Sultan Osman I atau Osman Ghazi, sang peletak Dinasti Utsmaniyah. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

Utsmaniyah Periode Awal

Ekspansi wilayah kesultanan ini mulai pesat sejak era Orhan Ghazi.

Semenanjung Anatolia pada akhir abad ke-13 Masehi mengalami kekuasaan yang tersebar, alih-alih sentralistik. Dalam arti, tidak satu pun penguasa saat itu yang mengendalikan seluruh Asia Kecil untuknya seorang. Ketiadaan pusat itu disebabkan oleh sekurang-kurangnya dua faktor.

Pertama, imbas Perang Manzikert di Anatolia timur pada 1071 M. Dalam palagan tersebut, Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) menghadapi pasukan Turk-Muslim yang berbendera Seljuk. Kerajaan Nasrani yang beribu kota di Konstantinopel itu akhirnya menelan kekalahan.

Walaupun menang, orang-orang Turk kehilangan pemimpin besarnya, Alp Arslan, tidak lama kemudian. Negeri mereka lantas dilanda perpecahan yang cukup parah. Anatolia timur pun menjadi rebutan faksi-faksi yang bertarung demi kepentingan masing-masing.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 4 Desember 2022. Sejarah Mula Dinasti Usmani. - (Islam Digest/Republika)

Kedua, serangan bangsa Mongol. Balatentara dari Asia timur itu menyapu satu per satu negeri Islam di Asia tengah dan barat. Daulah Seljuk dan penerus panjinya, yakni Kesultanan Rum, pun ikut menjadi sasaran mereka. Pada 1258 M, pasukan Hulagu Khan membumihanguskan Baghdad. Peristiwa itu bukan hanya memukul Kekhalifahan Abbasiyah, tetapi juga dunia Islam secara keseluruhan.

Herbert Adams Gibbons dalam Jejak Awal Khilafah Utsmani (2020) menjelaskan, pada awal abad ke-14 M terdapat dua kerajaan Kristen di ujung timur laut dan tenggara Anatolia, yakni Trebozond dan Armenia Kilikia. Sementara itu, Bizantium dengan berbagai kemerosotan yang dialaminya tetap mempertahankan beberapa kota di sudut barat-laut Semenanjung, semisal Philadelpia (Alasehir), Nikomedia, dan Bursa.

Di luar daerah-daerah itu, berbagai kabilah yang majemuk menetap. Tidak sedikit di antara mereka yang berasal dari suku bangsa Turk, seperti halnya Dinasti Seljuk. Salah satunya adalah Kabilah Kayi yang dipimpin Suleiman Shah. Secara nasab, mereka berasal dari garis Turk-Oghuz.

photo
ILUSTRASI Pasukan Mongol tidak menghentikan ekspansi wilayahnya begitu mereka berhasil membumihanguskan Baghdad. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada 1220 M, Suleiman dan para pengikutnya berhasil menghindari serbuan Mongol yang menyerang Kurdistan. Mereka lalu hijrah ke Akhlath, sebuah kota di tepian Danau Van, Anatolia timur. Beberapa tahun kemudian, Suleiman wafat. Kedudukannya digantikan oleh seorang putranya yang bernama Ertugrul.

Ertugrul memimpin eksodus kabilahnya yang terdiri atas 100 keluarga dan 400 pasukan berkuda. Kali ini, tujuannya adalah Anatolia sisi barat-laut. Tepatnya adalah daerah yang menjadi basis perjuangan laskar-laskar Turk di dekat perbatasan Bizantium.

Sesampainya di sana, Ertugrul bergabung dengan pasukan Muslim. Dalam berbagai pertempuran, ia memberikan upaya yang terbaik untuk mencapai kemenangan. Karena itu, komandan pasukan Turk mengapresiasinya dengan memberikan sebidang lahan luas kepadanya.

