vp,,rm
Pengungsi beraktivitas di tenda darurat di area pesawahan, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Pemerintah memastikan akan menyalurkan bantuan dana kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa. | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

Ratusan Hektare Sawah di Cianjur Rusak

Lahan sawah yang terbanyak rusak berada di episentrum gempa di Kecamatan Cugenang.

CIANJUR — Ratusan hektare lahan sawah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami kerusakan akibat gempa bumi berkekuatan 5,6 magnitudo yang terjadi pada Senin (21/11). Meski dampaknya terhadap produksi pertanian dinilai tak signifikan, Pemerintah Kabupaten Cianjur akan menyiapkan skema alih profesi bagi para petani terdampak.

Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur menyampaikan, hasil pendataan per Selasa (29/11), musibah gempa bumi merusak 317 hektare lahan sawah dari total luas 66.934 hektare lahan.

"Kalau dilihat sisi produksi, kami masih relatif aman untuk pertanaman. Dampak gempa masih di bawah ambang batas terancam," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Rabu (30/11).

Kerusakan lahan sawah terbagi atas tiga kategori. Lahan yang mengalami rusak berat tercatat seluas 79 hektare, rusak sedang 88 hektare, dan rusak ringan 150 hektare. Lahan sawah tersebut berada di 13 wilayah kecamatan, di antaranya Kecamatan Cianjur (Desa Mekarsari dan Nagrak), Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Warungkondang, Kecamatan Cilaku, dan Kecamatan Gekbrong.

Lahan sawah yang paling banyak mengalami kerusakan berada di episentrum gempa, yaitu di Kecamatan Cugenang yang tersebar di Desa Gasol, Cijedil, Sukajaya, Talaga, Padaluyu, dan Cibulakan seluas 167 hektare.

Lahan sawah yang rusak juga terdeteksi di Kecamatan Cibeber, Kecamatan Sukaluyu, Kecamatan Sukaresmi, Kecamatan Pacet, Kecamatan Bojong Picung, Kecamatan Cikalong Kulon, dan Kecamatan Mande di Desa Kutawaringin, Mekarjaya, dan Bobojong.

Selain kerusakan area pertanian, kata Dandan, turut didata kerusakan saluran irigasi sepanjang total 175 meter, bangunan air parit rusak berjumlah empat unit, bangunan penyuluh pertanian terdampak di Kecamatan Mande, Cianjur, dan Cugenang.

"Dampak kerusakan ini kami amati berdasarkan penampakan visual sawah, seperti retak dan tanaman tertimbun longsor serta pergerakan lahan ada yang bergeser cukup lebar," ujarnya.

Dandan memastikan gempa bumi bermagnitudo 5,6 yang diikuti gempa susulan dalam sepekan terakhir tidak memengaruhi situasi pasar beras Cianjur yang terkenal sebagai lumbung padi. "Posisi tanaman padi di Cianjur masih dalam 45 hari hingga 1,5 bulan masa tanam, relatif minim perlakuan. Karena, sekarang sedang posisi vegetatif. Beda dengan fase generatif menjelang panen. Artinya, dampak kerugian pasti besar," katanya.

Selain itu, produksi padi di Kabupaten Cianjur pada saat ini mencapai 200 persen dari jumlah kebutuhan masyarakat sekitar ataupun luar Kabupaten Cianjur.

Walau dampak gempa terhadap pertanian disebut tidak signifikan, Pemerintah Kabupaten Cianjur menyiapkan skema alih profesi bagi petani terdampak. Menurut Dandan, pihaknya sedang melakukan pendataan sawah-sawah yang mengalami patahan.

"Kami akan konsultasi dengan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, apakah masih memungkinkan atau tidak untuk tetap dipakai," kata dia.

photo
Pengungsi beristirahat di area pesawahan di Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Jika lahan sawah milik petani berada di zona merah gempa atau berpotensi membahayakan keselamatan, kata Dandan, disiapkan skema relokasi mata pencarian dari bertani ke sektor jasa atau perdagangan. Skema lainnya bagi petani korban gempa adalah normalisasi lahan sawah.

"Kami juga ada skema recovery sawah melalui pendekatan terasering. Lahan yang tertimbun, kami padatkan, kemudian optimalisasi ulang lahan," ujarnya.

