ILUSTRASI Bagian dalam kubah Masjid Suleiman di Turki. Dahulu, pendiri Turki Utsmaniyah dikisahkan bermimpi memiliki kerajaan yang menaungi dunia. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

Bangsa Turk Dalam Sejarah

Dinasti Utsmaniyah adalah sebuah fase historis bangsa Turk Muslim secara keseluruhan.

Daerah-daerah di Asia utara, tengah, dan barat merupakan rumah bagi banyak bangsa. Di antaranya adalah orang-orang Turk (Turkic), yakni rumpun kelompok etnis yang berbahasa Turkik. Suku-suku yang tergabung di dalamnya, antara lain, adalah Kazakh, Uzbek, Kirgiz, Uighur, Turkmen, dan Oghuz.

Pada pertengahan abad keenam Masehi, sejumlah suku bersatu untuk membentuk konfederasi pertama dalam sejarah bangsa Turk, yakni Kekhanan Gokturk. Dalam beberapa dekade kemudian, mereka dilanda perpecahan dan bahkan perang saudara. Pada 603 M, Gokturk pun terpecah menjadi dua bagian, yakni sisi timur yang beribu kota di Otuken (Mongolia) dan barat yang berpusat di Suyab (Kirgizstan).

Gokturk Barat bekerja sama dengan Romawi Timur (Bizantium) untuk melawan Imperium Sasaniyah. Melalui berbagai pertempuran, aliansi tersebut dapat merebut wilayah sekitar Sungai Amu Darya dari kendali kerajaan Persia tersebut. Sementara itu, Kekhalifahan Islam mulai menjadi kekuatan geopolitik baru di Asia barat.

Dari Jazirah Arab, para amirul mukminin terus memperluas wilayah kekuasaan. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, ekspansi Kekhalifahan mencapai negeri Iran. Pada 650 M, kaum Muslimin akhirnya berhasil menaklukkan Sasaniyah.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 4 Desember 2022. Sejarah Mula Dinasti Usmani. - (Islam Digest/Republika)

Jatuhnya Sasaniyah memuluskan jalan bagi syiar Islam ke Asia tengah, termasuk daerah aliran Sungai Amu Darya. Banyak warga Gokturk Barat yang mulai menerima Islam. Dakwah agama tauhid kian pesat di sana, khususnya sejak Bani Umayyah berhasil menguasai Samarkand.

Wangsa yang berpusat di Damaskus, Syam, itu kurang mendukung mobilitas sosial masyarakat non-Arab (mawali) di daerah-daerah taklukan. Barulah pada era Abbasiyah, kaum mawali dapat lebih berperan. Dari Asia tengah, semakin banyak orang Turk yang berdatangan ke Baghdad. Mereka kemudian mengisi berbagai profesi.

Pada 670, Gokturk Barat dikuasai Dinasti Tang. Kemudian, pada 751 M pecahlah Perang Talas yang memperhadapkan antara kerajaan Cina tersebut dan Abbasiyah. Kekhalifahan Islam ini berhasil memenangkan pertempuran.

 
Dari Asia tengah, semakin banyak orang Turk yang berdatangan ke Baghdad. Mereka kemudian mengisi berbagai profesi.
 
 

Sejak saat itu, semakin banyak orang Turk yang menjadi pendatang di Irak, pusat wilayah Abbasiyah. Mereka berasal dari berbagai status sosial, mulai dari budak, tawanan, hingga penduduk biasa.

Khalifah kedelapan Bani Abbasiyah, al-Mu’tashim Billah, mengawali perekrutan orang-orang Turk untuk menjadi pengawal pribadi di istana. Dalam perkembangan kemudian, semakin banyak sosok mawali Turk yang menempati berbagai posisi penting di pemerintahan. Pengaruhnya turut menentukan kebijakan negara. Bahkan, Abbasiyah sempat memindahkan ibu kota ke Samarra karena desakan para jenderal Turk.

Dominasi mawali Turk sangat kentara dalam kurun tahun 861-870 M. Para sejarawan menamakan periode tersebut sebagai Anarki di Samarra. Diistilahkan demikian karena Kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dilanda instabilitas politik yang dahsyat.

Tokoh-tokoh Arab yang menyandang titel khalifah—yakni al-Muntashir, al-Musta’in, al-Mu’tazz, dan al-Muhtadi—kehilangan daya kuasa. Mereka hanya menjadi “boneka” bagi faksi-faksi jenderal Turk yang saling berebut pengaruh.

photo
Situs peninggalan Kota Merv, yang pernah menjadi ibu kota Bani Seljuk. Kini, kota tersebut merupakan bagian dari wilayah Mary, negara Turkmenistan. - (DOK WIKIPEDIA)

Dinasti Seljuk

Sekitar 300 tahun sesudah runtuhnya Gokturk Barat, beberapa suku Turk mengonsolidasi kekuatan mereka di Asia tengah. Yang terkemuka di antaranya adalah kelompok etnis Oghuz. Mereka menempati daerah pesisir timur Laut Kaspia.