Di atas tanah itulah, Ertugrul mendirikan permukiman untuk kaumnya. Hingga pada 1299 M, ia pun wafat. Putranya kemudian menggantikan posisi almarhum sebagai pemimpin. Namanya adalah Osman Ghazi. Sejarah mengenangnya sebagai pendiri Kesultanan Turki Utsmaniyah.

photo
Koin bergambar Ertugul - (DOK Wikipedia)

Tentu saja, ada peran besar Osman di balik transformasi Kayi, yang semula “hanya” kabilah suku Oghuz di Anatolia kemudian menjadi sebuah imperium Islam. Akan tetapi, catatan sejarah mengenai kehidupannya terbilang minim. Sejarawan Colin Imber dalam “The Legend of Osman Gazi” mengatakan, para peneliti mengibaratkan langkanya sumber-sumber historis tentang awal Kesultanan Utsmaniyah sebagai lubang hitam (black hole).

Mau tidak mau, kaum akademisi modern cenderung mengandalkan sumber-sumber dari otoritas Utsmaniyah yang ditulis pada abad ke-15 M atau 100 tahun pascakematian Osman. Memang, pada masa itu kerajaan tersebut mulai gencar membuat historiografi resmi. Hal itu terjadi khususnya sejak keberhasilan daulah tersebut dalam menaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 M.

Dalam sebuah karyanya, sejarawan Utsmaniyah Asikpasazade menuturkan legenda tentang Osman Ghazi. Dikisahkan, sang pendiri Wangsa Utsmaniyah tersebut berguru kepada dan sekaligus menjalin persahabatan dengan Syekh Edebali. Sufi itu memiliki seorang putri nan jelita yang bernama Rabia Bala.

 
Akademisi modern cenderung mengandalkan sumber-sumber dari otoritas Utsmaniyah yang ditulis pada abad ke-15 M.
 
 

Pada suatu ketika, Osman bermalam di rumah mursyid tersebut. Dalam tidurnya, ia bermimpi menyaksikan terang cahaya rembulan yang terbit dari dada Syekh Edebali. Sekonyong-konyong, sinar putih itu lalu menyusup ke dalam dadanya sendiri. Keajaiban tidak berhenti begitu saja.

Sebuah pohon raksasa kemudian tumbuh dari tubuh Osman. Bayangannya menutupi seluruh penjuru muka bumi. Di bawah naungannya, hamparan pegunungan menjulang gagah.

Di sekitarnya, sungai-sungai mengalir dengan derasnya. Begitu banyak orang berkerumun untuk mengambil air minum dari sana. Aliran air sungai-sungai itu juga mencapai taman-taman dan mengisi kolam-kolam pancuran yang indah.

Osman pun terjaga dari tidurnya. Keesokan paginya, ia menuturkan mimpi yang luar biasa itu kepada Syekh Edebali. Sang guru kemudian berkata kepadanya, “Anakku, selamat! Allah akan menganugerahkan kepadamu sebuah kerajaan besar, yang akan kau wariskan kepada keturunanmu.”

Menurut Caroline Finkel dalam Osman's Dream: The History of the Ottoman Empire (2007), kisah tentang mimpi Osman Ghazi itu cenderung berfungsi sebagai mitos yang melatari berdirinya Kesultanan Turki Utsmaniyah. Mitos demikian seperti melegitimasi bahwa kekuasaan dinastinya adalah pemberian dari Allah SWT.

photo
Makam Osman Ghazi di Bursa, Turki. - (DOK WIKIPEDIA)

Osman memiliki dua orang istri, yakni Rabia Bala dan Malhun—putri seorang tokoh Turk, Omer Abdulaziz. Dari pernikahannya, ia dikaruniai enam putra. Namun, “hanya” dua anak yang tumbuh hingga mendewasa, yaitu Alauddin Pasha dan Orhan.

Alauddin cenderung menyukai peran sebagai ahli ilmu. Anak yang lahir dari rahim Rabia Bala itu memiliki kepandaian dan kebijaksanaan layaknya seorang cendekiawan. Sifatnya cukup berbeda dengan sang saudara tiri.

Adapun Orhan mewarisi bakat militer ayahnya. Buah hati Malhun itu pun tampil sebagai perwira yang cakap dalam memimpin pasukan. Sesudah wafatnya Osman pada 1324, dialah yang kemudian diangkat menjadi penerus takhta. Sejak itu, namanya lebih dikenal sebagai Orhan Ghazi. Sementara itu, Alauddin menjadi wazir.

