Presiden Joko Widodo memperhatikan turbin kincir angin usai meresmikan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. | ANTARA FOTO

Opini

Potensi Transisi Energi Berkeadilan

Beberapa langkah sederhana perlu dijadikan bahan pertimbangan untuk mereduksi dampak emisi gas rumah kaca.

MUHAMMAD SAID, Guru Besar Ekonomi Islam FEB UIN Jakarta

International Partners Group (IPG) merupakan forum kemitraan negara maju dengan negara berkembang untuk mewujudkan Kemitraan Transisi Energi yang Adil (KTEA).

KTEA ini konsensus bersama kepala negara G-7 untuk memobilisasi pendanaan pembiayaan iklim hijau di negara-negara berkembang, agar tercipta kesejajaran kemajuan infrastruktur global. Melalui KTEA, kepala negara G-7 membuka ruang bagi swasta turut andil.

Menanamkan modal sebagai sumber pembiayaan program dekarbonisasi, dan memberikan “transisi yang adil” bagi warga negara. Swasta diberi ruang investasi dana mereka lebih dominan, melampaui pendanaan proyek bersumber dari keuangan individu.

KTEA bertujuan melakukan switch off alias akselerasi penonaktifan pembangkit listrik tenaga batu bara dan akselerasi dekarbonisasi ekonomi, serta melahirkan kemitraan dalam mewujudkan program pembangunan infrastruktur berkeadilan.

 
Menanamkan modal sebagai sumber pembiayaan program dekarbonisasi, dan memberikan “transisi yang adil” bagi warga negara.
 
 

Selain itu, KTEA diharapkan menjadi kekuatan yang melahirkan produk inovasi keuangan, sebagaimana preseden baru pada peluncuran Just Energy Transition Partnership (JEPT) Afrika Selatan, yang berhasil mobilisasi dana 8,5 miliar dolar AS.

JEPT menjadi ikhtiar kolektif membangun tata kehidupan berkeadaban untuk kemaslahatan berdasar pada prinsip kemitraan, kesetaraan, dan perjuangan bersama negara G-7 untuk mereduksi kesenjangan infrastruktur global.

Indonesia peluncur JEPT kedua setelah Afrika Selatan. Penetapan Indonesia itu tak lepas dari pertimbangan sebagai penghasil emisi gas rumah kaca keempat terpadat di dunia. Di sisi lain, peran penting Indonesia yang mendeklarasikan Perjanjian Paris dalam mereduksi emisi gas rumah kaca hingga 29 persen pada 2030.

Indonesia diharapkan dapat menunjukkan komitmen melalui aksi nyata yang terus meningkat. Kemitraan yang digagas kepala negara G-7 menunjukkan  shifting paradigm tentang pembangunan dan persaingan ekonomi melahirkan ketegangan dan peperangan.

 
Indonesia diharapkan dapat menunjukkan komitmen melalui aksi nyata yang terus meningkat.
 
 

Kemitraan juga menunjukkan keterbukaan bagi restorasi global dalam mewujudkan tanggung jawab sosial, ekologi, dan ekonomi hijau yang menguntungkan.

Pembangunan energi transisi berkeadilan juga bentuk ekspresi bahwa terjadi titik kejenuhan dari ingar bingar dari persaingan antarnegara, yang cenderung memunculkan ketegangan, bahkan perang dagang untuk memenuhi ambisi ekonomi dan politik.

Di sisi lain, dekarbonisasi adalah tanggung jawab bersama. Komitmen dan kebijakan pemerintah sangat menentukan. Indonesia, presidensi G-20, menyatakan komitmen untuk menurunkan emisi dengan biaya sendiri senilai 31,89 persen dan dukungan internasional 43,20 persen.

Sebagaimana penegasan wakil presiden di COP27 di Mesir belum lama ini. Penunjukan Indonesia sebagai peluncur kedua setelah Afrika Selatan, memperkuat komitmen untuk program dekarbonisasi dan agenda lingkungan hijau berkelanjutan dalam Perjanjian Paris.

Indonesia, the miracle country dengan potensi gatra sumber kekayaan alam melimpah, bisa jadi perwujudan komitmen internasional dimaksud.

 
Indonesia, the miracle country dengan potensi gatra sumber kekayaan alam melimpah, bisa jadi perwujudan komitmen internasional dimaksud.
 
 

Indonesia memiliki spirit ekonomi kerakyatan yang perlu direkonstruksi maksimal agar semua turut mendukung pencapaian tujuan JEPT, kelestarian lingkungan. Selain itu, self-supporting dari semua elemen masyarakat menjadi modal dekarbonisasi kuat, sehingga akselerasi transisi ekonomi hijau dapat terwujud.

Pun demikian, membuka ruang swasta menginvestasikan dana untuk pembiayaan infrastruktur baru tetap terbuka. Akselerasi transisi energi dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan dan pengurangan bertahap batu bara memerlukan kontribusi swasta.

Dengan demikian, program JEPT tidak saja mereduksi persoalan yang mengkhawatirkan banyak pihak, mengakselerasi kesetaraan infrastruktur global, tetapi juga membuka ruang pekerjaan baru bagi yang sangat membutuhkannya.

Beberapa langkah sederhana perlu dijadikan bahan pertimbangan untuk mereduksi dampak emisi gas rumah kaca. Pertama, perlunya membangun dan memperkuat kesadaran semua pihak untuk membangun tata kehidupan yang sederhana, tetapi berkualitas.

 
Beberapa langkah sederhana perlu dijadikan bahan pertimbangan untuk mereduksi dampak emisi gas rumah kaca.
 
 

Kedua, mengembalikan tradisi nasional untuk mengedepankan kepentingan lebih luas, termasuk penggunaan kendaraan bermotor, merancang perumahan secara vertikal dengan energi listrik efisien, memanfaatkan ruang bangunan untuk penghijauan.

Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan mass rapid transit sebagai moda transportasi cepat, murah, dan ramah lingkungan. Berkurangnya kemacetan karena minimnya pemakaian kendaraan pribadi mengurangi polusi udara dan meningkatkan indeks kesehatan masyarakat.

Keempat, memperkuat komitmen mewujudkan Indonesia asri melalui reboisasi, menanam pohon, dan mengurangi sampah. Kelima, penguatan kerja sama dalam urbanisme dengan mitra yang sudah terbangun.

Seperti kemitraan Prancis dan Indonesia sejak 2017 dalam Low Carbon Eco District (LCED) oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan. Keenam, memaksimalkan pundi keuangan sosial potensial, sebagaimana dimanfaatkan Kementerian Keuangan melalui keuangan hijau untuk infrastruktur hijau. n

Ki Bagoes Hadikoesoemo, Penggagas Tegaknya Syariat Islam

Ia telah merumuskan pokok-pokok pikiran KH Ahmad Dahlan hingga menjadi Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

SELENGKAPNYA

Kiai Said Kukuhkan Tiga Lembaga

KH Said Aqil Siroj mengukuhkan struktur kepemimpinan pada tiga lembaga sekaligus.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Pandangan Syariah Menonton Piala Dunia?

Saat kopi disebut sebagai minuman sejuta umat, menonton sepak bola itu tontonan sejuta umat.

SELENGKAPNYA