ILUSTRASI Masjid Badshahi, salah satu legasi arsitektur era Mughal di Pakistan. Kerajaan Islam Mughal mengalami senja kala sejak abad ke-18. | EPA

Tema Utama

Senja Kala Mughal

Sesudah era Aurangzeb, kerajaan Islam ini terus mengalami degradasi.

Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dalam Muqaddimah mengemukakan tiga jenis generasi yang dapat ditemukan di sepanjang sejarah suatu peradaban. Pertama, para pembangun. Dalam membangun negeri, mereka bersedia tunduk di bawah otoritas yang mempersatukan. Didorong oleh solidaritas sosial (ashabiyah) yang kukuh, generasi itu pun tulus berjuang dan hidup bersahaja demi mencapai cita-cita bersama.

Kedua, para penikmat. Mereka hidup dalam masa damai serta memperoleh keuntungan, baik secara ekonomi maupun politik, dari sistem kekuasaan yang mapan. Generasi tersebut lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri. Persatuan nasional masih terasa, tetapi ashabiyah menjadi lebih longgar bila dibandingkan dengan para pendahulu mereka.

Terakhir, generasi yang apatis atau tidak memedulikan ashabiyah. Dalam keadaan makmur, orang-orang ini suka hidup bermewah-mewahan. Tambahan pula, para pemimpinnya cenderung mengabaikan prinsip-prinsip keadilan. Alhasil, mereka tidak lagi mahir mempertahankan persatuan negeri.

 
Pada tahap ini, mereka dihinggapi penyakit (sosial) yang kronis, yang tak terhindarkan lagi. Hingga pada saatnya, mereka menderita kehancuran.
 
 

“Pada tahap ini, mereka dihinggapi penyakit (sosial) yang kronis, yang tak terhindarkan lagi. Hingga pada saatnya, mereka menderita kehancuran,” tulis Ibnu Khaldun, seperti dinukil Toto Suharto (2020).

Sebagai sebuah representasi peradaban Islam di India, Dinasti Mughal pun mengalami periodisasi demikian. Pada mulanya, wangsa tersebut sukses menaklukkan satu per satu daerah-daerah di Anak Benua India. Begitu berhasil mengendalikan (hampir) seluruh region tersebut, kerajaan Islam ini mencapai masa keemasan. Kekayaannya bahkan mengalahkan Britania Raya dalam kurun masa yang sama.

Namun, kejayaan itu memudar seiring berjalannya waktu. Setelah raja-raja yang cakap meninggal, Dinasti Mughal mengalami krisis kepemimpinan. Kemelut tidak hanya terjadi pada bidang politik, tetapi juga ekonomi dan sosial masyarakat. Sejak awal abad ke-18 Masehi, kesultanan tersebut memasuki periode senja kala.

photo
ILUSTRASI Jembatan Alamgiri di kompleks Benteng Lahore, salah satu legasi arsitektur Mughal. Kerajaan Islam ini alami kemunduran sejak era Aurangzeb. - (DOK WIKIPEDIA)

Dalam kurun tahun 1526-1857 M, tercatat sebanyak 20 penguasa yang pernah memimpin Mughal. Dinasti tersebut berderap maju terutama saat dipimpin pendirinya, Sultan Babur (1526-1530), serta ketiga penerusnya, yakni Akbar I (1556-1605), Shah Jahan (1628-1658) dan Aurangzeb (1658-1707). Hal itu ditandai dengan meluasnya wilayah kekuasaan dan maraknya pembangunan. Bahkan, beberapa di antara legasi mereka masih dapat dijumpai kini, semisal Taj Mahal di Agra dan Lal Qila (Benteng Merah) di Delhi.

Sebelum mendirikan Wangsa Mughal, Babur terlebih dahulu menjadi penguasa di Fergena dan Kabul. Kemenangannya dalam Perang Panipat I pada tahun 1526 mengawali kekuasaannya di India. Meskipun “hanya” memerintah selama empat tahun, ia berhasil meletakkan fondasi yang kukuh untuk kerajaan besar yang dirintisnya.

Akbar memperoleh haknya atas takhta saat masih berusia 14 tahun. Pemerintahan kemudian dipegang oleh ibunya hingga dirinya dipandang cukup umur. Dalam masa kekuasaannya, Mughal menerapkan kebijakan negara yang menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan. Hasilnya, masyarakat cenderung mudah bersatu karena memiliki ashabiyah yang kuat.

