Petani menuntun kuda yang membawa karung berisi gabah di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (30/7/2021). Petani di daerah itu mengaku masih memanfaatkan kuda sebagai alat transportasi tradisional untuk mengangkut hasil panen mereka karena dinilai leb | ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/aww

Laporan Utama

Tips Menjalankan Hidup Hemat Ala Syariat

Islam mengajarkan untuk senantiasa menghindari perilaku berlebihan.

Majunya teknologi sekarang ini mengaburkan pandangan sebagian orang dalam menentukan barang yang perlu dibeli dan tidak. Akibatnya, barang yang sifatnya tidak penting, malah diusahakan untuk bisa dimiliki demi sebuah prestise. Perilaku hidup sederhana pun menjadi barang langka.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Darussalam (UNİDA) Gontor, Syahruddin, menjelaskan, Islam menuntun manusia pada kehidupan yang seimbang. "Tidak juga boros dengan belanja mengikuti hawa nafsu. Sejatinya, bila nafsu menjadi motor dalam pemenuhan kebutuhan, cenderung menjadi tidak seimbang," kata dia.

Syahruddin mengatakan, ada beberapa cara berhemat. Pertama, kendalikan hawa nafsu. Strategi efektif, misalnya, dengan membuat catatan keperluan berdasarkan skala prioritas. Kedua, menjalani kehidupan sederhana, yang bermakna sesuai keperluan. Sederhana juga berarti pemenuhan kebutuhan untuk hidup, hidup untuk memenuhi semua kebutuhan. Apalagi, didorong kesenangan semu duniawi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Ketiga, banyak bersyukur dan merasa cukup (qanaah). Seorang Muslim yang penuh rasa syukur cenderung mampu menahan diri dari hidup boros. Sebab, sejatinya orang kaya adalah yang tidak lagi merasa perlu.

Setan pun tidak mudah mengusiknya untuk asyik menghamburkan rezeki yang diperoleh dengan membeli berbagai barang yang tak perlu. Dengan jiwa yang selalu bersyukur, rasa cukup dapat memengaruhi perilaku konsumsinya yang lebih rasional.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Sholahuddin Al Aiyub memaparkan, Islam mengajarkan untuk senantiasa menghindari perilaku berlebihan (israf). Dalam Islam, seorang Muslim diajarkan untuk menjalani kehidupan yang sederhana dan menjauhi sikap israf tersebut.

"Kehidupan sederhana adalah yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Hidup sederhana lebih banyak terkait dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat dharuriyah dan hajiyat," ujar Kiai Aiyub menjelaskan.

Dalam Islam, ada kebutuhan yang masuk kategori dharuriyah, yaitu kebutuhan pokok atau biasa disebut kebutuhan primer. Di bawah dharuriyah, ada kebutuhan hajiyat atau kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tahsiniyat atau kebutuhan tersier. Kebutuhan primer antara satu orang dan yang lainnya, tentu sama.

photo
Pengunjung berbelanja di Mal Malioboro, Yogyakarta, Selasa (13/9/2022). - (Republika/Wihdan Hidayat)

Sedangkan, kebutuhan sekunder adalah penunjang bagi seseorang dalam menjalani aktivitas profesi dan sosialnya. Jika seseorang memiliki mobilitas yang tinggi, mungkin membutuhkan mobil. Namun, ada orang yang dengan mobilitasnya itu cukup dengan motor.

Perbedaan mencolok antara satu orang dan yang lain, ada dalam kategori kebutuhan tahsiniyat atau tersier. Standar seseorang terhadap pemenuhan kebutuhan tersier ini berbeda-beda. Karena itu, di sinilah pentingnya kesadaran bahwa barang tersier ini dibutuhkan atau tidak.

 
Seseorang mengikuti model tertentu yang dalam dunia modern menjadi sesuatu yang meningkatkan prestise. Nah, yang seperti ini tidak diajarkan dalam Islam.
 
 

Kiai Aiyub mencontohkan, tas sebetulnya masuk kebutuhan sekunder untuk menampung berbagai barang. Namun, bagi sebagian orang tertentu, tidak cukup hanya dengan tas dan fungsinya. Mereka merasa harus menggunakan tas dengan merek-merek tertentu sehingga ini sudah masuk kategori tersier.

Pada masa awal Islam, orang-orang dengan strata sosial tinggi menggunakan pakaian yang kainnya sampai terseret-seret menyapu tanah. Lalu, Nabi Muhammad SAW memasukkan mereka dalam golongan 'minal khuyala' yaitu orang-orang yang menyombongkan diri. Padahal, bahan pakaian yang digunakan semestinya cukup disesuaikan dengan kebutuhan.

"Padahal, secara fungsinya sudah mencukupi, tetapi karena untuk gengsi atau prestise, seseorang mengikuti model tertentu yang dalam dunia modern menjadi sesuatu yang meningkatkan prestise. Nah, yang seperti ini tidak diajarkan dalam Islam," tuturnya.

Kawin Lari, Bagaimana Hukumnya?

Kawin lari terjadi manakala hubungan sepasang kekasih tak direstui orang tua.

SELENGKAPNYA

Keunggulan Ekonomi Syariah Kurang Diketahui

Strategi komunikasi dan branding diperlukan di tengah semakin rendahnya budaya membaca. 

SELENGKAPNYA

Pantang Remehkan Amerika

Belanda dan Amerika Serikat akan bertemu pada babak 16 besar Piala Dunia.

SELENGKAPNYA