ILUSTRASI Lukisan yang menggambarkan pertemuan tokoh EIC Inggris dan tokoh pengkhianat Bengal, Mir Jafar. Jatuhnya Bengal kian melemahkan Imperium Mughal. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

Dominasi Inggris di India

Melemahnya Kesultanan Mughal mengawali penjajahan Britania Raya atas tanah Hindustan.

Sejumlah bangsa Eropa mulai berlomba-lomba menjelajahi Samudra Hindia sejak pertengahan abad ke-15 M. Mereka mendambakan kekayaan negeri-negeri pesisir Asia, termasuk India. Portugis merupakan kerajaan pertama asal Benua Biru yang dapat menaklukkan bandar-bandar penting di sana.

Pada 1498 M, armada yang dipimpin Vasco da Gama merebut pelabuhan-pelabuhan strategis di pantai barat India, seperti Goa, Damaon, dan Bombay (Mumbai). Orang-orang Portugis itu tidak hanya memiliki motif ekonomi, tetapi juga penyebaran agama dalam misi Inkuisisi. Bahkan, mereka memaksa penduduk lokal untuk memeluk Katolik. Da Gama meninggal akibat terjangkit malaria di Kochi.

 
Mengikuti jejak Portugis, bangsa Eropa lainnya yang menarget India adalah Belanda via ekspansi Kongsi Dagang VOC.
 
 

Mengikuti jejak Portugis, bangsa Eropa lainnya yang menarget India adalah Belanda via ekspansi Kongsi Dagang VOC. Armada dari Negeri Kincir Angin mendirikan benteng di Pulau Sailan dan Kochi, pantai barat-daya India (Malabar). Namun, koloni mereka di pesisir Malabar itu kemudian hancur usai Kerajaan Hindu Travancore berhasil mengalahkan VOC dalam Perang Colachel tahun 1741. Sejak saat itu, Belanda cenderung memusatkan perhatiannya pada kolonisasi di Nusantara.

Pada awal abad ke-17 M, Inggris dan Prancis mulai memasuki gelanggang persaingan demi memperebutkan pengaruh di India. Dua kekuatan Eropa itu mengincar daerah-daerah pelabuhan strategis. Pada 1619, Kongsi Dagang The East India Company (EIC) mendirikan benteng di Surat, Gujarat. Dari sana, representasi Britania Raya tersebut terus berekspansi.

Dalam beberapa abad kemudian, Inggris tampil lebih unggul di Anak Benua India. Satu per satu, wilayah di region tersebut jatuh ke dalam kendali EIC. Sementara itu, pengaruh Portugis dan Prancis kian menyusut. Koloni Portugis hanya tersisa di Goa, Damaon, dan Diu. Adapun tanah jajahan Prancis terkonsentrasi di beberapa bandar, semisal Puducherry, Karaikal, Yanam, dan Chandannagar.

 
Kesultanan Mughal telah menguasai sebagian besar Asia selatan sejak awal abad ke-16 M.
 
 

Cengkeraman Inggris atas India tidak terlepas dari situasi yang terjadi di Kesultanan Mughal. Kerajaan Islam tersebut telah menguasai sebagian besar Asia selatan sejak awal abad ke-16 M. Berpusat di Delhi, dinasti Muslim ini menghasilkan pemerintahan yang efektif, setidaknya mulai dari era pendirinya, Babur (1526-1530), hingga Aurangzeb (1658-1707). Khususnya sejak abad ke-18 M, Mughal kian melemah di hadapan EIC.

EIC terbentuk pada 1600 M dengan nama The Company of Merchants of London Trading into the East Indies. Kongsi dagang tersebut mulai diperhitungkan di India sejak keberhasilan misi diplomatik Inggris. Raja Inggris, James I, mengutus Sir Thomas Roe kepada sultan Mughal Jahangir (1605-1627). Antara tahun 1612 dan 1619, Roe pun mendapatkan izin dari Mughal untuk mendirikan “pabrik” atau pos perdagangan di Surat.