Kejayaan suku ini bermula dari pemimpinnya yang bernama Seljuk Beg. Ia memiliki pengaruh politik hingga ke wilayah Transoxiana. Salah seorang putranya bernama Mikail, yang memiliki anak yakni Tughril.

Pada akhir abad ke-10 M, Mikail meninggal dunia. Membawa serta para pengikutnya, Seljuk kemudian hijrah ke Jand. Saat menghuni daerah di kawasan Asia tengah itu, mereka mulai berpindah agama menjadi Muslim-Sunni.

Setelah Seljuk wafat pada 1009 M, Tughril menjadi kepala Suku Oghuz. Ia sangat piawai dalam memimpin pasukan. Salah satu misinya adalah merebut Baghdad dari kendali wangsa Buyah yang berhaluan Syiah. Keberhasilannya memulihkan status Abbasiyah sebagai daulah yang diperintah kaum Sunni.

Akan tetapi, khalifah tidak memiliki kekuasaan eksekutif yang besar. Pemerintahan Abbasiyah secara de facto berada di bawah kontrol Tughril. Inilah awal berdirinya sebuah dinasti Muslim yang berdarah Turk-Oghuz, yakni Bani Seljuk.

 
Pemerintahan Abbasiyah secara de facto berada di bawah kontrol Tughril. Inilah awal berdirinya sebuah dinasti Muslim yang berdarah Turk-Oghuz, yakni Bani Seljuk.
 
 

Pada 1062 M, Tughril meninggal dunia. Penerusnya adalah putranya yang bernama Muhammad. Di kemudian hari, sosok ini populer dengan gelar Alp Arslan, yang berarti ‘Singa Pemberani.’ Seperti bapaknya, pemimpin Turk-Oghuz ini merupakan seorang komandan militer yang andal.

Dengan upayanya, panji-panji Islam pun berkibaran di berbagai negeri, termasuk wilayah-wilayah yang semula dikendalikan Bizantium. Makkah dan Madinah pun dapat dibebaskan dari hegemoni Wangsa Fathimiyah yang berideologi Syiah. Alp Arslan memiliki putra dan sekaligus penerus takhtanya, yaitu Malik Shah.

Pada era keduanya, Seljuk mempunyai seorang perdana menteri yang bervisi besar, yakni Nizham al-Mulk. Ibnu Katsir memuji kemampuan sang wazir dalam mendukung jalannya pemerintahan.

“Ia (Nizham al-Mulk) adalah seorang pemimpin dengan perjalanan hidup yang luar biasa. Putranya (Imaduddin Zanki) menjadi yang pertama berjihad melawan Tentara Salib. Inilah keluarga yang meletakkan fondasi dan bibit kemenangan bagi generasi Shalahuddin, Zhahir Bibris, dan Qalawun dalam melawan Salibis.”

Bukan hanya di bidang militer, pembangunan pada masa Nizham juga meliputi ranah pendidikan. Ia berjasa besar dalam merintis universitas di berbagai kota, semisal Baghdad, Nishapur, dan Thus. Jaringan kampus itu dinamakan sebagai Madrasah Nizhamiyah.

photo
Peta kawasan Anatolia. Kini, daerah yang kerap disebut Asia Kecil itu meliputi Republik Turki. - (DOK WIKIPEDIA)

Dinamika Anatolia

Pada 1071 M, Bani Seljuk terlibat konflik dengan Bizantium. Kedua belah pihak bertemu di Lembah Manzikert, sebuah kawasan di sisi timur Semenanjung Anatolia. Dalam pertempuran ini, pasukan Alp Arslan berhasil meraih kemenangan.

Para sejarawan menganggap, Perang Manzikert mengawali senja kala kekuasaan Bizantium atas Anatolia. Bagaimanapun, orang-orang Turk baru menduduki sebagian jazirah tersebut sesudah wafatnya Alp Arslan pada 1072 M. Sekitar lima tahun kemudian, tampil seorang pemimpin dari kalangan Turkmen yakni Sulaiman bin Qutulmisy.

Sepupu-jauh Alp Arslan itu berhasil mendirikan kerajaan baru yang independen terhadap pemerintahan Malik Shah. Ia menamakan dinastinya sebagai Rum. Hal itu mengisyaratkan, ambisinya adalah menguasai seluruh Anatolia, termasuk Konstantinopel yang merupakan ibu kota Kekaisaran Romawi Timur.

photo
ILUSTRASI Manuskrip dari abad pertengahan yang menunjukkan sosok Alp Arslan. Sultan Bani Seljuk itu berhasil memulihkan kekuasaan Suni di Abbasiyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Malik Shah wafat pada 1092 M. Kilij Arslan selaku penerus Sulaiman bin Qutulmisy meneruskan ekspansi Kesultanan Rum hingga meliputi berbagai daerah Anatolia. Maka seiring dengan meredupnya Dinasti Seljuk, Rum menjadi penerus kejayaan bangsa Turk-Muslim dalam menghadapi Bizantium.

