Abdi Dalem Keraton Yogyakarta menabuh Gamelan Sekati di Pagongan Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Senin (3/10/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Dunia Islam

Gamelan Istimewa Kanjeng Kiai Sekati

Perangkat gamelan ini dimainkan para abdi dalem Keraton Yogyakarta untuk menyambut Sekaten.

OLEH HASANUL RIZQA

Salah satu sifat ajaran Islam adalah karunia untuk alam semesta (rahmatan lil 'alamin). Maka dari itu, karakteristik dakwah yang baik adalah mengayomi, bukan justru membuat antipati. Di Indonesia, sejarah syiar agama tauhid berlangsung dengan warna harmoni yang cukup kental.

Dakwah yang dilakukan para Wali Songo di Pulau Jawa dapat menjadi contoh. Salah seorang dari mereka, Sunan Kalijaga, memiliki gagasan untuk memperkenalkan Islam dengan tradisi-tradisi yang sudah dikenal lama masyarakat setempat. Di antaranya adalah upacara keselamatan kerajaan Hindu Jawa.

Upacara tersebut, menurut Sunan Kalijaga, perlu diadakan lagi, tetapi dengan diberi muatan ajaran Islam. Inilah cikal bakal tradisi Sekaten. Nama itu merujuk pada syahadatain, yakni istilah dalam bahasa Arab yang berarti ‘persaksian dengan dua kalimat'. “Asyhaduan laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah,” ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.’

 
Nama Sekaten merujuk pada syahadatain, yakni istilah dalam bahasa Arab yang berarti ‘persaksian dengan dua kalimat'.
 
 

Untuk menarik perhatian masyarakat non-Muslim setempat, Sunan Kalijaga meletakkan dua perangkat gamelan di dekat Masjid Agung. Ketika kedua alat itu ditabuh, rakyat bergembira karena mengira ada upacara keagamaan yang selama ini mereka pahami. Sebelumnya, sejak Raden Patah berkuasa instrumen-instrumen tersebut dilarang dibunyikan.

AM Susilo Pradoko dalam artikelnya yang terhimpun dalam Proceeding Kebinekaan dan Budaya menggambarkan suasana pada waktu itu. Rakyat yang datang berbondong-bondong pada upacara versi Sunan Kalijaga itu akhirnya mendengarkan dakwah. Sebab, lirik syair yang mengiringi tabuhan gamelan serta jalan cerita wayang yang disajikan memang mengandung muatan syiar Islam.

Sebagian dari mereka kemudian tertarik masuk Islam. Orang-orang itu lalu dibimbing untuk mengucapkan syahadatain. Namun, tidak sedikit yang datang dalam upacara tersebut merasa kecewa karena yang disaksikannya bukan murni tradisi Hindu-Buddha. Yang demikian itu lantas kembali ke rumahnya sambil bersungut-sungut.

photo
Masyarakat menyaksikan tabuhan Gamelan Sekati di area Kompleks Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Menabuh gamelan di area masjid tersebut bisa menarik khalayak untuk datang, mengenal, serta memeluk Islam. Demikian tradisi sejak zaman Wali Songo. - (Republika/Wihdan Hidayat)

Menurut Pradoko, metode dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga cukup berhasil dalam memperkenalkan ajaran Islam. Memang, tujuannya bukanlah seluruh masyarakat menjadi Muslim. Sebab, Alquran sendiri menegaskan, tidak ada paksaan dalam beragama (QS al-Baqarah: 256).

Di Yogyakarta, tradisi islami yang membawa spirit dakwah Sunan Kalijaga masih dapat dijumpai hingga kini. Hal itu ditandai dengan keberadaan gamelan-gamelan di area pagongan kompleks Masjid Gedhe Kauman. Terdapat kelompok instrumen yang tersimpan dengan baik di sana, yaitu Gamelan Kanjeng Kiai Sekati atau Gamelan Sekaten.

photo
Abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memainkan gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari dalam perayaan Grebeg Sekaten di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (8/10/2022). - (ANTARAFOTO/Maulana Surya)

Dinamakan demikian karena pengoperasiannya dilakukan menjelang Festival Sekaten. Acara rutin tahunan itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Rangkaian perayaan berlangsung mulai tanggal 5 hingga 12 bulan Mulud dalam kalender Jawa-Islam—seiring dengan bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.