Mulanya, EIC cenderung berfokus pada perdagangan. Tidak terbayangkan sebelumnya untuk menantang kedaulatan Mughal di tanah Hindustan. Akan tetapi, kehadiran Portugis, Prancis, dan Belanda di sana membuatnya lambat laun melancarkan strategi ekspansif. Kongsi dagang Inggris itu pun berambisi memenangkan persaingan kolonial di India.

Kesempatan terbuka kian lebar bagi EIC karena Mughal tidak lagi memunculkan pemimpin yang cakap sesudah wafatnya Aurangzeb. Kesultanan tersebut kehilangan wibawanya karena pergantian pemerintahan hampir selalu diwarnai pertikaian antarelite. Dalam situasi terpecah belah, mereka rentan serangan dari luar.

 
Kesempatan terbuka kian lebar bagi EIC karena Mughal tidak lagi memunculkan pemimpin yang cakap sesudah wafatnya Aurangzeb.
 
 

Bahaya datang bukan hanya dari aktivitas kolonialisme bangsa-bangsa Eropa, tetapi juga sesama daulah Muslim. Salah satunya adalah ekspansi yang dilakukan Nader Shah. Pendiri Dinasti Afshariyah itu menjadi penguasa Iran sejak 1736 M. Dua tahun kemudian, ia menaklukkan Kandahar, yang berbatasan langsung dengan Mughal di sebelah timur.

Pasukan Nader Shah menyeberangi Sungai Indus pada akhir tahun 1738. Muhammad Shah (1719-1748), raja Mughal saat itu, menghadapi mereka dengan kekuatan 300 ribu prajurit. Perang di antara kedua belah pihak pecah pada 13 Februari 1739. Walaupun unggul dalam hal kuantitas, pasukan Mughal bisa dikalahkan musuhnya. Pada 22 Maret, balatentara Nader Shah menyerbu Delhi. Tidak hanya membunuh pasukan Mughal, mereka pun menangkapi dan memperbudak puluhan ribu warga kota setempat, termasuk wanita dan anak-anak.

Muhammad Shah kemudian memohon gencatan senjata. Nader mengabulkan permohonan itu, asalkan dirinya memperoleh uang tebusan dalam jumlah besar. Di antara berbagai harta rampasan yang direnggut raja Iran itu adalah pusaka Kesultanan Mughal, seperti Permata Koh-i-noor dan Darya-ye Nur, serta Singgasana Merak yang berlapiskan emas murni.

Itu belum termasuk 700 gajah, empat ribu unta, dan 12 ribu kuda perang. Begitu kembali ke negerinya, Nader mengembalikan wilayah di sebelah timur Sungai Indus kepada Mughal.

Lepasnya Bengal

Salah satu sumber kekayaan negeri Mughal adalah Bengal. Daerah tersebut berada di perbatasan Asia selatan dan Asia tenggara. Kini, kawasan itu meliputi wilayah negara Bangladesh dan negara bagian Bengal Barat, India.

Sejak menjadi bagian dari Imperium Mughal pada 1576 M, Bengal merupakan provinsi terkaya. Bahkan, kekayaannya setara dengan 12 persen total nilai produksi (gross domestic product/GDP) dunia. Itu jauh melampaui GDP seluruh kerajaan di kawasan Eropa barat pada masanya. Bengal masyhur sebagai pusat industri tekstil yang berorientasi ekspor. Selain itu, pelabuhan setempat juga memiliki galangan kapal yang besar.

Provinsi tersebut menjadi incaran setidaknya dua kekuatan kolonial, yaitu Inggris dan Prancis. Sesudah kematian Sultan Aurangzeb pada 1707, keduanya semakin gencar menjalankan taktik perebutan pengaruh di Bengal. Puncaknya, terjadilah Perang Bengal yang berlansung secara periodik antara tahun 1756 dan 1765.

 
Provinsi tersebut menjadi incaran setidaknya dua kekuatan kolonial, yaitu Inggris dan Prancis.
 
 

Walaupun masih berstatus provinsi Mughal, Bengal semakin independen dari Delhi. Keputusan politik dipegang gubernur setempat yang bergelar nawab. Sejak 1756, Siraj ad-Daulah menggantikan posisi kakeknya sebagai nawab yang baru.

