Pasien mengunakan aplikasi yang memudahkan asuransi di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (21/11/2022). | Tahta Aidilla/Republika

Opini

Literasi Asuransi

Banyaknya keluhan mengakibatkan isu negatif terhadap industri asuransi.

ERWIN SETIADI, Pegawai di Otoritas Jasa Keuangan

Asuransi salah satu industri keuangan tertua di Indonesia. Sejak 1859, industri ini masuk Indonesia dengan berdirinya perusahaan asuransi pertama, Nederlandsh Indisch Leven Verzekering En Liefrente Maatschappij (NILMIY), saat  ini dikenal PT Asuransi Jiwasraya.

Namun, menjadi ironi bagi industri asuransi yang telah beroperasi lebih dari satu abad itu, tingkat inklusi keuangan untuk industri asuransi berdasarkan Survei Nasional Literasi Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 hanya 16,63 persen.

Meski ada peningkatan dibandingkan SNLIK 2019 yang sebesar 13,15 persen,  ini menimbulkan pertanyaan mengapa asuransi belum menjadi produk keuangan yang memasyarakat? Bagaimana meningkatkan inklusi keuangan industri asuransi?

Terdapat dua penyebab utama, yaitu masih rendahnya tingkat literasi keuangan asuransi dan banyaknya masalah serta isu negatif. Tingkat literasi keuangan asuransi berdasarkan SNLIK 2022, yaitu 31,72 persen, meningkat dibandingkan SNLIK 2019 sebesar 19,40 persen.

 
Terdapat dua penyebab utama, yaitu masih rendahnya tingkat literasi keuangan asuransi dan banyaknya masalah serta isu negatif.
 
 

Dibandingkan tingkat inklusinya, angka ini memperlihatkan ada sebagian masyarakat yang sudah terliterasi, tetapi belum yakin memanfaatkan produk asuransi. Ini menunjukkan, tak mudah mendorong masyarakat menggunakan produk asuransi.

Terlebih bagi masyarakat yang belum terliterasi. “Jika sampai jatuh tempo tak ada klaim berarti rugi” ini salah satu pernyataan yang sering terlontar dari calon konsumen. Mereka menganggap dapat keuntungan ketika ada imbal hasil berupa laba secara finansial.

Sedangkan manfaat asuransi, memberikan perlindungan terhadap aset kita. Keuntungan yang didapat, yaitu rasa aman, nyaman, dan tenang dalam menghadapi risiko yang melekat atas aset dimaksud.

Marak isu negatif

Saat ini periode penuh tantangan bagi industri asuransi. Kemampuan menangani keluhan konsumen, termasuk menyikapi isu negatif terkait pelayanan perusahaan asuransi melalui media sosial, menjadi salah satu kunci menjaga kepercayaan masyarakat.

Permasalahan yang sering terjadi, komunikasi konsumen dengan agen asuransi dalam penawaran produk. Terjadi selisih paham soal produk yang ditawarkan, terutama ketentuan klaim dan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi atau disebut PAYDI (unit link).

 
Permasalahan yang sering terjadi, komunikasi konsumen dengan agen asuransi dalam penawaran produk.
 
 

Prioritas yang harus dilakukan, memasyarakatkan asuransi dan meningkatkan penerapan market conduct. Salah satu penyebab rendahnya literasi, yaitu minimnya informasi dan akses produk asuransi.  

Pemasaran produk menitikberatkan peran agen asuransi yang menawarkannya dengan cara hard selling. Segmennya, terbatas atau tidak bersifat inklusif bagi seluruh kalangan masyarakat. Maka itu, perlu perubahan paradigma dan proses pemasaran asuransi.

Produk asuransi yang semula kebutuhan tersier harus digeser menjadi kebutuhan primer, jadi ada  awareness aset primer yang dimiliki seseorang wajib dilindungi dan asuransi menjadi mitigasi risiko terbaiknya.

Kesadaran pentingnya asuransi harus ditanamkan sedari dini. Rata-rata calon konsumen baru mengetahui informasi produk asuransi saat usia kerja. Jadi, perlu ada program masif memperkenalkan asuransi sedari dini, khususnya usia pelajar.

Ini bisa dilakukan lewat kemitraan perusahaan asuransi dan stakeholder dalam hal ini Kemendibudristek dan sekolah, seperti program Satu Rekening Satu Pelajar yang  diterapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan.

 
Ini bisa dilakukan lewat kemitraan perusahaan asuransi dan stakeholder dalam hal ini Kemendibudristek dan sekolah.
 
 

Pemerintah bisa memberikan subsidi kepada pelajar yang disalurkan melalu premi asuransi dan pihak sekolah jadi pemegang polis para pelajarnya, sehingga ikut memberikan tanggung jawab sosial terhadap pelajar-pelajarnya yang mengalami kecelakaan diri.

Penerapan market conduct

Banyaknya keluhan mengakibatkan isu negatif terhadap industri asuransi, dampak dari lemahmya penerapan market conduct oleh perusahaan asuransi dalam menawarkan produk kepada masyarakat.

Melalui Peraturan OJK Nomor 6 /POJK.07/2022 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan, OJK mendorong industri jasa keuangan menerapkan //market conduct// dalam penawaran produknya.

Mencakup transparansi informasi produk, memastikan konsumen mengerti penjelasan mengenai produk serta didokumentasikan, dan penandatanganan perjanjian dipastikan dilakukan setelah konsumen memahami seluruh ketentuan produk yang berlaku.

Perlu jadi catatan bagi konsumen agar tidak terburu-buru membeli produk asuransi. Perusahaan asuransi wajib memberi ruang seluas-luasnya bagi konsumen menanyakan hal-hal yang perlu menjadi perhatian, terkait produk yang akan digunakan.

Terkait penawaran lewat telemarketing, perusahaan asuransi tak memaksa calon konsumen membeli produknya pada satu kesempatan, dengan menawarkan promo yang hanya berlaku saat itu juga. Ini membuat calon konsumen tak paham produk yang dibelinya sehingga risiko sengketa cukup besar pada masa mendatang. 

Menguji Konsistensi Maroko

Maroko memiliki peluang mengalahkan La Roja.

SELENGKAPNYA

Cegah Lonjakan Inflasi Pangan

Hampir seluruh komoditas bahan pokok utama mulai mengalami kenaikan harga.

SELENGKAPNYA

Piala Dunia dan 'Harga Selangit'

Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi turnamen sepak bola termegah sekaligus termahal yang pernah ada.

SELENGKAPNYA