Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Royal Namun tak Boros Ala Qatar

Mengeluarkan uang banyak belum tentu boros, bergantung seberapa bijak perencanaan dan penggunaannya.

OLEH ASMA NADIA

Qatar bukan sekadar negara kaya, tapi supersejahtera. Pada 2017, bahkan menjadi negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Pendapatan per kapita merupakan indikator kemakmuran penduduk di suatu negara.

Nilainya, diukur dari pendapatan rata-rata setiap penduduk  di semua wilayah negara tersebut. Meski sempat dikucilkan dari kekuatan besar di Timur Tengah yaitu oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, Qatar tetap kekuatan ekonomi yang besar.

Pada 2022, Qatar urutan ke-4 dengan nilai per kapita 93.508 dolar AS, jika dirupiahkan setiap warga Qatar berpenghasilan Rp 1,46 miliar per tahun. Dengan kesejahteraan sebesar itu, tak sulit bagi Qatar membangun berbagai stadion mewah untuk Piala Dunia.

 

 
Sebagai salah satu puncak pesta olahraga sepak bola internasional, penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar sangat mahal.
 
 

 

Sebagai salah satu puncak pesta olahraga sepak bola internasional, penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar sangat mahal. Qatar bahkan mencetak rekor sebagai penyelenggara Piala Dunia dengan biaya termahal dalam sejarah.

Yaitu 200 miliar dolar AS, setara Rp 3.129 triliun lebih atau kurang lebih sama dengan APBN Indonesia 2022. Bandingkan saja dengan biaya Piala Dunia lainnya. Untuk penyelenggaraan Piala Dunia, Rusia menghabiskan 11 miliar dolar AS atau Rp 172 triliun.

Brasil menggerus 15 miliar dolar AS atau Rp 234 triliun, Afrika Selatan 3,6 miliar dolar AS atau Rp 56,3 triliun. Jerman Rp 67,2 triliun, Jepang dan Korea berbagi biaya 7 miliar dolar AS atau Rp 10,9 triliun.

Sedangkan Prancis menggunakan 2,3 miliar dolar AS atau Rp 35 triliunan, Amerika cuma 0,5 miliar dolar AS atau Rp 7,8 triliun. Uniknya sekalipun seluruh biaya Piala Dunia digabung, masih kalah besar dari yang dialokasikan Qatar.

 

 
Apakah tingginya biaya ini menunjukkan negara makmur tersebut boros? Nanti dulu.
 
 

Apakah tingginya biaya ini menunjukkan negara makmur tersebut boros? Nanti dulu. Sekalipun Qatar berkecukupan, tetapi tidak memboroskan uangnya hanya untuk Piala Dunia.

Qatar belajar dari bagaimana stadion di Brasil yang sangat mahal biaya pembuatannya menjadi bangunan usang tak terawat. Atau bagaimana Rusia yang kaya pun cukup terbebani biaya perawatan stadion besar mereka.

Di Indonesia, kita sering membaca berita banyak stadion rusak setelah penyelenggaraan PON, SEA Games, atau Asian Games. Qatar ingin memastikan, biaya yang mereka keluarkan tak menjadi sampah di masa depan.

Benar, terkait persiapan Piala Dunia, Qatar menyiapkan stadion megah berkapasitas besar. Stadion Lusail Iconi­c menampung 80 ribu orang dan menjadi tuan rumah 10 pertandingan di seluruh turnamen, termasuk final pada 18 Desember 2022.

 
Benar, terkait persiapan Piala Dunia, Qatar menyiapkan stadion megah berkapasitas besar.
 
 

Stadion Al Bayt, terbesar kedua dengan kapasitas 60 ribu penonton. Stadion 974, salah satu dari tiga stadion terkecil dalam kompetisi tetapi mampu menampung 40 ribu penonton.

