Suasana aktivitas bongkar muat kontainer di PT Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/10/2022). | ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Kabar Utama

Waspadai Pelemahan Ekspor

Optimisme pemulihan perekonomian nasional tetap terjaga meski di tengah gejolak tantangan global saat ini.

JAKARTA -- Kinerja ekspor Indonesia pada September 2022 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Mulai turunnya kinerja ekspor dinilai perlu diwaspadai oleh pemerintah. Apalagi, penurunan disebabkan lebih rendahnya harga sejumlah komoditas dan tingkat permintaan dari pasar global.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2022 sebesar 24,80 miliar dolar AS. Jika dibandingkan September 2021 (yoy), terdapat peningkatan sebesar 20,28 persen. Namun, secara bulanan turun 10,99 persen.

Penurunan kinerja ekspor secara bulanan terjadi di hampir semua sektor. Hanya sektor pertambangan yang meningkat. Sektor lainnya, yaitu minyak dan gas (migas) turun 21,41 persen, pertanian dan kehutanan minus 8,65 persen, dan industri pengolahan yang memilki kontribusi cukup besar terhadap ekspor, turun 14,24 persen.

Adapun nilai impor tercatat sebesar 19,81 miliar dolar AS, sehingga Indonesia masih mencatatkan surplus dagang dengan nilai 4,99 miliar dolar AS. Kendati demikian, nilai surplus dagang mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2022 yang sebesar 5,76 miliar dolar AS.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, tren penurunan surplus perdagangan terjadi akibat moderasi pada harga komoditas ekspor unggulan, terutama crude palm oil (CPO) atau minyak sawit di pasar internasional.  "CPO sangat terkait dengan ancaman resesi global yang menurunkan permintaan bahan baku terutama untuk industri pengolahan," kata Bhima kepada Republika, Senin (17/10).

Data BPS menunjukkan, harga minyak kelapa sawit per September sebesar 909 dolar AS per metrik ton atau turun 11,37 persen (mtm). Jika dibandingkan September tahun lalu, penurunannya mencapai 23,03 persen.

Menurut Bhima, Indonesia juga perlu mewaspadai potensi turunnya harga batu bara. Meski krisis energi tengah berlangsung di zona Eropa, namun ancaman resesi membuat proyeksi kebutuhan batu bara pada tahun depan bisa menurun. "Price reversal dari harga komoditas bisa menekan surplus perdagangan pada Oktober," katanya.

Terkait penurunan impor migas, Bhima menyebut hal ini tidak bisa hanya dilihat menurun dibandingkan posisi bulan sebelumnya atau Agustus 2022. Sebab, jika dibandingkan satu tahun terakhir, kenaikan impor migas sebesar 83,5 persen perlu diwaspadai. Meski ada kebijakan kenaikan harga BBM, kenaikan defisit migas tetap tinggi.

photo
Sejumlah pekerja menunjukkan bantuan kemasyarakatan saat kunjungan kerja Presiden di Kantor Pos Bandung, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis (13/10/2022). Dalam kunjungan kerjanya di Bandung, Presiden Joko Widodo berkesempatan untuk menyerahkan bantuan langsung tunai (BLT) bahan bakar minyak (BBM) dan bantuan subsidi upah (BSU) kepada warga serta pekerja. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Per Januari sampai September 2022 defisit migas menembus 18,8 miliar dolar AS. Bahkan melebihi posisi Januari sampai Desember 2021 yang sebesar 13,2 miliar dolar AS.

"Perlu diwaspadai dampak dari penurunan surplus perdagangan yang berlanjut terhadap stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Semakin turun pendapatan ekspor, sementara kebutuhan impor migasnya meningkat, maka rupiah berisiko alami pelemahan secara berkelanjutan," kata dia.

Menurutnya, perlu dicari langkah-langkah mitigasi dengan peningkatan porsi ekspor produk industri pengolahan non-komoditas. Pemerintah juga harus mencari pasar alternatif yang masih cukup tahan terhadap ancaman resesi. "Juga mengurangi ketergantungan pada konsumsi migas dengan percepatan transisi energi, memperbesar industri substitusi impor di dalam negeri.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam paparannya pada Senin (17/10) menyampaikan, harga beberapa komoditas di tingkat global lebih rendah dibandingkan beberapa bulan terakhir. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan adalah minyak kelapa sawit dan bijih besi.

"Harga komoditas minyak kelapa sawit dan bijih besi pada September 2022 terlihat lebih rendah dibandingkan September 2021," kata dia.

photo
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp 1.800 sampai Rp 1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.)

Ia menyebutkan, harga minyak kelapa sawit lebih rendah 23,03 persen (yoy) dan turun 11,37 persen (mtm), sedangkan harga bijih besi lebih rendah 19,85 persen (mtm). Secara bulanan, hampir semua komoditas unggulan Indonesia mengalami penurunan harga, kecuali batu bara yang masih naik tipis 1,01 persen dan nikel yang meningkat 3,63 persen.  

Terkait ekspor migas, Setianto menyebut terjadi penurunan 21,41 persen secara bulanan. "Ini utamanya karena perubahan nilai ekspor ekspor untuk gas yang turun 22,06 persen. Volume juga turun 12,26 persen," kata dia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, optimisme pemulihan perekonomian nasional tetap terjaga meski di tengah gejolak tantangan global saat ini. Hal tersebut seiring dengan perbaikan indikator pada berbagai sektor.

Menurut Airlangga, beberapa indiaktor itu adalah surplusnya neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan, serta terjaganya cadangan devisa dan rasio utang pada level aman. Pada Januari hingga Agustus 2022, kata Airlangga, neraca perdagangan telah mengalami surplus hingga 35 miliar dolar AS.

"Surplus itu didorong oleh ekspor komoditas utama seperti batu bara, palm oil, dan nikel," kata Airlangga, kemarin.

Airlangga optimistis ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV bisa tumbuh di atas lima persen. Sehingga, kata Airlangga, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2022 bisa mencapai 5,2 persen.

Airlangga mengatakan, beberapa sektor yang menunjukkan perbaikan signifikan adalah  konsumsi dan investasi. Itu ditandai dengan menguatnya daya beli masyarakat, terjaganya indikator Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan eceran, terjaganya PMI manufaktur pada level ekspansi, serta kredit perbankan yang tumbuh di atas 10 persen sejak Juni 2022. 

Jokowi-Infantino Bertemu Hari Ini

Ini saatnya menunjukkan keseriusan untuk memperbaiki sepak bola Indonesia kepada FIFA. 

SELENGKAPNYA

Anak Alami Ginjal Akut Kian Bertambah

Kasus anak meninggal akibat gangguan ginjal akut di DIY terkonfirmasi positif Covid-19.

SELENGKAPNYA

Transformasi BUMN Diapresiasi 

Erick mengaku bakal terus melanjutkan konsolidasi BUMN.

SELENGKAPNYA