukum Syariah Paroan Sawah?

Paroan sawah merupakan kerja sama antara pemilik sawah dan orang yang punya keterampilan.

SELENGKAPNYA