Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita saat kegiatan Posyandu balita khusus daerah pedalaman di Desa Matabundu, Kecamatan Laonti, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Jumat (13/11/2020). Kegiatan Posyandu keliling di daerah peda | JOJON/ANTARA FOTO

Hiwar

Ustazah Hani Akbar: Wujudkan Ketahanan Keluarga

Peran keluarga sangat fundamental dan krusial.

 

Ketahanan keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Untuk itu, setiap elemen perlu berperan serta untuk mewujudkannya. Dalam mewujudkan ketahanan keluarga, peran tunggal pemerintah atau keluarga saja tidak cukup.

Setiap elemen, lingkup organisasi maupun sosial harus mengambil andil peran yang sama guna mewujudkan cita-cita bangsa yang berperadaban dan berkemajuan serta berakhlak mulia.

Guna mengetahui lebih jauh tentang apa saja peran dan siapa yang bertugas melaksanakan peran membangun ketahanan keluarga, wartawan Republika Imas Damayanti mewawancarai Ketua Umum Muslimat Hidayatullah (Mushida) Ustazah Hani Akbar melalui sambungan telepon, Selasa (8/11).

photo
Ustazah Hani Akbar, Keluarga - (Dokpri)

Apa kaitan ketahanan keluarga dengan kemajuan bangsa?

Keluarga memang menjadi kelompok (organisasi) masyarakat terkecil dalam sebuah bangsa, tapi peran keluarga sangat fundamental dan krusial. Sudah banyak undang-undang yang berisikan tentang ketahanan keluarga, kita tahu itu. Cuma memang ini semua perlu pendampingan, yang agak sulit itu di controlling dan penggeraknya.

Begitu krusialnya sampai diatur dalam undang-undang oleh negara, artinya ketahanan keluarga ini memiliki kaitan erat dengan kemajuan bangsa. Karena kita tahu, peradaban itu bisa terbangun, ya, dimulainya itu dari rumah, dari keluarga.

Bagaimana cara mewujudkan ketahanan keluarga?

Ketahanan keluarga itu bukan sesuatu yang hanya di rumah saja, tapi juga menyambung ke sekolah, di masyarakat juga. Bagaimana di masyarakat terbentuk sebuah lingkungan yang sangat mendukung, maka insya Allah negara kita bisa mewujudkan cita-citanya.

Siapa yang berperan dalam mewujudkan ketahanan keluarga?

Setiap elemen memiliki tugas untuk ambil peran mewujudkan ketahanan keluarga. Kalau dalam prinsip-prinsip ketahanan keluarga, antara ulama dan umara (pemimpin) itu saling bersinergi memberikan masukan. Pemerintah mengeluarkan regulasi, ulama memberikan masukan-masukan.

 
Antara ulama dan umara (pemimpin) itu saling bersinergi memberikan masukan. Pemerintah mengeluarkan regulasi.
USTAZAH HANI AKBAR
 

Kemudian, tugas keluarga, sekolah, serta masyarakat. Misalnya, kita lihat di dalam rumah ada peran sentral seorang ibu yang menjadi pilar utama, madrasatul-ula. Jadi, keteladanan seorang ibu itu bisa berkontribusi terhadap ketahanan keluarga. Seorang ibu yang fasih dalam agama memiliki kreativitas, kesabaran, dan kepintaran.

Kemudian, di sekolah, bagaimana guru-guru juga harus dibekali dan membekali diri dengan kemampuan parenting yang baik. Dalam surah an-Nisa ayat 4 itu disebutkan bahwa takutlah kalian meninggalkan generasi yang lemah. Maksudnya lemah apa? Ya, lemah ekonomi, lemah intelektualitasnya, dan lemah-lemah yang lain.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BKKBN (@bkkbnofficial)

Artinya apa?

Sekolah tidak boleh meninggalkan anak didiknya. Harus dirangkul, diajak, dididik dengan sebaik-baiknya, jangan abai. Sedangkan, di masyarakat, siapa yang berperan? Setiap dari kita. Ada lingkungan yang diikat dengan aturan-aturan.

Ciptakan lingkungan yang kondusif, aturan-aturan diciptakan untuk hadirnya kontrol. Siapa yang kontrol itu semua? Semua ikut andil, termasuk umara yang bertugas menjaga anak-anak kita. Kan dalam undang-undang bahkan disebutkan, fakir miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Apakah itu sudah (terlaksana)?

Semua elemen memiliki peran yang berbeda-beda?

Setiap elemen mengambil perannya masing-masing dengan kapasitas yang dimiliki, sehingga di rumah perannya itu sekian persen, sekolah sekian persen, di masyarakat sekian persen. Jangan lupa, masyarakat juga bisa melakukan kontrol melalui media sosial, dan memang yang sudah ada jalurnya, bisa melalui aspirasi ke DPR. Sehingga masyarakat dapat proaktif mendukung dengan kejujuran pada setiap apa pun kebijakan yang menyangkut tentang ketahanan keluarga, harus dikontrol dan diawasi.

Tragedi Itaewon, Tak Cukup Hanya Bunga

Anak-anak muda Korea Selatan mengkritik pemerintahnya yang tak mengantisipasi Tragedi Itaewon.

SELENGKAPNYA

Fatayat NU: Tekan KDRT Hingga Stunting

Ketahanan bangsa berangkat dari ketahanan keluarga.

SELENGKAPNYA

Nasyiatul 'Aisyiyah dan Ketahanan Keluarga

Fondasi iman dan takwa menjadi aktivitas dasar dalam keluarga.

SELENGKAPNYA