Siraj tidak puas dengan kebijakan Delhi yang memberikan izin kepada EIC untuk menarik pajak di berbagai bandar di sekitar Bengal. Kongsi dagang Inggris itu juga dianggapnya telah bertindak semena-mena terhadap para saudagar lokal. Saat berlabuh di Bengal pun, banyak kapal EIC yang enggan membayar pajak dan kewajiban lainnya.

Tidak hanya itu, Inggris pun membangun Benteng William di Kolkata. Akhirnya, Siraj memimpin pasukannya untuk menyerang dan merebut benteng tersebut pada Juni 1756. EIC membalas serangan itu dengan taktik adu domba.

photo
Peta cakupan wilayah kekuasaan Inggris di India. Dominasi Inggris kian melemahkan Imperium Mughal. - (DOK WIKIPEDIA)

Robert Clive, komandan militer EIC saat itu, melalui jaringan mata-matanya menghubungi Mir Jafar. Ia menjanjikan kepada komandan Mughal tersebut jabatan nawab kalau bersedia bekerja sama demi menggulingkan kekuasaan Siraj ad-Daulah. Kedua belah pihak pun bersepakat.

Sementara itu, Siraj menggandeng Kongsi Dagang Prancis untuk menghadapi EIC. Pada 23 Juni 1757, pecahlah perang di Palashi (ejaan bahasa Inggris: Plassey), tepi Sungai Hogghly atau sekitar 150 km arah utara Kolkata. Clive dengan armada bantuan dari Madras yang dipimpin laksamana Charles Watson dapat merebut kembali Benteng William. Bahkan, EIC juga berhasil menggempur benteng yang dibangun Prancis di Chandannagar.

Tanpa sokongan yang kuat dari Prancis, Siraj “sendirian” menghadapi musuhnya. Keadaan semakin buruk baginya sejak pengkhianatan yang dilakukan jenderalnya, Mir Jafar. Sang gubernur kemudian menyelamatkan diri ke Murshidabad pada malam 24 Juni. Sementara itu, Mir Jafar bertemu dengan Clive. Jenderal EIC itu lantas mengangkatnya sebagai nawab Bengal yang baru. Pada awal Juli 1757, Siraj ditangkap para bawahan Mir Jafar. Beberapa hari berikutnya, hukuman mati dijatuhkan atas dirinya.

Wafatnya Siraj ad-Daulah tidak hanya mengawali takluknya Bengal, tetapi juga India di bawah kolonialisme Inggris. Mughal bukan tanpa upaya. Pada 1756 M, EIC terang-terangan menolak pengiriman upeti tahunan dari Bengal kepada Delhi. Pangeran Ali Gauhar—kelak menjadi Sultan Shah Alam II—lalu melancarkan serangan untuk merespons pembangkangan itu. Sebelum dicaplok Inggris, Bengal memang bersifat otonom, tetapi masih mengakui Mughal sebagai yang-dipertuan.

Pada 1756 M, Mughal tidak lagi berdaya melawan dominasi EIC. Kedua belah pihak kemudian membuat Perjanjian Allahabad. Hasilnya, Inggris bersedia menyerahkan upeti sebesar 260 ribu poundsterling per tahun kepada Delhi. Namun, Mughal kehilangan banyak hak ekonomi atas Bengal dan sekitarnya, termasuk Bihar dan Orissa.