Walaupun sukses menghalau Pasukan Salib, Kesultanan Rum tidak mampu bertahan dalam mengantisipasi kekuatan militer Mongol. Dari Asia timur, balatentara Mongol dapat menyapu satu per satu wilayah Muslimin, termasuk Rum pada 1243 M. Jantung Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad, pun tidak luput dari tindakan mereka yang amat destruktif.

Sejak pertengahan abad ke-13 M, kondisi dunia Islam cukup porak-poranda akibat ekspansi bangsa Mongol. Namun, secercah harapan tetap bersinar. Misalnya, Dinasti Mamluk Mesir dapat membendung pasukan Mongol pada 1260 M dalam Perang Ain Jalut. Optimisme serupa juga datang dari kawasan Anatolia.

 
Sejak pertengahan abad ke-13 M, kondisi dunia Islam cukup porak-poranda akibat ekspansi bangsa Mongol. Namun, secercah harapan tetap bersinar.
 
 

Dari kalangan suku Oghuz-Turk setempat, lahirlah pemimpin yang bernama Atman. Itu merupakan pelafalan dalam bahasa Turkik untuk menyebut “Utsman.” Belakangan, sosok tersebut lebih populer dengan sebutan Osman Ghazi.

Tidak ada dokumen sejarah yang dapat memastikan, kapan tokoh itu dilahirkan. Yang jelas, dialah sang pendiri Dinasti Utsmaniyah, kerajaan Islam yang tegak di Semenanjung Anatolia. Bahkan, pada 1453 M wangsa Muslim tersebut merebut Konstantinopel sehingga mengakhiri riwayat Bizantium—sebagaimana telah dinubuatkan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis.

photo
Lukisan sosok Ertugrul, ayahanda pendiri Dinasti Utsmaniyah, Osman Ghazi. - (DOK WIKIPEDIA)

Osman Ghazi mewarisi darah pejuang dari para leluhurnya. Ayahnya, Ertugrul, memimpin kabilahnya di Anatolia barat. Dalam sebuah pertempuran, putra Sulaiman Shah itu membantu pasukan Seljuk dalam melawan Bizantium. Sesudah sukses merebut kemenangan, komandan Seljuk menghadiahkan sebuah kawasan permukiman setempat untuk pemimpin Oghuz tersebut.

Pada 1299 M, Ertugrul wafat. Sepeninggalan ayahnya, Osman menjadi pemimpin. Tahun itu pun dipandang sebagai awal berdirinya Dinasti Utsmaniyah.

Osman menerapkan strategi perluasan wilayah untuk memukul mundur kekuatan Bizantium. Reputasinya semakin bersinar sejak berhasil merebut Phrygia, dekat Kota Eskisehir, dari tangan kerajaan Kristen tersebut. Selanjutnya, pasukan Osman dapat membebaskan dataran yang subur di Bithynia.

 
Untuk mencapai tujuannya sebagai penguasa, ia tidak melulu bertempur. Adakalanya, taktik diplomasi dijalankannya.
 
 

Untuk mencapai tujuannya sebagai penguasa, ia tidak melulu bertempur. Adakalanya, taktik diplomasi dijalankannya, terutama dalam menggalang kekuatan kelompok-kelompok lokal Anatolia yang tertindas di bawah dominasi Bizantium. Pada saat yang sama, imperium Nasrani tersebut terus mengalami degradasi, khususnya sejak kekalahan dalam Perang Manzikert.

Semula, negeri yang dipimpin Osman disebut sebagai beylik, yang polanya menyerupai sebuah emirat. Pusatnya berada di Sogut, sekitar 150 km dari arah selatan Konstantinopel. Ia memilih kota tersebut karena lanskapnya yang dikelilingi perbukitan sebagai benteng pertahanan alami.

Sejarawan Nikephoros Gregoras (1295-1359) dalam sebuah karyanya membahas ekspedisi militer yang dijalankan Osman. Pada 1301 M, pemimpin Muslim itu memenangkan pertempuran versus pasukan Bizantium di Bapheus, sekira 100 km arah tenggara Konstantinopel. Menurut Gregoras, peristiwa tersebut adalah petanda lenyapnya dominasi Kristen di Anatolia dan sekaligus fajar kekuasaan bangsa Turk.

Kawin Lari, Bagaimana Hukumnya?

Kawin lari terjadi manakala hubungan sepasang kekasih tak direstui orang tua.

SELENGKAPNYA

Keunggulan Ekonomi Syariah Kurang Diketahui

Strategi komunikasi dan branding diperlukan di tengah semakin rendahnya budaya membaca. 

SELENGKAPNYA

Meneguhkan Dakwah Purifikasi Sosial 

Metode dakwah kultural menekankan pentingnya berdakwah melalui beragam budaya.

SELENGKAPNYA