Dandan mengatakan, hingga saat ini Pemkab Cianjur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) setempat masih mendata kerugian materi akibat gempa bumi yang diderita petani.

"Kami masih mendata untuk menaksir berapa kerugiannya dan sedang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memproses ganti ruginya," katanya. Populasi petani di Cianjur saat ini berjumlah 237 ribuan orang yang terdata dari 3.700 kelompok tani.

photo
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi korban tertimbun longsor gempa bumi di Warung Sate Sinta, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Masih trauma

Mayoritas petani di Kabupaten Cianjur saat ini masih enggan kembali menggarap sawah karena merasa trauma dengan kejadian gempa bumi. "Kalau dibilang takut sama gempa, ya masih takut. Tapi, kan sawah ini sudah jadi kebutuhan (mata pencarian) saya," kata seorang petani, Abad Badrudin (72), di Desa Limbangan Sari, Kecamatan Cianjur, Rabu.

Abad sudah 25 tahun berprofesi sebagai salah satu petani penggarap lahan kas desa di wilayahnya. Ia bekerja di sawah mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB setiap hari.

Tempat tinggalnya di RT 2, RW 11, Desa Limbangan Sari, telah hancur akibat gempa. Kemarin, ia mencoba memberanikan diri kembali memperbaiki saluran air di area sawah yang sempat rusak diguncang gempa. "Kalau di rumah agak bosan juga memperbaiki rumah karena uangnya belum ada," kata dia.

photo
Anak mendengarkan cerita saat kegiatan trauma healing korban terdampak gempa di Taman Prawitasari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Ahad (27/11/2022). Kegiatan yang digelar Rappeling Education (RED) tersebut ditujukan untuk mengurangi trauma pada anak akibat gempa bumi. - (Republika/Thoudy Badai)

Abad sangat mengandalkan hasil panen padi jenis Cisadane dan Kongga yang baru ia tanam pada dua pekan terakhir. "Kalau sudah panen, biasanya bisa sampai 17-25 ton. Kalau sudah dikemas dan diproduksi, mereknya Impari 32," ujarnya.

Petani lainnya di Kampung Rawacina, Desa Nagrak, Aang Nurahmat (49), masih memilih berada di pengungsian bersama belasan tetangganya yang juga berprofesi sebagai petani. "Belum berani (kembali ke sawah). Hari ini saja gempanya masih ada, jadi tunggu dulu aman dan urusan rumah selesai dulu, baru kembali lagi ke sawah," kata dia, kemarin.

Aang adalah salah satu petani penggarap yang sawahnya berada di zona patahan gempa. Lahan sawah seluas 400 meter persegi yang ia garap hancur. "Untungnya, padi yang saya tanam masih masa pertumbuhan, belum siap panen, jadi tidak terlalu rugi," katanya.

photo
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tertimbun longsor gempa bumi di Warung Sate Sinta, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Luas total lahan sawah yang rusak di wilayah itu mencapai lebih dari 5 hektare dan berada di pusat gempa. Situasi di lokasi tampak sepi dari aktivitas petani.

Kepala Desa Nagrak Hendy Saiful yang dijumpai di kantor desa setempat membenarkan, mayoritas petani di wilayahnya belum berani kembali ke sawah. Dari total luas desa 422 hektare, sebanyak 313 di antaranya merupakan lahan sawah garapan dan milik penduduk setempat yang dikelola swadaya.

Selain ancaman gempa susulan, kata Hendy, area sawah yang terletak di dataran tinggi itu juga rawan dengan angin puting beliung. "Selain khawatir gempa, petani di sini ada yang sempat terlempar angin puting beliung saat gempa terjadi. Mereka masih trauma dan memilih tetap ada di rumah atau tenda pengungsian," katanya.

Lahan Relokasi Mulai Digarap 

Proses pembukaan lahan untuk merelokasi warga terdampak gempa sudah dimulai pada Rabu (30/11). Bupati Kabupaten Cianjur Herman Suherman mengatakan, Kementerian PUPR mulai membuka lahan dan meratakan tanah seluas 2,5 hektare di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat. 

