IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Taman Versi Josef Borrell dan Syekh Al-Azhar

Lihatlah ketika revolusi Eropa berbicara ‘kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan’, pada waktu bersamaan armada mereka bersaing menjarah koloni.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Perwakilan Tinggi Uni Eropa (UE) untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Josef Borrell, menggambarkan Eropa sebagai taman sari.

"Eropa adalah taman, kami telah membangun taman, kombinasi terbaik dari kebebasan politik, kemakmuran ekonomi, dan kohesi sosial yang dapat dibangun umat manusia…" Sampai di sini, apa yang dikatakan Borrel pada pertengahan Oktober lalu tak jadi masalah.

Masalahnya, Borrell membagai dunia menjadi dua, yaitu Eropa dan "Selebihnya (selain Eropa), sebagian besar dunia, hutan belantara."

Ia melanjutkan, hutan belantara (penghuninya) dapat menyerang taman dan tukang taman harus merawatnya, tetapi tak akan melindungi taman dengan pagar. Taman kecil yang indah dikelilingi tembok tinggi untuk mencegah (serangan penghuni) hutan tidak akan menjadi solusi.

 
Tukang taman harus pergi ke hutan, orang Eropa harus lebih terlibat dengan seluruh dunia. Jika tidak, seluruh dunia menyerang Eropa.
 
 

Tukang taman harus pergi ke hutan, orang Eropa harus lebih terlibat dengan seluruh dunia. Jika tidak, seluruh dunia menyerang Eropa. Pernyataan Borrell langsung mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan --aktivis HAM, politisi, dan aktivis prodemokrasi.

Dalam pernyataannya, yang dipublikasikan di situs web UE, beberapa hari kemudian, ia mengatakan istilah ‘taman’ dan ‘hutan’ bukanlah penemuannya. Konsep ini hadir dalam diskusi akademik dan politik di Eropa dalam beberapa dekade.

Ia menjelaskan, konsep itu mengacu ‘hukum rimba’, yaitu sistem internasional didasarkan kehendak terkuat, bukan prinsip yang bisa diterima oleh semua.

"Ada yang salah mengartikan metafora itu sebagai Eurosentrisme kolonial. Saya minta maaf jika ada yang tersinggung," katanya. Namun, permintaan maaf Borrell tetap susah diterima. Apalagi, ketika ia justru mengatakan si penerima gagal paham.

 
Ia paham tingkat eksploitasi selama berbabad-abad terhadap mereka di luar taman itu, yang membuat pohon-pohon di taman tinggi, akarnya kuat, dan penampilannya cantik.
 
 

Philip Marlier, profesor Studi Eropa di Universitas London, mengatakan, analogi Borrell soal Eropa ‘sangat ofensif, dan memiliki nuansa kolonial dan rasis yang kuat’.

Dari dunia Islam, Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib juga marah dengan pernyataan Borrell. Namun, mengutip tulisan Ahmad el Sawy, pemimpin redaksi Shaut Al Azhar, Syekh Thayyib tahu betul bagaimana pohon dan tanaman di taman Eropa itu disiram.

Ia paham tingkat eksploitasi selama berbabad-abad terhadap mereka di luar taman itu, yang membuat pohon-pohon di taman tinggi, akarnya kuat, dan penampilannya cantik. Sementara itu, hutannya sendiri rusak karena dieksploitasi untuk mempercantik taman Eropa.

Lihatlah ketika revolusi Eropa berbicara ‘kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan’, pada waktu bersamaan armada mereka bersaing menjarah koloni. Warga di daerah jajahan dianggap budak untuk membangun taman Eropa.

Hingga kini, beberapa negara Eropa mengendalikan ekonomi negara bekas jajahan. Para elite sekuler Eropa yang mestinya netral antaragama, kenyataannya menolak negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim menjadi anggota UE, Turki misalnya.  

 
Lihatlah ketika revolusi Eropa berbicara ‘kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan’, pada waktu bersamaan armada mereka bersaing menjarah koloni.
 
 

Kekayaan dari eksploitasi negara-negara jajahan selama puluhan bahkan ratusan tahun, memungkinkan mereka membangun negara. Lalu kini mereka menampilkan diri sebagai taman kesejahteraan, kebebasan, dan persamaan.

Syekh Al-Azhar melihat, peradaban Barat (sistem Barat liberal) kini lepas dari prinsip-prinsipnya sendiri. Ia heran saat Barat mengibarkan panji persaudaraan, kebebasan, dan kesejahteraan. Semua itu tak diberikan ke rakyat koloni, kecuali setelah melalui perlawanan.

Ketika Barat mengibarkan panji demokrasi, pada waktu yang sama mendukung rezim tirani di banyak negara. Lalu ketika Barat berbicara HAM, mereka diam ketika hak itu dilanggar secara mengerikan di Palestina, bahkan di bawah perlindungan resmi mereka.

Saat Barat mengibarkan slogan kebebasan berpikir, mereka menghukum pemikir yang menolak mitos pendirian negara Yahudi, termasuk holocaust. Namun, saat ada yang menghina Islam, termasuk Nabi Muhammad SAW, itu dinyatakan kebebasan berpendapat.

Barat menyatakan kejahatan ekstremis Muslim sebagai terorisme Islam, tetapi bila itu dilakukan orang Kristen tidak dikatakan terorisme Kristen. Begitu pula bila kejahatan itu dilakukan orang-orang Yahudi di Palestina atas nama Tuhan mereka, tidak dikatakan terorisme Yahudi.

 
Barat menyatakan kejahatan ekstremis Muslim sebagai terorisme Islam, tetapi bila itu dilakukan orang Kristen tidak dikatakan terorisme Kristen.
 
 

Syekh Ahmad Thayyib tak menyangkal pencapaian peradaban Barat dalam sains dan teknologi. Yang terbaru, ia sampaikan di Forum Dialog Bahrain pada 4 November lalu. Ia menggunakan istilah ‘peradaban yang saling mengenal/mengisi’ sebagai ganti ‘benturan peradaban’.

Syekh Al-Azhar juga meminta Timur, terutama umat Islam, melihat Barat dengan pandangan baru -- mengandung kerendahan hati, prasangka baik, serta toleran. Baginya, peradaban manusia saat ini adalah kontribusi banyak pihak.

Peradaban harus didistribusikan ke bagian lain dunia, guna memastikan hasilnya menjangkau setiap orang dengan keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan sejati. Barat jelas mempunyai persyaratan menciptakan peradaban ideal, dengan syarat meninggalkan pemikiran kolonialnya.

Maka itu, keruntuhan sistem Barat liberal dipastikan bukan karena hutan belantara seperti dikatakan Borrell, tetapi arogansi dan superioritasnya. Juga, meminjam kalimat el-Sawy, pada upayanya membatasi dunia di taman yang kita tahu bagaimana pepohonannya diairi.

Teladan Ibnu Ummi Maktum

Keterbatasan fisik tidak lantas melemahkan ketaatan Ibnu Ummi Maktum kepada Allah dan Rasul SAW.

SELENGKAPNYA

Ratu Adil dari Masa ke Masa

Gerakan ratu adil di Indonesia memiliki sejarah panjang.

SELENGKAPNYA

Segera Tangani Cedera Olahraga

Penanganan cedera yang cepat dan tepat berperan penting untuk kesembuhan pasien.

SELENGKAPNYA