ILUSTRASI Tayamum terdiri atas beberapa tahapan. | DOK WIKIPEDIA

Khazanah

Ketentuan Bertayamum

Islam membolehkan seorang Muslim untuk bertayamum dalam kondisi tertentu.

Islam mengajarkan pentingnya kebersihan diri, baik secara jasmani maupun rohani. Dalam peristilahan fikih, pembersihan itu disebut sebagai thaharah. Ada beragam caranya. Salah satunya ialah tayamum, yakni bersuci dengan debu, pasir, atau tanah yang suci karena tiadanya air.

Sebagai contoh, wudhu merupakan amalan yang wajib dilakukan sebelum seseorang melaksanakan shalat. Namun, apabila tidak menemukan air yang suci dan menyucikan, ia dapat melakukan tayamum.

Inilah salah satu bukti, penerapan syariat tidak menimbulkan beban bagi manusia. Ada berbagai kemudahan yang bisa dipilih dalam konteks situasi tertentu.

photo
ILUSTRASI Salah satu sebab yang membolehkan tayamum ialah kelangkaan air bersih. - (DOK PXHERE)

Kelangkaan Air

Beberapa keadaan menjadi penyebab dibolehkannya seseorang melakukan tayamum. Pertama, ketiadaan air yang suci lagi menyucikan. Hal lainnya, air yang bersih tersedia, tetapi tidak mencukupi bila dipakai untuk bersuci.

Dalam Alquran surah an-Nisa ayat 43, Allah berfirman, yang artinya, “Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci).”

photo
ILUSTRASI Tayamum dapat jadi alternatif bagi mereka yang dalam masa penyembuhan. - (DOK PXHERE)

Kendala Fisik

Kondisi kedua yang menyebabkan bolehnya tayamum adalah faktor fisik. Hal itu ketika penggunaan air justru berpotensi membahayakan atau membawa mudharat yang lebih besar, semisal sakit yang diderita kian lama masa penyembuhannya.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, beberapa sahabat melakukan safar. Seorang di antara mereka lalu bermimpi basah sehingga wajib mandi. Padahal, ia mengalami luka yang parah pada kepala.

Kawan-kawannya berujar, “Tiada keringanan bagimu karena kita punya air.” Sesudah mandi besar, orang tersebut meninggal dunia. Saat dikabari perihal ini, Nabi SAW menyesali perbuatan mereka, dan bersabda, “Obat kebodohan adalah bertanya. Padahal, cukup baginya bertayamum.”

Tata Cara

Berikut ini tata cara bertayamum. Pertama, niat disertai dengan basmalah. Kedua, meletakkan kedua telapak tangan pada tanah atau tempat yang berdebu, lalu meniup keduanya sebanyak satu kali. Ketiga, usap kedua telapak tangan itu pada wajah.

Terakhir, usapkan telapak tangan kiri pada punggung telapak tangan kanan hingga area pergelangan. Kemudian, usapkan telapak tangan kanan pada punggung tangan kiri hingga pergelangan. Masing-masing sekali usapan.

KH Mas Mansur Sang Pembangkit Nasionalisme

KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansur turut berjasa dalam menyebarkan kesadaran akan cinta pada Tanah Air. 

SELENGKAPNYA

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat.

SELENGKAPNYA

Islamic Relief: Perempuan Rentan terhadap Perubahan Iklim

Lombok menjadi salah satu pulau yang berisiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim.

SELENGKAPNYA