Internet of Things (Ilustrasi). Mengupas pembingkaian wacana ideologi politik gerakan Islam di ruang publik digital. | Pixabay

Kitab

Memotret Perdebatan Ideologis di Jagat Maya

Wamenag memaparkan 'pertarungan' diskursus kalangan moderat dan Islamis di internet.

Prinsip jalan tengah (wasathiyah) dalam beragama berarti mengutamakan sikap moderat. Artinya, pendirian yang tidak terlalu ekstrem dan tekstual dalam mengamalkan ajaran. Dalam konteks pergerakan Islam di Indonesia, wasathiyah menjadi ideologi arus utama.

Terbukti, banyak organisasi masyarakat (ormas) Muslim yang telah berusia puluhan tahun serta memiliki jangkauan pengikut di seluruh Tanah Air mengadopsi paham tersebut.

Dalam buku terbarunya, Wakil Menteri Agama (Wamenag) KH Zainut Tauhid Sa’adi membahas perihal perdebatan ideologis antara gerakan-gerakan wasathiyah dan entitas yang disebutnya sebagai “gerakan Islamis.” Kontestasi Ideologi Politik, demikian judul karya tersebut, lebih lanjut menyoroti perjumpaan diskursus itu yang terjadi di ruang publik digital. Alhasil, pembahasan di dalamnya kian relevan dengan dinamika umat Islam akhir-akhir ini.

Kontestasi Ideologi Politik berasal dari disertasi penulisnya saat menempuh studi doktoral di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Dalam karya ilmiahnya itu, Kiai Zainut mengelompokkan beberapa organisasi masyarakat (ormas) Islam di Tanah Air berdasarkan kecenderungan ideologis masing-masing. Untuk selanjutnya, mereka dimasukkan ke dalam dua golongan, yakni gerakan Islam arus utama dan kalangan Islamis.

 
Kiai Zainut mengelompokkan beberapa ormas Islam di Tanah Air berdasarkan kecenderungan ideologis masing-masing ke dalam gerakan Islam arus utama dan kalangan Islamis.
 
 

Yang pertama itu diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Adapun yang terakhir direpresentasikan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI). Menurut Kiai Zainut, setiap gerakan Islam tersebut memanfaatkan internet sebagai ruang publik digital untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, atau pendapat masing-masing. Termasuk dalam diseminasi itu adalah pengejawantahan ideologi mereka pada bidang keagamaan dan kenegaraan.

Mantan wakil ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menambahkan, ruang digital tidak hanya memunculkan demokratisasi, tetapi juga fragmentasi otoritas keagamaan. Dalam konteks dinamika ormas Islam dan gerakan Islamis, jagat internet pun dinilanya turut mempertajam kontestasi dan polarisasi ideologis.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, wacana ideologi yang diproduksi dan didistribusikan oleh gerakan-gerakan Islamis di ruang digital cenderung menarik bagi kalangan kelas menengah Muslim perkotaan. Mereka terutama berasal dari kelompok-kelompok yang dilanda gelombang titik balik agama. Sementara itu, wacana ideologi yang diproduksi ormas-ormas Islam arus utama cenderung memperoleh penerimaan luas dari kalangan masyarakat santri, Muslim moderat, dan kaum abangan.

 
Wacana ideologi yang diproduksi ormas Islam arus utama cenderung memperoleh penerimaan luas kalangan santri, Muslim moderat, dan kaum abangan.
 
 

Antara ormas Islam dan gerakan Islamis pun memiliki kesamaan dalam memanfaatkan ruang digital. Di jagat maya, setiap mereka sama-sama sama membingkai wacana ideologi politik yang diyakini masing-masing dengan menggunakan bahasa dan simbol-simbol budaya populer secara kreatif. Hal itu tampak, antara lain, pada dampak keterkaitan (engagement) yang mereka hasilkan di berbagai platform media sosial.

Bagaimanapun, Kiai Zainut menyoroti adanya tantangan-tantangan yang mesti direspons kalangan ormas-ormas Islam arus utama. Di antaranya adalah temuan bahwa situs-situs yang bermuatan ideologi radikalisme cenderung dominan dan populer di tengah warganet Tanah Air. Maka dari itu, menurut dia, perlu adanya kontra-narasi yang diupayakan secara berkesinambungan oleh ormas-ormas, semisal NU dan Muhammadiyah.