Stadion Al Thumama berkapasitas 40 ribu tempat duduk menjadi tuan rumah delapan pertandingan, termasuk perempat final. Stadion Internasional Khalifa, salah satu yang tertua di negara ini. Dibangun pada 1976 dan kapasitasnya sampai 45 ribu penonton.

Stadion Education City menampung lebih dari 45 ribu penonton dan tuan rumah delapan pertandingan. Stadion Ahmad bin Ali sangat dekat dengan gurun sehingga suhu bisa menjadi panas, berkapasitas 40 ribu penonton.

Sedangkan Stadion Al Janoub yang atapnya bisa dibuka dan ditutup sanggup menampung 40 ribu penonton. Bagaimana nasib stadion-stadion itu setelah Piala Dunia? Mustahil seluruh stadion bisa dimanfaatkan penduduk Qatar.

 
Menyadari hal ini, Qatar tak mau boros. Mereka merancang stadion sedemikian rupa, setelah turnamen bisa diperkecil kapasitasnya.
 
 

Jika ditotal, kursi di stadion Qatar 390 ribu kursi, sedangkan warga Qatar hanya sekitar 300 ribu orang. Jika seluruh rakyat Qatar menonton bersamaan sekalipun di stadion, masih ada kursi tersisa. Populasi Qatar 2,6 juta, dengan kata lain 2,3 juta adalah ekspatriat.

Menyadari hal ini, Qatar tak mau boros. Mereka merancang stadion sedemikian rupa, setelah turnamen bisa diperkecil kapasitasnya. Stadion Al Thumama misalnya, setengah dari kapasitasnya dikurangi setelah akhir turnamen.

Stadion Lusail, sebagian besar dari 80 ribu kursinya, akan dipindahkan dan disumbangkan untuk proyek olahraga. Stadion Al Bayt, setelah Piala Dunia, tingkat teratas dihilangkan, mengurangi kapasitas menjadi 32 ribu kursi.

Stadion 974, kode panggilan telepon Qatar, disusun dari 974 kontainer bisa dibongkar usai Piala Dunia, akan dibongkar dan digunakan kembali. Qatar pun mendata negara di Afrika yang siap menampung kursi berlebih itu untuk membangun stadion di tempat yang membutuhkan.

 
Mengeluarkan uang banyak belum tentu boros, bergantung seberapa bijak perencanaan dan penggunaannya. 
 
 

Mengeluarkan uang banyak belum tentu boros, bergantung seberapa bijak perencanaan dan penggunaannya. Boros bukan soal berapa jumlah biaya yang dikeluarkan tetapi seberapa uang itu sepadan dengan manfaat.

Pemerintah Qatar sadar uang yang mereka keluarkan sangat besar. Namun, mereka melihat agenda lebih besar dari sekadar Piala Dunia. Qatar memperkenalkan budaya mereka melalui bentuk stadion mewah tetapi memiliki ciri khas.

Ada stadion berbentuk tenda tradisional Qatar, kopiah khas Qatar, mangkuk khas Timur Tengah, perahu tradisional. Mengagumkan melihat apa yang Qatar coba lakukan di Piala Dunia. Mereka memastikan semua memadai, maksimal manfaat, dan tidak terbuang sia-sia.

Pada saat yang sama, menjadikan biaya yang dikeluarkan sekaligus sebagai media promosi akbar bagi kearifan lokal negerinya.

Akhlak Muslimah Calon Tetangga Rasulullah SAW di Surga

Ada sepuluh akhlak bagi Muslimah yang ingin menjadi tetangga Rasulullah SAW kelak di surga.

SELENGKAPNYA

Muslim Melayu dan Prinsip Jalan Tengah

Islamisasi secara damai dan perlahan ini membentuk ciri muslim Asia Tenggara

SELENGKAPNYA

Siti Walidah Dahlan, Perempuan Pejuang dari Aisyiyah

Menantang zaman mengangkat derajat perempuan.

SELENGKAPNYA