Kemenangan di Bengal menjadikan Inggris penguasa politik dan militer terkuat di India. Namun, Britania Raya secara resmi tidak menerapkan kedaulatan nyata atas sebagian besar tanah jajahannya di Asia selatan. EIC hanya melakukan kontrol melalui banyak penguasa lokal, khususnya yang berperan sebagai penasihat atau pemungut pajak. Keadaan itu berubah total sejak pecahnya Pemberontakan Sepoy pada 10 Mei 1857.

photo
Lukisan yang menunjukkan Bahadur Shah II menjelang pengasingannya ke Birma. Dialah raja terakhir dalam sejarah Imperium Mughal. - (DOK WIKIPEDIA)

Momen Akhir Riwayat Mughal

Mirza Abu Zafar Sirajuddin Muhammad naik menjadi pemimpin Mughal sesudah ayahnya wafat pada 1837 M. Bergelar Bahadur Shah II, dirinya mewarisi kerajaan yang porak poranda dan tidak lagi berwibawa. Alih-alih seluruh India, kekuasaannya hanya tersisa di Delhi dan sekitarnya. Bagaimanapun, Britania Raya masih menghormatinya sebagai seorang tokoh ningrat.

Dalam dua dekade pertama, masa pemerintahannya berjalan cukup lancar. Hubungannya dengan Inggris tetap terjaga baik. EIC bahkan diperbolehkannya untuk menarik pajak di kawasan Delhi.

Dalam menjalankan fungsinya, EIC diperkuat lini militer. Komposisi angkatan bersenjata itu tidak hanya diisi orang Inggris, tetapi juga orang-orang India yang dinamakan kaum sepoy. Komparasi di antara keduanya cukup timpang. Ada sekira 50 ribu tentara Inggris, sedangkan jumlah tentara sepoy di EIC lebih dari 300 ribu personel. Orang-orang lokal itu kebanyakan adalah pemeluk Islam dan Hindu.

Situasi berubah sejak awal Mei 1857. Menurut sejarawan Illinois University Firas Alkhateeb dalam Lost Islamic History, para tentara sepoy saat itu menemukan, kartrid mesiu yang harus mereka gigit untuk dibuka ternyata diminyaki dengan lemak babi dan sapi. Kedua bahan itu jelas haram, baik bagi orang Muslim maupun Hindu.

 
Kartrid mesiu yang harus mereka gigit untuk dibuka ternyata diminyaki dengan lemak babi dan sapi. Kedua bahan itu jelas haram bagi Muslim maupun Hindu.
 
 

Ratusan ribu prajurit sepoy pun turun ke jalan untuk memprotes EIC. Sebagian besar dari mereka juga datang ke istana di Delhi guna menuntut Bahadur Shah II. Raja Mughal itu diserukan untuk memimpin langsung perlawanan terhadap Inggris.

Sesungguhnya, kemarahan mereka yang dipicu “insiden kartrid” hanyalah puncak gunung es dari seluruh kebencian yang mendalam terhadap Britania Raya. Mereka memandang bangsa Eropa itu telah menguras habis kekayaan negeri India, dan menyisakan penduduk lokal dalam keadaan tidak berdaya.

Menghadapi aspirasi rakyat, Bahadur Shah II bersikap ragu. Pada 16 Mei 1857, para tentara sepoy membunuh 52 orang Eropa di Delhi, termasuk yang berada dalam tahanan. Tindakan mereka memang tidak dilakukan atas perintah atau restu sang raja Mughal. Namun, Inggris belakangan menuding Bahadur tidak mampu mengendalikan keadaan.

Antara bulan Juni dan September 1857, EIC mengepung Delhi. Dalam waktu relatif singkat, pemberontakan kaum sepoy dapat diatasi. Ratusan orang sepoy dihukum gantung. Walaupun tidak sampai dieksekusi mati, Bahadur pun menjalani hukuman pengasingan.

Dalam usia 83 tahun, ia dibuang ke Rangoon, pusat koloni Inggris di Myanmar. Waktu Delhi menunjukkan pukul 04.00 pagi, tanggal 7 Oktober 1858 M. Itulah momen yang juga menandakan berakhirnya riwayat Kesultanan Mughal.

KH Mas Mansur Sang Pembangkit Nasionalisme

KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansur turut berjasa dalam menyebarkan kesadaran akan cinta pada Tanah Air. 

SELENGKAPNYA

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat.

SELENGKAPNYA

Ustaz Faisol Nasar Kembali Nahkodai Al Irsyad

Al Irsyad akan menggenjot bidang pendidikan dan memperbanyak amal usaha.

SELENGKAPNYA