Shah Jahan tampil menjadi raja setelah mengalahkan lawan-lawan politiknya pasca-kematian Jahangir (1569-1627). Di bawah kendalinya, Mughal tampak semakin condong pada identitas negara Islam. Selain itu, ia pun menggiatkan ekspansi wilayah hingga ke dataran tinggi Dakka. Dalam masa pemerintahannya, peradaban Islam di India semakin berkembang, termasuk pada bidang arsitektur. Taj Mahal adalah salah satu warisannya untuk dunia.

Aurangzeb dapat dikatakan sebagai yang terakhir dari kelompok generasi pertama, seperti dirumuskan dalam teori Ibnu Khaldun. Raja yang lahir dengan nama Muhi ad-Din Muhammad itu mengikuti jejak keberhasilan para pendahulunya dalam memperluas wilayah kekuasaan. Bahkan, dirinya mengendalikan hampir seluruh Anak Benua India.

Persatuan nasional juga terjaga dengan cukup baik. Aurangzeb menjalankan pemerintahan yang lebih mengandalkan meritokrasi, alih-alih politik identitas. Terbukti, banyak pejabat kerajaannya yang berasal dari kalangan non-Muslim, semisal Hindu, karena mereka dinilai mampu dan terampil.

 
Terbukti, banyak pejabat kerajaannya yang berasal dari kalangan non-Muslim, semisal Hindu, karena mereka dinilai mampu dan terampil.
 
 

Dalam paruh pertama masa kepemimpinannya, Aurangzeb berhasil membawa kemakmuran. Nyaris seperempat dari total nilai produksi (gross domestic product/GDP) dunia dikendalikan oleh Mughal. Kekayaan dinasti Islam di India itu melampaui Imperium Qing di Cina.

Namun, semua pencapaian itu kian meredup sesudah wafatnya Aurangzeb pada 1707 M. Para penerusnya memberlakukan pajak yang semakin membebani masyarakat, khususnya kaum petani. Pada saat yang sama, mereka enggan berinvestasi untuk perkembangan militer. Tambahan pula, orang-orang yang tidak kompeten terus mengisi berbagai peran krusial di pemerintahan.

Akhirnya, Mughal menuai kemunculan gelombang generasi ketiga, yaitu mereka yang tidak lagi memedulikan ashabiyah. Banyak tokoh lokal yang memberontak terhadap pemerintah pusat. Bahkan, tidak sedikit di antaranya yang mendeklarasikan independensi wilayahnya dari kendali sultan Mughal.

Masalah semakin rumit dengan perebutan kekuasaan di Istana. Pada tahun 1719 M saja, dinasti tersebut mengalami pergantian kepemimpinan hingga tiga kali. Mereka yang berkonflik untuk memperebutkan hak atas takhta adalah Rafi ud-Darajat, Rafiuddin Muhammad (lebih dikenal sebagai Shah Jahan II), dan Muhammad Shah.

Berbagai mala

Dalam periode Muhammad Shah (1719-1748), perpecahan Imperium Mughal tidak terelakkan lagi. India tengah direbut oleh Konfederasi Maratha. Pada 1739, Delhi diserang Nader Shah dalam Perang Karnal. Sesudah itu, pemimpin berdarah Persia tersebut mendirikan Dinasti Afshariyah di sana.

Setidaknya sejak medio abad ke-18 M, bangsa-bangsa Eropa mulai menancapkan pengaruhnya di pesisir Samudra Hindia. Pada 1746 M, Mughal terlibat konflik dengan kongsi dagang Inggris (EIC) dan Prancis (La Compagnie) dalam memperebutkan sebagian wilayah pesisir Koromandel. Sebenarnya, Perang Carnatic—demikian konflik itu dinamakan—yang berlangsung antara tahun 1745 dan 1763 berlangsung dalam konteks persaingan kolonial antara Inggris dan Prancis. Namun, tempat terjadinya adalah di India sehingga berdampak langsung pada Imperium Mughal.

Barulah pada 1756 M, Mughal berhadapan langsung dengan EIC dalam Perang Bengal. Pertempuran itu dilatari jatuhnya wilayah Bengal ke tangan Inggris beberapa tahun sebelumnya. EIC menolak pengiriman upeti tahunan untuk Mughal sehingga pangeran Ali Gauhar—kelak menjadi Sultan Shah Alam II—mengumumkan perang terhadap entitas kolonial itu.

