IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Duh, Afrika!

Di Afrika, militer melompat cepat ke tampuk kekuasaan.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Ibrahim Traore namanya, 34 tahun, seorang kapten. Kendati masih muda, ia gagah memimpin kudeta militer di negaranya, Burkina Faso, dan berhasil. Yang dikudeta akhir September lalu, seniornya di Angkatan Darat, Paul-Henri Sandaogo Damiba.

Damiba baru berkuasa delapan bulan, juga hasil kudeta militer terhadap Roch Marc Christian Kabore, 24 Januari 2022. Hal menarik, Traore baru berpangkat kapten. Damiba, 41 tahun, kolonel. Dari kapten ke kolonel berjarak tiga jenjang kepangkatan.

Burkina Faso, negara yang terkurung daratan di Afrika Barat. Negara ini memperoleh kemerdekaan dari penjajah Prancis pada 1960. Ketika Traore mengambil alih kekuasaan, Burkina Faso dan Afrika Barat pada umumnya, sedang rapuh.

 
Ketika Traore mengambil alih kekuasaan, Burkina Faso dan Afrika Barat pada umumnya, sedang rapuh.
 
 

Secara internal, salah satu negara termiskin di Afrika ini, kehilangan kendali lebih dari 40 persen wilayahnya, dikuasai teroris bersenjata. Di tingkat regional, kudeta itu bersamaan dengan perebutan pengaruh dua kekuatan asing, Rusia dan Prancis.

Burkina Faso kini menghadapi persoalan sosial, politik, etnis, dan agama. Pada masa Presiden Thomas Sankara (1983-1987), negara yang dulu bernama Republik Volta Hulu berganti menjadi Burkina Faso, bermakna ‘tanah orang-orang terhormat’.

Kapten muda Thomas Sankara mengangkat slogan-slogan revolusioner. Ia menggambarkan diri sebagai Guevara Afrika. Namun, ia tidak berkuasa lama. Temannya, Blaise Combaore, berbalik melawannya dalam kudeta berdarah. Sankara mati dibunuh.

Di Afrika, militer melompat cepat ke tampuk kekuasaan. Kongo adalah kasus awal berdarah ketika Kolonel Mobutu Seseko melancarkan kudeta militer setelah kemerdekaan dan membunuh Perdana Menteri Patrice Lumumba. Di Nigeria, militer memimpin perang saudara.

Di Uganda, Idi Amin jadi cemoohan dunia. Ia petinju yang melesat jadi jenderal dan presiden (1971-1979), dijuluki ‘jagal’ Uganda. Di Republik Afrika Tengah, Jean-Bedel Bokassa mengambil alih kekuasaan lewat kudeta pada 31 Desember 1965. Ia menjabat presiden.

Tujuh tahun kemudian, eks tentara itu mengangkat dirinya pemimpin seumur hidup bergelar kaisar. Biaya penobatannya sebagai kaisar pada 1977 setara semua bantuan pembangunan dari Prancis waktu itu, juga setara sepertiga anggaran negara tahun itu.

 
Biaya penobatannya sebagai kaisar pada 1977 setara semua bantuan pembangunan dari Prancis waktu itu, juga setara sepertiga anggaran negara tahun itu.
 
 

Republik Afrika Tengah yang miskin sontak bangkrut. Kondisi serupa dialami Pantai Gading, Sierra Leone, Ghana, Kongo, dan Rwanda.

Sejumlah penguasa di Afrika bertangan besi dan cenderung brutal, juga terjadi penyuapan dan penjarahan uang negara. Akibatnya, kemiskinan, penyakit, dan buta huruf meluas di kalangan rakyat Afrika.

Pada 1960-an, kaum kolonial, utamanya Prancis, memang meninggalkan negara jajahan di Afrika tetapi keinginan menjajah tetap kuat. Kali ini dalam bentuk lain. Melalui pengaruh politik dan militer, mereka mengendalikan sumber ekonomi di banyak negara.

