IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

LGBT Kok Dibawa-bawa ke Piala Dunia

Masyarakat dunia, terutama di negara-negara Islam, mempunyai nilai sendiri, memiliki kebenarannya sendiri.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Bagi sejumlah negara Eropa, Piala Dunia di Qatar tampaknya bukan sekadar pertandingan sepak bola. Piala Dunia dimanfaatkan buat mempromosikan (baca: memaksakan) ’nilai-nilai Barat’, dibungkus sangat manis sebagai ‘penghormatan terhadap kebebasan, demokrasi, HAM, keragaman, dan toleransi’. Salah satunya LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Menurut laporan BBC News, tujuh kapten tim nasional Eropa — antara lain Inggris, Prancis, Jerman, dan Belgia — sedianya mengenakan ban lengan dengan logo pelangi ‘OneLove’ selama turnamen berlangsung. One Love merupakan lambang dari LGBT.

Namun, itu gagal mereka lakukan setelah Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mengeluarkan peringatan, kapten kesebelasan atau siapa saja yang mengenakan logo LGBT akan dikenai sanski.

 
Namun, itu gagal mereka lakukan setelah FIFA mengeluarkan peringatan, kapten kesebelasan atau siapa saja yang mengenakan logo LGBT akan dikenai sanski.
 
 

Asosiasi Sepak Bola Jerman mengatakan di Twitter, "Melarang kami mengenakan ban kapten sama saja dengan melarang kami berbicara. Kami berpegang pada posisi kami."

Itulah sebabnya muncul gambar anggota tim nasional Jerman meletakkan tangan di mulut menjelang pertandingan Jerman versus Jepang di penyisihan grup, sebagai respons larangan mengenakan logo pelangi "One Love".

Kendati demikian, FIFA masih mengizinkan kapten tim mengenakan lencana ‘Tanpa Diskriminasi’ selama periode turnamen. Ini dilakukan kapten tim Jerman, penjaga gawang Manuel Neuer, setelah pemakaian logo LGBT dilarang.

Namun yang dilakukan tim Jerman tak menggambarkan semua pemain di tim negara-negara Eropa. Kapten tim Prancis Hugo Lloris, misalnya. Ia menyatakan tidak akan meniru tim Jerman karena ingin menunjukkan rasa hormat kepada tuan rumah.

Dalam pertandingan melawan Jepang itu, tim Jerman ndilalah kok ya kalah. Bahkan tim Panser gagal dari penyisihan grup dan harus angkat koper dari Qatar lebih cepat.

 
Dalam pertandingan melawan Jepang itu, tim Jerman ndilalah kok ya kalah. Bahkan tim panser gagal dari penyisihan grup dan harus angkat koper dari Qatar lebih cepat.
 
 

Dalam sebuah kartun di media Timur Tengah digambarkan, setelah tim Jerman menutup mulut dengan jari, kini mereka benar-benar menutup muka karena kalah.

Yang perlu disadari masyarakat Barat, mereka bukan segalanya. Barat bukan sumber kebenaran, bukan pula asal dari segala kepastian. Mereka pun bukan pembuat nilai yang harus diikuti orang lain. Nilai-nilai Barat bukan pemandu dunia.

Bahwa masyarakat Barat — saya yakin tidak semuanya — menganggap LGBT lumrah, itu urusan mereka. Namun, yang menjadi catatan tebal, janganlah budaya Barat dikampanyekan apalagi dipaksakan untuk bisa diterima masyarakat lain.

Masyarakat di Qatar dan Timur Tengah, masyarakat negara Islam (berpenduduk mayoritas Muslim), masyarakat dunia lain termasuk masyarakat sepak bola dunia. Masyarakat dunia, terutama di negara-negara Islam, mempunyai nilai sendiri, memiliki kebenarannya sendiri.

