Presiden Jow Biden bersama para kepala negara ASEAN berfoto di sela forum KTT ASEAN-AS di Phnom Penh, Kamboja, Sabtu (12/11/2022). | AP/Vincent Thian

Internasional

IMF: ASEAN 'Titik Terang' Dunia

Ekonomi ASEAN diproyeksi tumbuh 5 persen tahun ini dan naik sedikit pada 2023.

TOKYO -- Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan, pada Jumat (2/12), negara-negara Asosiasi Asia Tenggara (ASEAN) merupakan "titik terang" di perekonomian global. Ekonomi ASEAN diproyeksi tumbuh 5 persen tahun ini dan naik sedikit pada 2023.

Namun, ia memperingatkan, outlook ini masih "sangat" tidak pasti dan didominasi oleh risiko. Risiko itu seperti dampak perang Rusia di Ukraina, pengetatan keuangan global dan perlambatan pertumbuhan Cina.

"Tantangan yang menekan dunia lainnya adalah inflasi, di Asia diperkirakan rata-rata hanya 4 persen pada tahun ini, tapi tekanan pada kawasan meningkat," kata Georgieva.

Ia mencatat, meningkatnya tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi Cina pada prediksi atau outlook ekonomi Asia. Ia meminta negara-negara untuk membangun penyangga dari guncangan pada masa depan.

Presiden Asian Development Bank, Masatsugu Asakawa, juga mendesak pembuat kebijakan negara-negara Asia lebih mewaspadai tanda-tanda gangguan pada aliran modal, yang didorong kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

"Kita telah melihat risiko agresifnya pengetatan kebijakan moneter AS dalam mengatasi inflasi, yang mungkin memicu pembalikan aliran modal atau depresiasi mata uang yang tajam," kata Asakawa dalam video yang ditayangkan di Forum ASEAN+3 di Singapura, Jumat.

"Kita tidak tahu berapa lama guncangan akan bertahan, dan apakah ada guncangan lain yang akan datang, tapi kita harus membangun dan menjaga penyangga, serta sepenuhnya mempersiapkan perangkat kebijakan kita," katanya di forum yang sama. 

Dalam forum itu, Gubernur Bank Sentral Jepang, Haruhiko Kuroda mengatakan, tidak melihat risiko besar Asia, misalnya tiba-tiba kehilangan kepercayaan atau terjadi krisis finansial yang baru. Namun, ia memperingatkan agar negara-negara Asia tidak berpuas diri. Sebab, kebijakan penyangga guncangan ekonomi beberapa negara menurun usai menggelontorkan banyak dana, dalam upaya mengatasi dampak pandemi Covid-19.

"Gejolak pasar di Inggris baru-baru ini menunjukkan, reaksi anggota pasar pada keputusan kebijakan dan pengumuman dapat berdampak besar pada harga aset," kata Kuroda yang pernah menjabat sebagai kepala Bank Pembangunan Asia, Jumat.

"Pembuat kebijakan di negara-negara ASEAN harus mewaspadai risiko dan menawarkan komunikasi yang jelas, cepat, dan tepat waktu untuk menghindari hasil yang tak diinginkan," katanya.

Kebijakan Cina

Peraturan ketat Covid-19 di Cina telah membebani perlambatan pertumbuhan global. Alasannya, aturan itu memperlemah aktivitas ekonomi domestik dan mengganggu rantai pasokan manufaktur seluruh dunia.

Perlambatan ekonomi Cina memukul cukup keras Asia. Akibatnya, aktivitas manufaktur di seluruh kawasan pada November menyusut tajam.

Beberapa negara berkembang terpaksa menaikkan suku bunga untuk mengatasi sumbatan aliran modal, yang disebabkan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS). Ini menimbulkan kerugian ekonomi mereka yang rentan.

Dunia terus berharap, Cina akan membuka diri lagi sepenuhnya tahun depan usai angka vaksinasi orang lanjut usia lebih baik. Sementara pada saat yang sama, Cina berusaha menahan penyebaran Covid-19.

Saham dan pasar Cina di seluruh dunia awalnya turun setelah aksi unjuk rasa protes kebijakan ketat Covid-19 pada akhir pekan lalu di Shanghai, Beijing, dan kota lainnya. Tapi kemudian, harapan pulih setelah tekanan dari masyarakat mendorong Pemerintah Cina menggunakan pendekatan baru.

Pada Kamis (1/12), IMF mengatakan, bertambahnya wabah Covid-19 akan membebani aktivitas ekonomi Cina dalam jangka pendek. Lembaga itu menambahkan, kalibrasi ulang kebijakan yang aman memungkinkan pertumbuhan ekonomi meningkat pada 2023. 

Maroko dan Pengembaraan Ibnu Battuta

Selama kurang lebih 29 tahun, Ibnu Battuta telah singgah di 44 negara.

SELENGKAPNYA

Penyesalan Para Pendurhaka

Tidak mungkin para pendurhaka akan diperlakukan sama seperti orang-orang yang patuh dan taat.

SELENGKAPNYA

Asuransi Syariah akan Lebih Merakyat

Hingga September 2022, aset asuransi syariah Indonesia mencapai Rp 44,9 triliun.

SELENGKAPNYA