 
Sejak itu, namanya lebih dikenal sebagai Orhan Ghazi. Sementara itu, Alauddin menjadi wazir.
 
 

Ketika Osman meninggal, wilayah Utsmaniyah mencapai seluas 16 ribu km persegi di Anatolia barat. Orhan meneruskan kebijakan ekspansif ayahnya. Berbagai ekspedisi penaklukan dilakukannya dengan sukses. Salah satu prestasi terbesarnya adalah menguasai Nikomedia pada 1327 M.

Prof Ali Muhammad ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah mengatakan, Sultan Orhan sangat terobsesi oleh hadis Nabi SAW mengenai takluknya Konstantinopel di bawah panji-panji Islam. Ia pun berikhtiar untuk mewujudkan nubuat Rasulullah SAW itu. Pertama-tama, dirinya menyusun langkah-langkah strategis guna mengepung jantung Kekaisaran Bizantium tersebut.

photo
Orhan Ghazi merupakan putra dari sang pendiri Dinasti Utsmaniyah Osman Ghazi adalah pioner pengelolaan wakaf di Turki - (DOK Wikipedia)

Putranya yang bernama Sulaiman kemudian ditugaskannya untuk memimpin pasukan. Mereka melintasi Selat Dardanela dan berhasil merebut sejumlah kapal milik Bizantium. Dengan armada tersebut, balatentara Utsmaniyah ini menjalankan misi perebutan beberapa benteng Romawi di dekat Konstantinopel. Namun, penerus takhta Orhan Ghazi itu kemudian gugur dalam sebuah pertempuran.

Tidak hanya sibuk di dunia militer untuk menggempur Bizantium, Orhan juga melakukan langkah-langkah reformatif dan pembangunan. Ia membangun banyak fasilitas publik, termasuk masjid, sekolah, dan akademi-akademi ilmu pengetahuan. Untuk setiap desa, terdapat madrasah. Pada setiap kota, dia mendirikan fakultas yang menjadi tempat pengajaran ilmu agama maupun umum.

 
Pada setiap kota, dia mendirikan fakultas yang menjadi tempat pengajaran ilmu agama maupun umum.
 
 

Menurut ash-Shalabi, dalam setiap pembukaan wilayah baru Orhan selalu mewujudkan tatanan masyarakat madani. Mereka difasilitasi untuk menjadi warga setempat yang terdidik, militan, serta berbudaya. Hal itu pada akhirnya semakin meningkatkan wibawa Kesultanan Utsmaniyah di mata negeri-negeri jiran.

Duet Orhan-Alauddin membawa kemajuan bagi negeri Muslim tersebut. Pemerintahan mereka mengutamakan keadilan dan stabilitas dalam negeri. Selain Nikomedia, berbagai kota berhasil direbutnya dari tangan Bizantium. Wilayah kekuasaannya sampai pada Semenanjung Gallipoli, Balikesir, Bergama, Bolu, dan Ankara.

Antara tahun 1341 dan 1347, Bizantium dilanda perang saudara. John VI Kantakouzenos yang baru mengangkat dirinya sebagai kaisar baru ketakutan akan dikudeta. Mantan jenderal Romawi itu lalu bersekutu dengan Utsmaniyah. Hal itu dilakukan melalui pernikahan putrinya, Theodora, dengan Orhan Ghazi pada Januari 1346.

Begitu memasuki usia sepuh, Orhan lebih suka menghabiskan waktu dengan beribadah di masjid negara. Setelah lebih dari 35 tahun berkuasa, ia wafat pada 21 Mei 1361. Anak keduanya, Murad, kemudian menjadi penerus kepemimpinan atas seluruh Utsmaniyah.

photo
Sultan Osman I atau Osman Ghazi, sang peletak Dinasti Utsmaniyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Osman Ghazi, Leluhur Pemimpin Saleh

Dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof Ali Muhammad ash-Shalabi melukiskan sosok Osman Ghazi sebagai seorang pemimpin yang saleh. Pendiri Dinasti Utsmaniyah itu dekat dengan kaum ulama. Salah satu gurunya, Syekh Edebali, merupakan sahabat dan sekaligus mertuanya.