Dengan perkataan lain, kedua ormas tersebut—dan sebagainya yang juga berpaham wasathiyah—seyogianya menggiatkan metode dakwah digital. Inovasi-inovasi dalam menciptakan dan membawakan konten perlu dibuat lebih komunikatif untuk memperbanyak engagement. Syiar keislaman yang mempersatukan, menyuarakan persaudaraan, dan moderat di internet perlu lebih dikembangkan dan diproduksi secara masif.

photo
Melalui buku ini, KH Zainut Tauhid Saadi memaparkan dinamika wacana ideologis ormas dan gerakan Islam yang edar via media digital. - (DOK IST)

Isi buku

Pembahasan dalam buku Kontestasi Ideologi Politik terbagi menjadi enam bab. Pertama adalah bagian pendahuluan, seperti umumnya teks-teks disertasi. Kedua, bagian yang membahas perihal gerakan sosial dan kontestasi ideologi di ruang publik digital.

Berikutnya, penulis membatasi kajiannya pada dinamika dalam dua representasi ormas Islam arus utama, yakni NU dan Muhammadiyah. Dalam bagian tulisan yang sama, ia pun mengetengahkan dinamika HTI dengan FPI sebagai contoh gerakan Islamis.

Mengenai kedua representasi Islamis tersebut, Kiai Zainut mengingatkan pembaca pada fungsi ruang digital sebagai tempat diseminasi gagasan secara bebas dan tak terikat ruang-waktu. Semua pihak dapat berinteraksi, termasuk dengan paham-paham yang bertengangan dengan NKRI dan Pancasila.

Menurut dia, kelompok-kelompok semisal HTI dan FPI acap kali menyuarakan pandangan radikal, semisal mempersoalkan ulang Pancasila sebagai dasar negara dan menghendaki penerapan sistem pemerintahan Islam.

Bab berikutnya mengupas pembingkaian wacana ideologi politik gerakan Islam di ruang publik digital. Kemudian, dalam bab kelima penulis mengkaji berbagai kebijakan pemerintah dalam menghadapi gerakan-gerakan Islamis di jagat maya. Akhirnya, sampai pada bab terakhir yakni bagian kesimpulan.

 
Buku ini menyajikan analisis yang cukup mendalam dan konprehensif mengenai cara-cara pelbagai gerakan Islam menyebarkan ideologi mereka.
 
 

Secara keseluruhan, buku ini menyajikan analisis yang cukup mendalam dan konprehensif mengenai cara-cara pelbagai gerakan Islam dalam menyebarkan ideologi mereka. Dengan adanya teknologi digital, setiap organisasi dapat lebih leluasa dalam melakukan diseminasi gagasan dan pengaruh ke tengah masyarakat. Pada akhirnya, Zainut mengatakan, sasaran mereka cenderung dikhususkan pada kalangan anak muda.

Sebab, kebanyakan konsumen internet adalah generasi milenial dan yang lebih kemudian. Dalam sebuah diskusi bedah buku ini, Zainut berharap bahwa anak-anak muda Muslim tidak hanya mampu memfilter paham radikalisme dan ekstremisme yang acap kali ditemui di jagat maya. Mereka pun seyogianya turut menyemarakkan diseminasi ideologi wasathiyah. Hal itu dilakukan melalui pembuatan narasi yang dibalut dengan konten-konten yang kreatif dan menarik.

“Anak muda perlu membuat konten positif berbentuk digital yang dibuat sekreatif mungkin untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama. Hal itu dilakukan untuk membuat kontra-narasi terhadap paham-paham radikal yang selama ini sudah menguasai ruang publik digital,” ujar tokoh asal Jawa Tengah ini, seperti dilansir Republika dari laman Kementerian Agama beberapa waktu lalu.

“Karena itu, saya rasa sangat penting bagi anak muda untuk memperbanyak dan mengembangkan literasi digital guna mengimbangi konten-konten radikal yang kini sudah tersebar,” sambung dia.

Pesantren Cetak Generasi Berakhlak

Ponpes hadir untuk menghindari munculnya generansi yang kehilangan keteladanan.

SELENGKAPNYA

Gandeng Muhammadiyah, Erick Dorong Kemandirian Umat

BUMN dan Muhammadiyah sepakat untuk mengakselerasi industri obat herbal.

SELENGKAPNYA

Surakarta Message Beri Pesan Damai Bagi Dunia

Surakarta Message akan disampaikan pada seluruh umat beragama di dunia dan umum.

SELENGKAPNYA