Total rumah yang akan disiapkan sebanyak 200 unit tipe 36 dengan lahan seluas 60 meter persegi. "Untuk update relokasi yang saat ini telah dilakukan, yaitu di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kementerian PUPR segera membuat rumah percontohan yang akan dibangun di lokasi tersebut," kata Herman dalam konferensi pers, Rabu (30/11).

 

 
Total rumah yang akan disiapkan sebanyak 200 unit tipe 36 dengan lahan seluas 60 meter persegi.
 
 

Dia mengatakan, data-data warga yang akan menempati tempat relokasi masih harus menunggu tim asesmen. "Penilaian BMKG juga diperlukan terkait daerah mana saja yang tidak diperkenankan untuk membangun kembali rumah hunian," kata Herman. 

 

Selain Desa Sirnagalih, Pemerintah Kabupaten Cianjur menyiapkan lahan di Desa Mande seluas empat hektare dan di Desa Cipendawa seluas 10 hektare. Sebelumnya, Herman mengatakan, Pemkab Cianjur memprioritaskan korban terdampak gempa yang rumahnya berada di lereng-lereng yang akan menempati lahan relokasi.

"Untuk kriteria kami mengutamakan terlebih dahulu warga yang rumahnya berada di lereng-lereng, seperti di Desa Cijedil, Desa Mangunkerta, dan Desa Sarampan yang merupakan titik nol terjadinya bencana gempa bumi," kata Herman.

Terkait proses pencarian korban gempa, Herman menambahkan, Pemkab Cianjur telah mengajukan usulan perpanjangan masa pencarian korban selama tiga hari ke depan. Herman mengatakan, operasi pencarian semestinya hanya sampai 30 November 2022. Sementara hingga kini, masih ada 12 orang yang belum ditemukan.

"Melihat kondisi di lapangan dan melihat kondisi ahli waris yang mana masih ada berharap untuk ditemukan korban yang hilang di lokasi tanah longsor tersebut. Kami Kabupaten Cianjur telah membuat usulan penambahan waktu tiga hari ke depan," ujar Herman. 

Karena itu, Pemkab Cianjur mengusulkan perpanjangan operasi pencarian pada 1-3 Desember. Usulan perpanjangan ini, menurut Herman, telah dia tandatangani dan dimulai pada Kamis (1/12). 

Dia berharap, para korban yang hilang bisa ditemukan selama masa perpanjangan tersebut. "Mohon doanya agar cuaca baik dan Basarnas juga bisa menemukan warga yang hilang sebanyak 12 jiwa, mudah-mudahan dalam waktu tiga hari bahkan satu hari pun, kalau besok ketemu ya Basarnas akan berakhir," ujar Herman.

Herman mengatakan, dalam pencarian pada Rabu, ditemukan satu korban jiwa sehingga total korban meninggal dunia akibat gempa Cianjur menjadi 328 jiwa. 

photo
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi korban yang diduga seorang anak di Gedung Madrasah Nurul Iman, Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (24/11/2022).  - (Republika/Thoudy Badai)

Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, berharap upaya rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga terdampak gempa Cianjur segera dilakukan. Langkah ini untuk memberikan rasa aman kepada warga.

"Diharapkan dalam waktu tidak lama, rehabilitasi dan rekonstruksi bisa segera dimulai sesuai arahan Presiden. Namun, harus digarisbawahi pencarian tetap dilakukan untuk korban yang hilang," kata Muhadjir, kemarin. 

Akan tetapi, menurut Muhadjir, proses pencarian korban tetap ada batas waktunya dan tidak mungkin terus dilakukan. Oleh karena itu, ia memohon agar masyarakat, terutama ahli waris, dapat memahami kebijakan tersebut.  Muhadjir juga menekankan agar penanganan korban hidup dan luka terus dimaksimalkan.  

Kiai Dahlan Melawan Bodoh

Ahmad Dahlan sesungguhnya sedang mendobrak kejumudan beragama dan berkehidupan umat.

SELENGKAPNYA

Bank Muamalat Targetkan Aset Rp 100 Triliun

Ekosistem haji dan umrah akan menjadi fokus utama, baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan.

SELENGKAPNYA

KH Shodiq Hamzah, Raih Doktor HC Berkat Tafsir Bahasa Jawa

Tafsir ini menggabungkan antara tradisi penulisan Jawa pegon dengan tulisan Latin.

SELENGKAPNYA