Karyawan beraktivitas di dekat logo-logo perusahaan asuransi di Jakarta, Senin (4/4/2022). | ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.

Ekonomi

Asuransi Syariah akan Lebih Merakyat

Hingga September 2022, aset asuransi syariah Indonesia mencapai Rp 44,9 triliun.

 

 

JAKARTA -- Industri asuransi syariah Indonesia berupaya menembus pasar masyarakat yang lebih luas. Mayoritas pasar asuransi syariah adalah 3-5 persen segmen ekonomi teratas dalam populasi Indonesia.

Anggota Task Force Cetak Biru Asuransi Jiwa Syariah dari Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Haryo Pamungkas, menyampaikan, pengguna asuransi masih didominasi kelompok atas. Sejalan dengan itu, distribusi asuransi pun didominasi sebesar 96 persen oleh bancassurance dan keagenan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by AASI (@aasi_id)

"Secara operasional itu biayanya cukup tinggi sehingga kontribusi atau preminya menyesuaikan sehingga memang baru kalangan teratas yang memanfaatkan," kata Haryo saat Peluncuran Cetak Biru Asuransi Jiwa Syariah Indonesia di Jakarta, Kamis (1/12).

Haryo menekankan, hal ini menjadi tantangan asuransi syariah ke depan. Sesuai pedoman dalam cetak biru yang telah diluncurkan, asuransi syariah perlu memperluas kanal distribusi alternatif dan juga membuat produk yang lebih terjangkau serta sederhana sehingga dapat dinikmati seluruh kelas masyarakat.

Selain itu, literasi dan edukasi terkait asuransi juga terus menjadi tantangan utama dalam penetrasi produk. "Tingkat literasi masih sangat rendah sehingga inovasi-inovasi, termasuk dalam produk, harus diwujudkan," katanya.

Hal pertama yang didorong sebagai tahap awal implementasi Cetak Biru Asuransi Jiwa Syariah Indonesia adalah meningkatkan literasi dan edukasi. Semangat dan prinsip utama asuransi syariah yang jadi pembeda, yakni tolong-menolong harus semakin digaungkan.

 
 
Memang industri kita ini masih dihadapkan oleh sejumlah tantangan, di antaranya terkait literasi, saluran distribusi, kurang beragamnya produk dan layanan, hingga perangkat-perangkat penentu, seperti kebijakan atau peraturan yang masih perlu diperkuat.
 
 

Dari survei yang dilakukan dalam penyusunan cetak biru tersebut, jumlah pemilik asurasi jiwa konvensional mencapai 26 persen. Sementara, pemilik asuransi jiwa syariah sebesar 12 persen. Sedangkan, 61 persen Muslim lainnya mengaku tidak memiliki asuransi.

Ketua Umum AASI, Tatang Nurhidayat, menyampaikan, asuransi jiwa syariah telah hadir di Indonesia sejak 1994 dan terus berkembang hingga sekarang. Pertumbuhannya dalam lima tahun terakhir mencapai 10 persen, sementara asuransi konvensional terkontraksi satu persen.

"Memang industri kita ini masih dihadapkan oleh sejumlah tantangan, di antaranya terkait literasi, saluran distribusi, kurang beragamnya produk dan layanan, hingga perangkat-perangkat penentu, seperti kebijakan atau peraturan yang masih perlu diperkuat," katanya.

Secara kinerja, industri asuransi syariah terus tumbuh signifikan. Per September 2022, asetnya tumbuh tiga persen dari Rp 43,7 triliun menjadi Rp 44,9 triliun. "Kontribusi bruto naik signifikan hingga 18,13 persen dari Rp 16,8 triliun menjadi Rp 19,96 triliun," katanya.

Klaim bruto juga turun 1,58 persen dengan investasi mengalami perbaikan, yakni tumbuh 5,28 persen. Ia optimistis kinerja asuransi syariah akan tetap positif meski ada tantangan resesi global.

 
 
Idealnya seperti itu. Kita juga ingin dorong seperti itu yang tradisional meningkat tentu kalau permintaan tradisionalnya meningkat.
 
 

Prudential Syariah berkomitmen terus berinovasi untuk menyediakan produk yang terjangkau bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Presiden Direktur Prudential Syariah, Omar Sjawaldy Anwar, menyampaikan, produk proteksi yang terjangkau menjadi salah satu strategi Prudential Syariah untuk mencapai misi melindungi seluruh masyarakat Indonesia.

"Produk-produk proteksi yang sangat terjangkau, kontribusinya hanya mulai dari Rp 10 ribu per bulan sudah kami perkenalkan pada masyarakat," kata Omar.

Menurutnya, produk yang diberi nama Pru Take Care ini sangat sederhana sehingga dapat diakses oleh masyarakat yang belum terlalu melek asuransi. Produk tersebut menjadi perkenalan bagi masyarakat yang ingin terproteksi kesehatannya.

Seiring waktu, kata Omar, masyarakat akan semakin memahami asuransi sehingga dapat meningkatkan kontribusi seiring dengan kenaikan kebutuhan proteksinya. Omar mengatakan, Prudential Syariah juga terus memperluas kanal distribusi.

Omar mengatakan, Prudential Syariah juga ingin mendorong produk-produk tradisionalnya. Hingga saat ini, mayoritas produk Prudential Syariah adalah produk unitlink, yakni sekitar 80 persen. Omar menjelaskan, untuk produk Prudential konvensional sudah berimbang antara produk tradisional dan unitlink.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Prudential Syariah (@prudentialsyariahindonesia)

"Idealnya seperti itu. Kita juga ingin dorong seperti itu yang tradisional meningkat tentu kalau permintaan tradisionalnya meningkat," katanya.

Per kuartal III 2022, aset Prudential Syariah tercatat Rp 6,6 triliun dengan klaim sekitar Rp 1 triliun. Rasio solvabilitas sekitar 251 persen. Ia optimistis pada tahun depan aset perusahaan bisa tumbuh sekitar 8-9 persen.