vp,,rm
Hikmah hari ini | Republika

Hikmah

Kematian yang Indah

Tidak setiap orang meraih kematian yang baik akan dianugerahi kematian yang indah.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Sungguh, kematian adalah keniscayaan yang tak bisa dielakkan oleh setiap insan. Sebab, setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan pada hari kiamat diberikan balasan yang sempurna. Siapa saja yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia memperoleh kemenangan (QS Ali Imran [3]: 185).

Walaupun kematian sedemikian nyata, ia penuh misteri yang tak bisa diungkapkan. Tidak seorang pun tahu kapan ia akan mati (QS al-A’raf [7]: 34), di mana dan bagaimana cara atau sebabnya (QS Lukman [31]: 31).

Begitu pun, tidak ada yang tahu akan mati bersama siapa dan dalam keadaan apa (al-Baqarah [2]: 132). Itulah rahasia Allah SWT, dan kita hanya disuruh menyiapkan diri menghadapinya (HR Ibnu Majah).

Sebenarnya, perkara yang paling penting adalah bersama siapa dan dalam keadaan apa, bukan kapan, di mana atau bagaimana caranya. Setidaknya, ada tiga macam kematian yang patut direnungkan, yakni:

Pertama, kematian yang buruk. Nabi SAW pernah ditanya tentang manusia yang paling buruk, lalu beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya namun buruk amalannya.” (HR Ahmad).

Sebab, ia mendapatkan kesempatan, tetapi digunakan untuk kemaksiatan. Siapa saja yang kufur dan berlaku buruk atau biasa mengunjungi tempat-tempat maksiat, seperti prostitusi, perjudian, minuman keras akan mati dalam keadaan yang buruk (su'ul khatimah). Bahkan, malaikat maut pun akan mencabut nyawa mereka dengan menyakitkan (QS an-Nazi’at [79]: 1).

Kedua, kematian yang baik. Nabi SAW juga ditanya siapa orang yang paling baik, dan dijawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalanya.” Sebab, kesempatan yang luas digunakannya untuk beramal kebajikan.

Ketika waktu kematian tiba, mereka dalam keadaan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT (QS Ali Imran [3]: 102). Mati dalam keimanan, apalagi bersama orang saleh, di waktu dan tempat yang baik walaupun dengan cara yang memilukan dinilai husnul khatimah (ujung hidup yang baik).  

Dalam suatu kajian, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) memberikan resep agar dapat meraih kematian yang baik, yakni senantiasa menunggu datangnya waktu shalat. Ketika ajal menjemput, posisinya sebagai penunggu shalat, bukan penunggu hal-hal duniawi. Sebab, setiap perbuatan itu dinilai dari ujungnya (HR Ahmad). Lalu, nyawa mereka pun akan dicabut dengan kelembutan (QS an-Nazi’at [79]: 2).

Ketiga, kematian yang indah. Tidak setiap orang meraih kematian yang baik akan dianugerahi kematian yang indah. Sebab, kematian yang indah itu ketika melakukan amal kebajikan dan terjadi sedemikian cepat dan mudah.

Seperti, orang meninggal pada saat khutbah Jumat, sedang membaca Alquran, mendirikan shalat atau sujud. Seakan mereka tidak merasakan sakitnya sakaratul maut. Orang-orang yang menyaksikan dan mendengar kabar pun mendambakan kematian semacam itu.

Semoga kita dianugerahi kematian yang indah seiring doa, “Yaa Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya. Dan, jadikanlah sebaik-baik amalku pada ujungnya.”

Allahu a’lam bissawab.

Tindak Lanjuti Penghapusan Vaksinasi Meningitis

Kebijakan penghapusan vaksin meningitis harusnya sudah bisa mulai diberlakukan secepat mungkin.

SELENGKAPNYA

BPOM Ungkap Pemalsuan Kandungan Sirop Kasus Gagal Ginjal

BPOM menemukan beberapa drum berisikan senyawa kimia pemicu gagal ginjal yang sangat jauh melampaui batas aman.

SELENGKAPNYA

Menkeu Waspadai Potensi Perlambatan Ekonomi

Perkiraan ini mempertimbangkan siklus perekonomian yang biasanya melambat pada akhir tahun.

SELENGKAPNYA