Petugas berada di dekat rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) atau kereta untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, Rabu (9/11/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Ekonomi

KAI Minta PMN Rp 3,2 Triliun untuk Kereta Cepat

KAI perlu kepastian dana dan dukungan pemerintah atas pembengkakan biaya itu.

JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebagai pemimpin konsorsium BUMN proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) memohon dukungan pemberian penyertaan modal negara (PMN) untuk memenuhi pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar Rp 3,2 triliun.

Penetapan pembengkakan biaya tersebut berdasarkan asersi satu dan dua oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), yaitu sebesar 1,45 miliar dolar AS.

"Kalau PMN diberikan Desember 2022, kami meyakinkan tidak ada penambahan pembengkakan biaya lagi dan proyek akan selesai pada pertengahan 2023," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, di Jakarta, Rabu (9/11).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kereta Api Kita (@keretaapikita)

Didiek memastikan, perhitungan tersebut dilakukan sesuai dasar perhitungan yang sudah dilakukan dengan BPKP. Jika PMN tersebut diberikan, Didiek menegaskan dukungan PMN dapat mengejar target uji coba operasi pada Juni 2023.

"Sehingga, kalau ini dicairkan Desember 2022, proyek berjalan baik dan uji coba akan kami laksanakan sesuai target," ucap Didiek.

Bahkan, dalam jadwal menuju uji coba Juni 2023, Didiek mengatakan, pada 16 November 2022 juga akan dilakukan G-20 showcase. Dalam kegiatan tersebut, akan dilakukan uji dinamis kereta cepat dari Tegalluar hingga Cikopo yang akan disaksikan Presiden Joko Widodo dan Presiden Cina Xi Jinping secara virtual di Bali.

 
 
(Jika tidak ada kepastian pendanaan), proses pembangunan dapat kembali mengalami perlambatan atau terhenti.
 
 

Didiek menegaskan, PMN pembengkakan biaya proyek KCJB tersebut memenuhi 25 persen ekuitas pihak Indonesia. "Ini dalam rangka menjaga keberlanjutan proyek strategis nasional KCJB dan sesuai dukungan pemerintah," kata Didiek.

Dia mengakui, saat ini diperlukan kepastian pendanaan dan dukungan pemerintah atas pembengkakan biaya tersebut. Jika tidak mendapatkan kepastian, Didiek menyebut akan berpengaruh kepada kondisi arus kas pada kontraktor untuk menyelesaikan proyek tersebut pada Juni 2023.

"(Jika tidak ada kepastian pendanaan), proses pembangunan dapat kembali mengalami perlambatan atau terhenti," ujar Didiek.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi memastikan saat ini teknologi dan sistem signal sudah berjalan sesuai progres. Jika pendanaan didapatkan, pembangunan dapat dimaksimalkan dan dapat mengejar target uji coba pada Juni 2023.

 
 
Berdasarkan konsultasi dengan Kementerian Perhubungan meminta agar harga tertinggi Rp 250 ribu selama tiga tahun pada masa awal.
 
 

"Setelah pembangunan proyek selesai pada 30 Juni, investasi ini dapat dikembalikan sesuai studi kelayakan setelah 38 tahun," ucap Dwiyana.

Sementara untuk proses G-20 showcase pada 16 November 2022, Dwiyana mengatakan, saat ini uji coba yang sudah siap dilakukan untuk infrastruktur sepanjang 16 kilometer. Untuk itu, uji dinamis kereta yang dapat dilakukan sepanjang 16 kilometer dari Tegalluar hingga Cikopo.

Dwiyana menambahkan, pembengkakan biaya muncul karena beberapa kendala, salah satunya kendala pembebasan lahan. Dwiyana menyatakan, initial budget disusun pada 2015, tapi pengadaan lahan dilakukan pada 2016 sampai 2021 sehingga ada eskalasi harga.

Lalu, juga terkait pandemi, Dwiyana menuturkan kondisi tersebut membuat progres konstruksi menjadi lambat. "Ini membuat adanya peningkatan biaya proyek," kata Dwiyana.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kereta Api Cepat Jakarta Bandung (@keretacepat_id)

Selain itu, pembengkakan biaya juga disebabkan adanya kendala geologis dan perubahan desain. Begitu juga dengan kendala perpajakan dan arus kas dan budgeting.

Dwiyana menambahkan, saat ini juga sudah dilakukan pembahasan harga tiket KCJB. Dia menyebut, jarak terjauh tiket KCJB bisa mencapai Rp 250 ribu.

"Namun, berdasarkan konsultasi dengan Kementerian Perhubungan meminta agar harga tertinggi Rp 250 ribu selama tiga tahun pada masa awal lalu selanjutnya baru ada eskalasi harga," ungkap Dwiyana. 

Indonesia Siap Terima Biden-Xi Jinping, Putin Belum Pasti

Hingga saat ini sudah ada 17 kepala negara/kepala pemerintahan yang menyatakan akan hadir pada KTT G-20.

SELENGKAPNYA

Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi

Pengendalian inflasi menjadi kunci untuk melanjutkan tren pertumbuhan.

SELENGKAPNYA

Negara Kaya Didesak Bayar Kompensasi Perubahan Iklim

Negara berkembang menuntut agar negara penghasil polusi membayar kompensasi atas kerusakan akibat perubahan iklim.

SELENGKAPNYA