Mursyid tarekat itu memberikan kepadanya sebilah pedang. Senjata tersebut menyimbolkan bahwa kekuasaan merupakan amanah dari Allah SWT. Karena itu, pemerintahan yang diselenggarakannya mesti selaras dengan syariat agama. Hingga abad ke-16 M, “Pedang Osman” menjadi tradisi yang selalu dilakukan kalangan istana Utsmaniyah dalam momen pengangkatan raja baru.

Menjelang wafatnya, Osman memberikan banyak nasihat kebajikan kepada putra-putranya. Seperti dirangkum ash-Shalabi dari Mas’at Bani Utsman, berikut ini beberapa petuah bijak dari sang peletak fondasi Dinasti Utsmaniyah.

“Sungguh, saya akan berpindah ke haribaan Tuhan. Saya akan sangat bangga jika engkau menjadi sosok yang adil terhadap rakyat, berjihad di jalan Allah, dan menyebarkan syiar Islam.”

“Wahai anakku! Kuwasiatkan kepadamu agar dekat dengan alim ulama. Perhatikanlah mereka. Hormatilah mereka. Selalu bermusyawarah dengan mereka. Sebab, para ahli ilmu tidak akan pernah menyuruh kecuali pada kebaikan.”

 
Ketahuilah, wahai anakku, bahwa jalan kita satu-satunya di dunia ini adalah jalan Allah. Kita bukanlah orang yang mencari kedudukan dan dunia.
 
 

“Ketahuilah, wahai anakku, bahwa jalan kita satu-satunya di dunia ini adalah jalan Allah. Tujuan kita satu-satunya adalah menyebarkan agama Allah. Kita bukanlah orang yang mencari kedudukan dan dunia.”

Menurut ash-Shalabi, pesan-pesan itulah yang menjiwai tekad para penguasa Utsmaniyah, khususnya dalam periode awal dinasti Turk tersebut. Karena itu, mereka amat memerhatikan pembangunan peradaban Islam.

Tentunya, para sultan Turki berambisi merealisasikan sabda Nabi Muhammad SAW mengenai penaklukan Konstantinopel. Berabad-abad silam, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh para sahabat, “Manakah yang lebih dahulu jatuh ke tangan Muslimin, Konstantinopel atau Roma?” Maka beliau menjawab, “Kota Heraklius (Konstantinopel).”

Dalam sebuah kesempatan yang lain, Rasul SAW menegaskan, “Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya. Sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya.”

Hingga tutup usia, Osman tidak berhasil mewujudkan visi tersebut. Beberapa raja Ustmaniyah sesudahnya pun tidak ditakdirkan oleh Allah Ta’ala untuk membebaskan ibu kota Bizantium tersebut. Barulah pada medio abad ke-16 M, perkataan Nabi SAW terbukti menjadi kenyataan.

photo
Lukisan yang menggambarkan sosok Sultan Mehmed al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel pada 1453. - (DOK WIKIPEDIA)

Adalah Sultan Mehmed II yang berhasil menguasai Konstantinopel. Dengan menerapkan strategi yang brilian serta upaya-upaya yang pantang menyerah, ia dapat memasuki jantung Romawi Timur itu pada 29 Mei 1453 M.

Beberapa dekade kemudian, Utsmaniyah resmi menyandang titel kekhalifahan karena menguasai tiga tanah suci Muslim. “Impian Osman” terwujudkan.

Kawin Lari, Bagaimana Hukumnya?

Kawin lari terjadi manakala hubungan sepasang kekasih tak direstui orang tua.

SELENGKAPNYA

Tanwir Tetapkan 27 Calon Tetap PP Nasyiatul Aisyiyah

Muktamar NA diharapkan menghasilkan calon pemimpin muda ‘Aisyiyah pada masa depan.

SELENGKAPNYA

Keunggulan Ekonomi Syariah Kurang Diketahui

Strategi komunikasi dan branding diperlukan di tengah semakin rendahnya budaya membaca. 

SELENGKAPNYA