Ketua Umum Ikadi KH Ahmad Kusyairi Suhail | Ist

Khazanah

Dakwah Wasathiyah Jadi Materi Utama Standardisasi Dai MUI

Materi utama peserta standardisasi kompetensi dai adalah penguatan dakwah Islam wasathiyah.

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Standardisasi Kompetensi Dai Angkatan ke-18 di Wisma Mandiri, Menteng, Jakarta. Dakwah wasathiyah dan penguatan kebangsaan menjadi materi utama program ini.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Ahmad Zubaidi mengatakan, materi utama yang diajarkan kepada peserta standardisasi kompetensi dai adalah penguatan dakwah Islam wasathiyah. Dakwah wasathiyah adalah dakwah yang santun, mendamaikan, mencari solusi, dan menyatukan umat.

"Jadi, kita ingin para dai itu dalam berdakwah punya misi yang sama dalam mendamaikan umat, menyatukan umat, menjaga kondusivitas umat," kaya Kiai Zubaidi kepada Republika, Selasa (29/11)

Penguatan kebangsaan juga menjadi materi utama Standardisasi Dai MUI. Para dai harus mengikuti fatwa MUI, di antaranya MUI telah menyatakan bahwa NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika itu sudah final, maka para dai juga perlu mendakwahkan semua itu."Jadi, para dai jangan lagi mengutak-atik dasar negara dan bentuk negara Indonesia. Sebaiknya dai lebih fokus dalam upaya pemberdayaan umat," ujarnya.

 
Dai dengan konten yang kurang memadai ini berisiko membuat masyarakat kurang tercerahkan.
KH AHMAD ZUBAIDI Ketua Komisi Dakwah MUI
 

Kiai Zubaidi mengatakan, mereka yang sudah ikut standardisasi kompetensi dai, insya Allah telah memahami persoalan keislaman, kebangsaan, dan metode dakwah yang baik. Ia juga menjelaskan, program standardisasi kompetensi dai ini muncul karena banyaknya dai yang tampil di depan publik, tetapi kurang menguasai konten. Di sisi lain banyak juga dai yang kurang memiliki wawasan kebangsaan dan metode dakwah yang kurang pas.

"Dai dengan konten yang kurang memadai ini berisiko membuat masyarakat kurang tercerahkan, bahkan bisa memanas, padahal yang disampaikan tersebut kebenaran, yang lebih mengkhawatirkan, para dai sendiri bisa terjebak dalam persoalan hukum negara," kata Kiai Zubaidi.

Hingga saat ini, lanjut dia, jumlah dai yang telah ikut standardisasi kompetensi dai mencapai sekitar 1.100 orang. Komisi Dakwah MUI akan terus menjalankan program ini.

"Tidak ada target sampai berapa, kita akan terus lakukan (standardisasi kompetensi dai) tujuannya supaya para dai kita mempunyai kompetensi yang memadai untuk dakwah di zaman sekarang," kata dia.

Melalui program Standardisasi Dai, para dai akan mempunyai jaringan. Jadi, para dai bukan sekadar memiliki standar MUI, tapi juga memiliki jaringan silaturahim 1.100 dai yang sudah ikut program Standardisasi Dai.

"Supaya nanti para dai mampu berkoordinasi satu sama lain, ada koordinasi dakwah, sehingga di antara dai tidak ada semacam persaingan atau perebutan objek dakwah, semua dai bisa berdakwah di manapun dengan memperhatikan paham keagamaan dan tradisi kemasyarakatan yang berkembang," ujarnya.

photo
ILUSTRASI Para perintis dakwah Islam di Tanah Jawa, yakni Wali Sanga, diketahui memiliki nasab kaum habaib, yakni melalui Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husain - (ANTARA)

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Dr Ahmad Kusyairi Suhail menilai, program Standardisasi Dai MUI baik untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi dai.

"Saya sendiri, alhamdulillah telah mengikutinya dan menjadi peserta angkatan ketiga. Sebab, dakwah yang hakikatnya ingin membangun peradaban dengan mengajak kepada kebaikan adalah masyru' kabir wa 'azhim (proyek besar, agung, dan mulia)," kata ujar dia.

 
Dakwah yang hakikatnya ingin membangun peradaban dengan mengajak kepada kebaikan adalah masyru' kabir wa 'azhim (proyek besar, agung, dan mulia)
KH DR AHMAD KUSYAIRI SUHAIL Ketua Umum Ikadi
 

Menurut Kusyairi, dalam program Standardisasi Dai MUI, peserta dibekali materi wawasan-wawasan kebangsaan sehingga seorang dai memahami fiqh al-waqi' atau fikih realitas, yang terkait kedisinian dan keindonesiaan. Standardisasi itu juga mengedepankan dakwa Islam rahmatan lil 'alamin. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT untuk selalu menyiapkan dan meningkatkan bekal, apalagi bagi seorang dai.

Bagi Ikadi, kata dia, kompetensi para dai-daiah harus terus selalu ditingkatkan. Apalagi, zaman terus berkembang. Situasi dan kondisi masyarakat, baik regional, nasional maupun global juga terus mengalami perubahan. "Maka seorang dai harus terus bisa menyesuaikan dengan berbagai macam perkembangan dan memanfaatkan berbagai sarana dan media untuk merealisasikan misi sucinya," ujarnya.

Karena itu, dia menyampaikan, di internal Ikadi juga telah dilakukan program Sertifikasi Dai Ikadi, dan pelatihan mubaligh Ikadi. "Ini merupakan program unggulan yang terus berjalan dan selalu disesuaikan dan ditingkatkan," kata dia.

Wisata Susur Sungai Cikeas Ajak Warga Jaga Kebersihan

Susur sungai juga menjadi wahana edukasi dan melatih ketahanan fisik peserta.

SELENGKAPNYA

UMP DKI 2023 Hanya Naik Rp 259 Ribu

Kadin DKI masih keberatan UMP DKI naik 5,6 persen menjadi Rp 4,9 juta.

SELENGKAPNYA

Stok Sayuran di Pasar Kramat Jati Aman

Lancarnya distribusi membuat kebutuhan sayur wilayah Jabodetabek masih bisa terpenuhi.

SELENGKAPNYA