Aksi Tolak KDRT (Ilustrasi) | ANTARA FOTO

Laporan Utama

Fatayat NU: Tekan KDRT Hingga Stunting

Ketahanan bangsa berangkat dari ketahanan keluarga.

Membangun ketahanan keluarga di tengah derasnya arus media sosial memang menjadi tantangan era saat ini. Ketahanan keluarga tidak melulu soal cinta, tetapi soal komitmen yang perlu ditegakkan bersama-sama untuk menciptakan generasi yang kuat pada masa depan.

Sekretaris Pengurus Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), Laila Nur Farida, menyampaikan, ketahanan bangsa berangkat dari ketahanan keluarga. Sebagai titik awal membangun ketahanan bangsa, Fatayat NU pun memiliki program-program yang menyasar keluarga. Ini untuk menekan angka perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sekaligus membangun ketahanan keluarga demi lahirnya generasi yang sehat.

"Sekarang ini program utama Fatayat NU adalah memerangi stunting. Sebab, banyak anak-anak kurang gizi. Fatayat sangat concern di situ. Termasuk bagaimana membangun keluarga. Ini sudah kita lakukan, seperti konsultasi pranikah dan pendidikan pranikah," kata dia kepada Republika, Rabu (9/10).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pimpinan Pusat Fatayat NU (@pp_fatayatnu)

Ibu rumah tangga yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, itu juga mengingatkan agar tidak bersikap permisif terhadap KDRT. Sikap permisif ini bisa mengganggu keharmonisan keluarga dan pendidikan anak. Apalagi, jika anak sampai melihat ayahnya berbuat KDRT dan menganggap biasa perbuatan tersebut.

Tantangan dalam membangun ketahanan keluarga pada setiap zaman tentu berbeda-beda. Menurut Laila, tantangan era saat ini ialah pergaulan bebas, hamil di luar nikah, pernikahan dini, pornografi, dan media sosial. Seseorang tidak bisa menyikapinya dengan santai hanya karena terlahir dari keluarga yang baik. Sebab, apa yang dilakukan orang tua zaman dulu tidak bisa diterapkan pada masa kini.

photo
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT - (Republika/Agung)

Orang tua sekarang harus terus belajar bagaimana mendidik anak dan menciptakan ketahanan keluarga sesuai zamannya. Anak yang lahir pada tahun 2000-an, berbeda pola pendidikannya dengan anak yang lahir pada 2010-an. Dalam kondisi ini, kalangan ibu-ibu perlu tetap belajar dan jangan lengah. Sebab, tantangan era saat ini jauh lebih besar dari sebelumnya.

"Misalnya, ada ibu di rumah yang menonton drakor (drama Korea), lalu anak ditinggalkan dengan gadget-nya. Kan tidak tahu anaknya menonton apa. Ini harus menjadi perhatian, tidak boleh lengah, dan cari strategi dalam menghadapi tantangan zaman sekarang ini," kata Laila, yang pernah menempuh pendidikan di Leeds University, Inggris.

 
Misalnya, ada ibu di rumah yang menonton drakor (drama Korea), lalu anak ditinggalkan dengan gadget-nya. Kan tidak tahu anaknya menonton apa. Ini harus menjadi perhatian.
LAILA NUR FARIDA Sekretaris PP Fatayat NU
 

Menurut dia, kunci keberhasilan membangun ketahanan keluarga adalah komunikasi. Selain bersikap terbuka terhadap ilmu-ilmu baru tentang pendidikan, orang tua juga perlu belajar bagaimana menjalin komunikasi dengan anak. Suami harus meningkatkan quality time bersama pasangannya.

Begitu pun istri kepada pasangannya. "Kuncinya quality time dengan keluarga. Karena, sekarang kita lebih banyak berkomunikasi dengan orang di luar yang ada di kontak ponsel kita daripada dengan keluarga," kata dia.

Selanjutnya, bentengi keluarga dengan agama. Pernikahan tidak hanya melulu soal cinta, tetapi juga ibadah. Karena, saat ini gadget dengan media sosialnya sering menjadi sarana untuk berselingkuh. "Termasuk menjadi tempat mengunggah atau berbagi foto yang cantik dan menarik bagi lawan jenis, padahal di rumah hanya memakai daster," tuturnya.

Untuk itu, perlu pemahaman agama dan pengetahuan tentang pendidikan dalam membangun ketahanan keluarga agar segala sikap dan perbuatan di media sosial ataupun di tengah masyarakat memiliki nilai ibadah. Apa yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW dalam keluarganya merupakan contoh membina keluarga yang dipenuhi nilai-nilai ibadah.

Tragedi Itaewon, Tak Cukup Hanya Bunga

Anak-anak muda Korea Selatan mengkritik pemerintahnya yang tak mengantisipasi Tragedi Itaewon.

SELENGKAPNYA

Menjaga Inflasi tak Meninggi

Masih banyak peluang untuk menjaga inflasi sesuai dengan koridor yang aman.

SELENGKAPNYA

Jaga Tubuh Tetap Sehat

Antisipasi yang dapat dilakukan adalah menyiapkan obat-obatan yang diperlukan untuk pertolongan pertama.

SELENGKAPNYA