Namun, Shah Alam II gagal. Pada 1765 M, kedua belah pihak bersepakat dalam Perjanjian Allahabad. Di satu sisi, EIC bersedia mengirimkan upeti tahunan sebesar 260 ribu poundsterling kepada sultan Mughal. Di sisi lain, kerajaan Islam itu menyerahkan kepada Inggris hak pengumpulan pajak atas masyarakat Bengal, Bihar, dan Orissa. Para sejarawan kerap menjadikan momen perjanjian itu sebagai awal mula penjajahan Inggris atas India.

 
Pada 1770, terjadilah sebuah peristiwa yang dahsyat: wabah kelaparan Bengal. Dalam kejadian yang memilukan itu, 1 juta hingga 2 juta jiwa meninggal.
 
 

Pada 1770, terjadilah sebuah peristiwa yang dahsyat: wabah kelaparan Bengal. Dalam kejadian yang memilukan itu, 1 juta hingga 2 juta jiwa meninggal dunia. Umumnya sejarawan memandang mala tersebut sebagai tanda utama runtuhnya Imperium Mughal.

Bengal saat itu, secara administratif, termasuk wilayah kekuasaan Mughal. Namun, kekalahan Shah Alam II terhadap EIC—yang berujung pada Perjanjian Allahabad—membuat kerajaan Islam tersebut kehilangan kuasa de facto atas daerah tersebut. Sejak September 1769, daerah tersebut mulai dilanda kekeringan hebat.

EIC terkesan lamban dalam merespons situasi. Kongsi dagang Inggris tersebut pun tidak melakukan mitigasi yang maksimal. Bahkan, rakyat setempat masih ditarik pajak yang tinggi olehnya di tengah kondisi gagal panen yang meluas.

Ironisnya, Bengal di kemudian hari slagi-lagi mengalami wabah kelaparan, yakni ketika dijajah langsung oleh Britania Raya. Mala itu terjadi pada saat Perang Dunia II, tepatnya periode 1943-1944. Jumlah korban meninggal pun mencapai 3,8 juta jiwa—jauh melampaui bencana yang sama pada era (de jure) Mughal.

photo
ILUSTRASI Salah satu detail ornamen khas budaya Hindu di benteng era Mughal. Imperium Mughal dilanda perpecahan sejak abad ke-18. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada 1788, orang-orang Pashtun yang dipimpin Ghulam Qadir menyerbu Delhi. Shah Alam II tidak hanya kewalahan menghadapi mereka. Ia sendiri termasuk yang ditawan sesudah peristiwa tersebut. Di dalam tahanan, dirinya mendapatkan berbagai siksaan yang berujung pada kebutaan matanya.

Ghulam Qadir lalu menunjuk Mahmud Shah Bahadur untuk menjadi pemimpin Mughal. Sebagai “raja boneka”, sosok bergelar Shah Jahan IV itu hanya 63 hari memegang kekuasaan. Pada Oktober 1788, Shah Alam II berhasil merebut kembali Delhi. Shah Jahan IV kemudian dieksekusi mati.

Selama 45 tahun, pemilik nama asli Ali Gohar itu memimpin Mughal. Namun, kesultanannya semakin lemah, terutama di hadapan ekspansi kolonial Inggris. Terutama sesudah Perang Delhi pada 1803, dirinya tidak lagi memiliki kekuatan militer. Secara de facto, Mughal merupakan negeri bawahan Britania di India. Para elite EIC memanggilnya “raja Delhi”, alih-alih “sultan Mughal.” Pada 1806, Shah Alam II meninggal dunia di istananya.

Penerusnya adala seorang putranya yang berjulukan Akbar II. Seperti bapaknya, ia pun hampir-hampir tidak memiliki kekuasaan de facto. Pengaruh kepemimpinannya hanya terasa di Delhi dan sekitarnya.

Akbar II wafat dalam usia 77 tahun. Penggantinya adalah seorang putranya yang bernama Bahadur Shah Zafar. Pada 1857, pemberontakan terhadap EIC pecah di berbagai daerah India. Britania menuduh sang raja Muslim terlibat dalam kejadian itu. Pada 1858, ia pun diasingkan ke Rangoon, wilayah jajahan Inggris di Myanmar. Hal itu pun menandai tamatnya riwayat Imperium Mughal, yang telah eksis selama lebih dari tiga abad, secara keseluruhan.

KH Mas Mansur Sang Pembangkit Nasionalisme

KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansur turut berjasa dalam menyebarkan kesadaran akan cinta pada Tanah Air. 

SELENGKAPNYA

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat.

SELENGKAPNYA

Ustaz Faisol Nasar Kembali Nahkodai Al Irsyad

Al Irsyad akan menggenjot bidang pendidikan dan memperbanyak amal usaha.

SELENGKAPNYA