Sejak Senin (3/10) lalu, para abdi dalem Keraton Yogyakarta mulai menabuh Gamelan Sekaten. Mereka secara bergantian melakukannya hingga tujuh hari ke depan, sebagai penanda peringatan Maulid Rasulullah SAW. Seperti pada zaman Sunan Kalijaga dahulu, tradisi tersebut pun menarik khalayak ramai. Mereka dengan penuh saksama menonton dan menyimak alunan nada dari kelompok instrumen-instrumen tersebut.

photo
Abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memainkan gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari dalam perayaan Grebeg Sekaten di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (8/10/2022). UNESCO menetapkan gamelan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) dunia yang sertifikat pengesahannya telah diserahkan kepada Pemerintah Indonesia di Balai Kota Solo, Jumat (16/9/2022). - (ANTARAFOTO/Maulana Surya)

Gangsa Sekati

Seperti dilansir dari laman Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kesultanan Yogyakarta memiliki sekitar 21 perangkat gamelan. Mereka dikelompokkan menjadi dua, yakni Gangsa Pakurmatan dan Gangsa Ageng. Yang pertama dimainkan untuk mengiringi upacara adat keraton. Adapun yang kedua dibunyikan sebagai pengiring pergelaran seni budaya kerajaan.

Gangsa Pakurmatan terdiri atas Kanjeng Kiai Guntur Laut, Kanjeng Kiai Kebo Ganggang, Gangsa Carabalen, Kanjeng Kiai Guntur Madu, dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. Dua yang tersebut akhir itulah Gamelan Kanjeng Kiai Sekati atau Gangsa Sekati. Pusaka tersebut khusus dimainkan pada saat perayaan Sekaten.

Sebelum adanya Perjanjian Giyanti, Gangsa Sekati sudah menjadi milik Kerajaan Mataram Islam. Baik Gamelan Kanjeng Kiai Guntur Madu maupun Kanjeng Kiai Guntur Sari dibuat pada era Sultan Agung (1613-1645), tepatnya pada 1566 J atau 1644 M.

photo
Dua Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Gamelan Kanjeng Kyai Nogo Wilogo ditabuh bergantian selama tujuh hari untuk menandai peringatan Maulid Nabi SAW. - (Republika/Wihdan Hidayat)

Sebagai bagian dari Perjanjian Giyanti, kedua kelompok instrumen itu dibagi masing-masing kepada Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Yogyakarta mendapat Kanjeng Kiai Guntur Madu, sedangkan Surakarta memperoleh Kanjeng Kiai Guntur Sari.

Untuk mengembalikan Gangsa Sekati pada kelengkapan semula, Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) membuat duplikat (putran) Kanjeng Kiai Guntur Sari yang diberi nama Kanjeng Kiai Nagawilaga.

Karena Kanjeng Kiai Guntur Madu lebih tua, setiap kali Sekaten berlangsung, gamelan tersebut selalu diletakkan di Pagongan Kidul, sebelah kanan tempat Sultan duduk di Masjid Gedhe. Kanjeng Kiai Nagawilaga dianggap lebih muda. Karena itu, kelompok instrumen tersebut diletakkan di Pagongan Lor.

Kedua perangkat gamelan itu selalu dipersiapkan secara cermat oleh para abdi dalem Keraton. Dengan begitu, penabuhan dapat berlangsung dengan baik selama masa Sekaten. Bahkan, sebelum hari H mereka tidak hanya memeriksa dua kelompok instrumen itu, tetapi juga membersihkannya (jamas).

Agar Keuangan Keluarga Terjaga

Para ibu bisa memilih opsi menabung atau investasi yang memberikan hasil akhir yang berbeda.

SELENGKAPNYA

Kain Persembahan Sultan

Tanggal 7 Oktober diperingati sebagai Hari Kapas Sedunia, tanaman yang buahnya selama berabad-abad berjasa menutup aurat warga bumi. 

SELENGKAPNYA

Sejarah Narkoba di Batavia

Sebelum masa VOC (1619), madat atau candu merupakan komoditas yang diperdagangkan di pelabuhan Sunda Kelapa.

SELENGKAPNYA