ILUSTRASI Islam memandang akal manusia memiliki berbagai fungsi dan keutamaan. | DOK PIXAHIVE

Khazanah

Keutamaan Akal Menurut Islam

Akal manusia memiliki berbagai fungsi utama, menurut perspektif Islam

Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Dalam menjalankan tugas itu, setiap insan dibekali dengan akal. Keberadaan pikiran rasional juga membedakannya dari makhluk-makhluk lain, semisal hewan yang hanya mengandalkan insting dan hawa nafsu.

Tentang akal, Nabi Muhammad SAW bersabda, seperti diriwayatkan at-Tirmidzi, “Tidak ada yang lebih mulia dari makhluk-makhluk ciptaan Allah selain akal.” Nalar yang sehat dapat menjadi jalan untuk meningkatkan ketakwaan, alih-alih bersikap kufur dan ingkar.

photo
ILUSTRASI Akal menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya di muka bumi. - (DOK PXHERE)

Sarana Berpikir

Dalam Alquran, terdapat lebih dari 700 ayat yang menyuruh manusia untuk merenungi penciptaan alam semesta. Perenungan demikian mustahil dilakukan tanpa adanya akal pikiran.

Nalar juga menjadi syarat dalam mempelajari semua ilmu. Dan, Islam tidak mungkin diamalkan tanpa seseorang berilmu. Karena itu, pemikiran yang ideal adalah ketika akal terhubung dengan cahaya iman serta dorongan untuk terus menerus meningkatkan ketakwaan

Pembeda

“Dan Kami lebihkan mereka (manusia) di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS al-Isra: 70).

Menurut tafsir para ulama, yang dimaksud dengan kelebihan dalam ayat tersebut, antara lain, adalah kemampuan berpikir. Itulah yang menjadi pembeda manusia.

Namun, kedudukan insan bisa jadi lebih rendah daripada makhluk nirakal bila hawa nafsunya tak terkendali. Terlebih lagi bagi orang-orang yang enggan menerima kebenaran. Dalam surah al-A’raf ayat 179, Allah mengibaratkan penduduk neraka jahanam sebagai hewan ternak atau bahkan lebih rendah lagi. Sebab, mereka tidak menggunakan hati, mata, dan telinga untuk memahami risalah Islam.

photo
ILUSTRASI Berakal adalah salah satu syarat bagi seorang Muslim untuk menjalani syariat Islam, termasuk ibadah. - (DOK REP THOUDI BADAI)

Amalkan Syariat

Dengan akal, seorang Muslim dapat mengamalkan syariat dan beribadah. Bila seseorang kehilangan nalar sehatnya, semisal mereka yang mengidap gangguan kejiwaan, maka tidaklah ia menerima beban syariat.

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan, (yakni) orang yang tidur sampai ia bangun; anak kecil sampai bermimpi (baligh); dan orang gila sampai ia kembali sadar (berakal),” sabda Nabi SAW.

Beliau juga berpesan, “Hendaknya engkau mendekatkan dirimu kepada-Nya dengan akalmu.” Maka bersyukurlah kita yang masih dikaruniai akal pikiran dan hati yang dipenuhi keimanan.

Tanwir Tetapkan 27 Calon Tetap PP Nasyiatul Aisyiyah

Muktamar NA diharapkan menghasilkan calon pemimpin muda ‘Aisyiyah pada masa depan.

SELENGKAPNYA

Meneguhkan Dakwah Purifikasi Sosial 

Metode dakwah kultural menekankan pentingnya berdakwah melalui beragam budaya.

SELENGKAPNYA

IMF: ASEAN 'Titik Terang' Dunia

Ekonomi ASEAN diproyeksi tumbuh 5 persen tahun ini dan naik sedikit pada 2023.

SELENGKAPNYA