Yang juga menjadi pertanyaan, mengapa Utusan Khusus AS untuk memajukan HAM kelompok LGBTQS+, Jessica Stern, harus ke Indonesia? Apalagi bertepatan dengan Piala Dunia di Qatar, yang mempersoalkan kampanye LGBT oleh sejumlah tim Eropa?

 
Masyarakat dunia, terutama di negara-negara Islam, mempunyai nilai sendiri, memiliki kebenarannya sendiri.
 
 

Menurut rencana, Jessica Stern ke Indonesia pada 7-9 Desember ini. LGBTQI+ merupakan kelompok masyarakat lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, intersex. Sedangkan tanda + menggambarkan perwakilan orang yang tidak mengidentifikasi gender atau orientasi seksual.

Indonesia memang menjunjung tinggi nilai demokrasi, HAM, keragaman, dan toleransi. Namun, bukan berarti kita bisa menerima nilai dari luar yang bisa merusak tatanan dan nilai luhur bangsa.

Karena itu, kita sepakat dengan sikap MUI lewat wakil ketua umumnya KH Anwar Abbas, yang menolak kehadiran Utusan Khusus AS untuk urusan LGBTQI+.

Anwar, sebagaimana dikutip CNN Indonesia, berpendapat Pemerintah Indonesia sepatutnya menolak tamu yang dianggap memiliki tujuan merusak nilai luhur agama dan budaya bangsa Indonesia.

Sebab, ajaran enam agama yang diakui di Indonesia tak menoleransi praktik LGBTQl+. Kita bersyukur Jessica Stern membatalkan kunjungannya ke Indonesia setelah ditolak berbagai kalangan. Bukan hanya oleh MUI, juga ormas Islam dan kelompok agama lain.

Tentu pembatalan kunjungan Jessica Stern ke Indonesia kali ini bukan akhir segalanya. Barat, terutama medianya, akan terus menguliti habis nilai di negara lain, yang dianggap bertolak belakang dengan nilai dan budaya Barat.

 
Pembatalan kunjungan Jessica Stern ke Indonesia kali ini bukan akhir segalanya. Barat akan terus menguliti habis nilai di negara lain, yang dianggap bertolak belakang dengan Barat.
 
 

Kembali ke Piala Dunia, kita pun bertanya-tanya tentang berbagai liputan negatif tentang Qatar, negara Arab, negara Timur Tengah. Menurut Aljazeera, hampir dua pertiga liputan di media Barat menjelang turnamen adalah negatif.

Fokus utama mereka mempersoalkan hak pekerja migran, LGBT, dan keputusan melarang minuman beralkohol di stadion. Bahkan konferensi pers Presiden FIFA Gianni Infantino, yang meminta seluruh tim peserta hanya fokus pada sepak bola pun menuai kritik dari media Barat.

Dunia Barat atau sebagian besarnya akan terus mengampanyekan bahkan memaksakan, nilai dan prinsip moralnya di bagian dunia lain. Namun, yang perlu diingat, setiap umat dan bangsa mempunyai nilai hidup dan budayanya sendiri, yang tidak bisa diganggu pihak lain.

Qatar berhasil menjadi tuan rumah bagi pesta olahraga paling akbar di dunia. Pesta olahraga yang menyatukan dan bukan yang memecah belah manusia, dalam ritual meriah dan kompetitif. Jadi mengapa harus membawa-bawa LGBT di pesta Piala Dunia?

Perlu Mempersiapkan Dana Darurat!

Kita mesti bisa mengalokasikan pendapatan kita untuk, misalnya, menutupi kebutuhan sehari-hari berapa besar.

SELENGKAPNYA

Tips Menjalankan Hidup Hemat Ala Syariat

Islam mengajarkan untuk senantiasa menghindari perilaku berlebihan.

SELENGKAPNYA

Mengembalikan Pesona Planetarium Jakarta

Planetarium Jakarta kini tenggelam di antara bangunan gedung-gedung tinggi.

SELENGKAPNYA