Warga Gaza menyaksikan film pada Red Carpet Human Rights Film Festival, di bangunan lama Bioskop Amer di Gaza, pada 2019 lalu. | AP Photo/Adel Hana

Kisah Mancanegara

Warga Gaza Kembali Nikmati Film di Layar Lebar

Kesempatan untuk menonton film di layar lebar menawarkan suguhan langka.

OLEH DWINA AGUSTIN

 

Penggemar film di Jalur Gaza kini dapat menikmati kesempatan langka untuk melihat deretan film di layar lebar. Sebelumnya, selama puluihan tahun mereka tidak dapat ke bioskop karena tempat itu termasuk yang hancur dalam rangkaian serangan di wilayah Jalu Gaza.

Dulu, bioskop pernah berkembang pesat di Gaza. Penonton berbondong-bondong untuk melihat film-film Arab, Barat, dan Asia. Hanya saja gedung-gedung film terbakar dalam Intifadah Pertama pada 1987, kemudian terbakar lagi pada 1996 selama gelombang kekerasan lainnya.

Sejak itu, warga Gaza harus bergantung pada televisi dan layanan streaming. Kesempatan untuk menonton film di layar lebar menawarkan suguhan langka bagi orang-orang yang hidup di bawah blokade perbatasan yang diberlakukan oleh dua tetangga, yaitu Israel dan Mesir.

Perhelatan festival bertajuk Red Carpet Human Rights Film Festival yang dibuka pada Kamis (13/10), menayangkan sekitar 40 film di pusat budaya di Gaza yang baru saja direnovasi. Sekitar setengah film yang ditayangkan berhubungan dengan konflik selama puluhan tahun dengan Israel dan sisanya berurusan dengan masalah hak asasi manusia di seluruh dunia.

Sementara warga Gaza harus pergi ke pemutaran film yang diadakan dari waktu ke waktu di teater dan tempat-tempat lain, sajian film lengkap seperti itu adalah suguhan yang langka. Manajer eksekutif festival Montaser Al-Sabe mengatakan, ia merasa bangga dengan festival di Gaza. Namun, ia tetap berharap bioskop akan dibuka lagi.

"Kami memiliki bioskop di Gaza yang tutup, maka bukalah (kembali)," katanya.

Sekitar 300 film dari 60 negara diajukan kepada penyelenggara untuk diseleksi. Termasuk di antara film-film itu adalah karya empat sineas muda lokal yang mendapat kesempatan langka untuk menampilkan karyanya kepada penonton lokal. Semua film harus ditinjau sebelum pemutaran oleh otoritas lokal di Gaza yang kini dipimpin oleh Hamas sejak 2007.

Beberapa film-film yang ditayangkan adalah Eleven Days in May yang digarap oleh kerja sama sutradara Gaza Mohammed Sawwaf dan sutradara dari Inggris. Film ini menceritakan kisah 66 anak yang meninggal dalam serangan 11 hari antara Israel dan kelompok di Gaza pada Mei 2021.

"Kami fokus pada kenangan indah mereka, lelucon mereka, dan mimpi mereka. Bioskop adalah sarana yang beradab dan penting untuk menyampaikan suara anak-anak dan rakyat Gaza ke seluruh dunia," kata Sawwaf.

Tapi bagi sebagian orang, festival ini adalah tentang kesenangan sederhana pergi ke bioskop dan menonton film bersama orang-orang terkasih. “Di luar Gaza, saya sempat antre dan membeli tiket. Saya berharap bisa mengalami hal yang sama di sini, di Jalur Gaza. Lalu saya bisa membawa keluarga kecil saya dan menonton film di bioskop bersama,” kata Amira Hamdan yang datang bersama suaminya. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Jokowi-Infantino Bertemu Hari Ini

Ini saatnya menunjukkan keseriusan untuk memperbaiki sepak bola Indonesia kepada FIFA. 

SELENGKAPNYA

Anak Alami Ginjal Akut Kian Bertambah

Kasus anak meninggal akibat gangguan ginjal akut di DIY terkonfirmasi positif Covid-19.

SELENGKAPNYA

Waspadai Pelemahan Ekspor

Optimisme pemulihan perekonomian nasional tetap terjaga meski di tengah gejolak tantangan global saat ini.

SELENGKAPNYA