Kondisi ini diperparah elite yang mengambil alih kepemimpinan di negara-negara yang baru merdeka itu mengadopsi gaya diktator dan memandang rakyat sebagai objek kekuasaan.

Mereka tidak membangun sistem pemerintahan modern. Tidak ada partai, serikat pekerja, dan kebebasan berpendapat kecuali hanya di beberapa negara. Yang mereka bangun justru lembaga militer. Pada perkembangannya, tentara satu-satunya kekuatan terorganisasi.

 
Sejumlah penguasa di Afrika bertangan besi dan cenderung brutal, juga terjadi penyuapan dan penjarahan uang negara.
 
 

Dari sini, serangkaian kudeta militer diluncurkan untuk naik ke tampuk kekuasaan. Bayangkan, sejak fase kemerdekaan, ada lebih dari 180 kudeta militer di seluruh Benua Afrika.

Kini, menurut Abdul Rahman Shalgham, mantan menlu dan wakil tetap Libya di PBB, ada empat fenomena membayangi Afrika: kudeta militer, terorisme, kelaparan, dan imigrasi ke luar negeri terutama ke Eropa.

Kelompok teroris bersenjata menemukan lahan subur di Afrika Barat karena rapuh secara politik, sosial, ekonomi, dan keamanan. Alqaidah dan ISIS menguasai wilayah luas di Mali, Burkina Faso, Chad, dan Niger. Di sisi lain, pemerintah yang rapuh tak mampu menghadapi mereka.

Mereka kemudian membuka pintu bagi kekuatan asing buat membantu menghadapi kelompok teroris bersenjata. Prancis yang selama puluhan tahun menjajah Afrika merupakan kekuatan asing pertama yang hadir secara militer.

Namun, kehadiran mereka untuk mendukung pemerintahan bobrok dan korup, justru menimbulkan masalah. Pertama, munculnya suara rakyat terutama dari kelompok religius (Islam) menentang kembalinya penjajah lama, khususnya Prancis.

 
Rakyat dalam kondisi antara lapar, mati, sakit, telantar, dan imigrasi ke luar negeri, dengan segala cara. Duh, Afrika!
 
 

Kedua, bangkitnya perwira junior untuk melancarkan kudeta militer, sebagai tanggapan atas kemarahan rakyat dalam menghadapi terorisme. Ini menyebabkan kerenggangan antara para penguasa baru dan Prancis.

Anehnya, mereka justru membuka pintu bagi Rusia. Afrika Barat menjadi medan konfrontasi Prancis dan Rusia ini. Beberapa hari setelah kudeta, massa di Burkina Faso menyerang pusat kebudayaan dan Kedubes Prancis, sambil mengelu-elukan Rusia.

Berbagai kudeta dan perebutan kekuasaan oleh tentara selalu mengatasnamakan ‘revolusi’ serta ‘penyelamatan rakyat dan negara’ dari ancaman kelompok terorisme bersenjata.

Nyatanya, sejumlah negara di Afrika diombang-ambingkan kekuatan eksternal, kekayaan negara dijarah koruptor dalam dan luar negeri. Sementara itu, rakyat dalam kondisi antara lapar, mati, sakit, telantar, dan imigrasi ke luar negeri, dengan segala cara. Duh, Afrika!

Masjid al-Akbar, Keindahan Spiritual di Bandara Yogyakarta

Masjid dalam kompleks bandara di Yogyakarta ini menawarkan konsep hemat energi.

SELENGKAPNYA

Jalan Menemukan Mursyid

Yang mengaku mursyid banyak, tapi yang layak menjadi mursyid ideal tidak banyak

SELENGKAPNYA

Ingkarnya Penghuni Istana terhadap Ketuhanan Fir'aun

Fir’aun sempat menawarkan sekotak perhiasan kepada Asiyah

SELENGKAPNYA