Fernan Rahadi | Ist

Piala Dunia

Menyempatkan Ibadah ke Tanah Suci

Tanpa terasa, air mata saya menetes setelah melihat Ka’bah untuk terakhir kalinya hari itu.

OLEH FERNAN RAHADI, dari Doha, Qatar 

Hayya Card dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar terbukti memberikan banyak keuntungan. Dengan dokumen personal yang diperuntukkan untuk pengunjung Piala Dunia tersebut, kita bisa mendapatkan berbagai hal seperti akses masuk ke stadion dan tempat-tempat menarik lain, kartu SIM seluler gratis, serta diskon saat berbelanja.

Selain itu, pemegang Hayya Card juga memperoleh fasilitas transportasi gratis untuk menaiki metro atau bus pada hari-hari pertandingan. Namun, pemilik Hayya Card pun mendapatkan keuntungan lain yang berada di luar tangan negara penyelenggara.

Sejumlah negara tetangga di Jazirah Arab, seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, dan Mesir, beberapa hari sebelum Piala Dunia dimulai telah memutuskan untuk menggratiskan visa masuk ke negara mereka bagi pemilik Hayya Card.

 
pemegang Hayya Card juga memperoleh fasilitas transportasi gratis untuk menaiki metro atau bus pada hari-hari pertandingan.
 
 

Saya menjadi salah seorang yang berusaha memaksimalkan keuntungan tersebut. Di sela tugas meliput Piala Dunia 2022 di Doha, saya mengalokasikan waktu tiga hari untuk berkunjung ke Arab Saudi. Tidak lain dan tidak bukan, kunjungan tersebut untuk melaksanakan ibadah umrah di Makkah.

Pelaksanaan ibadah umrah itu bertepatan dengan momentum yang luar biasa. Rabu (23/11) itu adalah hari ketika Raja Salman dari Arab Saudi meliburkan semua kegiatan, baik di sektor publik maupun swasta. Keputusan itu berlaku untuk semua tingkatan pendidikan. Keputusan tersebut tak terlepas dari kemenangan bersejarah tim nasional Saudi atas Argentina sehari sebelumnya.

Alhasil, suasana Bandara King Abdulaziz di Jeddah pada Rabu sore itu sangat ramai. Tak jauh berbeda dengan suasana di Bandara Internasional Hamad di Doha yang dipenuhi para suporter dengan atribut bendera berwarna hijau dengan tulisan syahadat dan pedang di tengahnya.

Meskipun demikian, alhamdulillah, perjalanan saya ke Makkah dengan mobil tidak menemui kemacetan. Perjalanan ditempuh lebih kurang satu jam, waktu normal perjalanan dari Jeddah ke Makkah.

 
Alhamdulillah, perjalanan saya ke Makkah dengan mobil tidak menemui kemacetan. Perjalanan ditempuh lebih kurang satu jam
 
 

Begitu sampai hotel, saya yang sudah berpakaian ihram semenjak di Doha hanya menyempatkan istirahat sebentar di kamar dan langsung keluar untuk menyempurnakan rukun umrah.

Kebetulan, hotel yang saya inapi, Al Kiswah Towers, hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer dari Masjidil Haram. Dengan bus yang selalu tersedia setiap saat, saya langsung ke lokasi parkir Masjid Besar Makkah, kurang dari lima menit. Dari tempat parkir tersebut hanya membutuhkan jalan kaki kurang lebih 1 kilometer untuk mencapai Masjidil Haram. 

Karena waktu kunjungan hanya berlangsung tiga hari, saya sedikit khawatir ketika besoknya, Kamis (24/11), sepanjang hari Makkah diguyur hujan. Konon, hujan hari itu sempat menyebabkan Kota Jeddah dilanda banjir terparah dalam 13 tahun terakhir.

Untungnya, hujan deras di Makkah tidak berlangsung sehari penuh. Menjelang sore, hujan mereda sehingga saya bisa kembali menjalankan ibadah di Masjidil Haram.

Pada hari terakhir, Jumat (25/11), menjadi waktu yang luar biasa. Puluhan ribu orang terlihat berbondong-bondong mendatangi Masjidil Haram untuk menunaikan shalat Jumat. Saya tak mau melewatkan momentum itu dan turut serta dalam lautan manusia yang mengunjungi Baitullah di hari yang istimewa bagi umat Islam itu. 

Tanpa terasa, air mata saya menetes setelah melihat Ka’bah untuk terakhir kalinya hari itu. Sungguh nikmat yang tak bisa lagi saya dustakan.

Menghafal Alquran dengan Metode Sabaq Sabqi

Santri di tingkat SMP ditargetkan lulus dengan memiliki hafalan Alquran sebanyak 5 juz.

SELENGKAPNYA

Mengoptimalkan Pasar Lokal

Selama masa pandemi belakangan ini, tren lamanya menginap para wisatawan bergeser semakin panjang. 

SELENGKAPNYA

Bencana Alam, Azab atau Musibah?

Apa yang belum lama ini dialami masyarakat Cianjur dan sekitarnya adalah musibah.

SELENGKAPNYA