ILUSTRASI Maulid Nabi sudah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat Muslim, baik global maupun di Tanah Air. Bagaimanapun, para ulama berlainan pendapat tentang hukum merayakan maulid. | DOK FLICKR

Laporan Utama

Simthud ad-Duror, Kitab Maulid Nabi Bertabur Keindahan

Tulisan dalam kitab ini dirangkai dengan bahasa-bahasa pilihan dalam bentuk qasidah

OLEH UMAR MUKHTAR

Umat Islam merayakan kelahiran sosok yang sangat dicintai, Nabi Muhammad SAW, pada setiap Rabiul Awal. Hari lahir beliau SAW diperingati dengan merayakan Maulid Nabi. Di dalam maulid, kaum Muslim melantunkan bacaan-bacaan yang merujuk pada kitab maulid.

Ada beberapa kitab maulid yang dikenal selama ini. Di antaranya yaitu kitab Simthu ad-Duror dan al-Barzanji. Dari berbagai kitab maulid, yang umum dibaca oleh umat Islam adalah kitab Simthu ad-Duror karya Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi.

Ketua Umum Himpunan Da'i Muda Indonesia (HDMI) Habib Idrus Salim al-Jufri menyampaikan, umat Islam tentu sudah tidak asing mendengar Maulid Habsyi. Pengarangnya adalah seorang ulama yang berasal dari Yaman bernama Alhabib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi.

photo
Ketua Himpunan Dai Muda Indonesia, Habib Idrus Bin Salim Segaf Al-Jufri. Peringatan maulid menambah cinta kepada Rasulullah. - (Istimewa)

"Kitab maulid ini cukup masyhur di Indonesia karena memang dibaca secara rutin di berbagai daerah, kata-katanya sangat dalam artinya, penuh dengan makna yang tersirat dan tersurat membuat yang membaca syair dalam maulid ini merasa seperti sedang berada di dekat Rasulullah SAW," kata dia kepada Republika, Rabu (5/10).

Kitab maulid tersebut dituliskan secara indah oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-habsyi. Judul asli dari kitab Maulid Habsyi ini adalah Simthu ad-Duror fi akhbar Maulid Khairil Basyar min Akhlaqi wa Awshaafi wa Siyar.

 

 

Yang membaca syair dalam maulid ini merasa seperti sedang berada di dekat Rasulullah SAW.

 

 

HABIB IDRUS SALIM AL-JUFRI
 


Setiap kitab maulid pasti ada kekhasan, keistimewaan, dan keutamaan. Namun, Maulid Simthu ad-Duror ini, seperti dikutip dari kitab Syarah Simthu ad-Duror, menonjol untuk orang-orang pada akhir zaman nanti. Di dalamnya terdapat banyak sekali penjelasan tentang sifat-sifat Rasulullah SAW yang agung dan akhlaknya yang mulia.

Sekretaris Jenderal Jatman, KH Mashudi, menyampaikan, kitab Simthu ad-Duror, sebagaimana kitab al-Barzanji, berisi bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah. Di dalamnya juga memuat sejarah tentang perjuangan dan akhlak Nabi SAW, baik di keluarga, masyarakat, medan perang, maupun ketika berdakwah.

"Jadi, di dalam kitab maulid apa pun, termasuk Simthu ad-Duror, isinya adalah shalawat dan sirah Nabi Muhammad SAW," tutur dia.

Kiai Mashudi menjelaskan, penggalan-penggalan kalimat dalam kitab Simthu ad-Duror sudah terdapat dalam kitab al-Barzanji dan kitab-kitab maulid yang lain. Sebab, antara kitab-kitab maulid itu sebetulnya memiliki kesamaan dan saling bersinggungan karena sosok yang ditulisnya sama, yakni Nabi Muhammad SAW.

Namun, Simthu ad-Duror memiliki ciri khas tersendiri. Tulisan dalam kitab ini dirangkai dengan bahasa-bahasa pilihan dalam bentuk qasidah. Keindahan gaya bahasanya, atau balaghahnya, ada di tingkat tertinggi. Menurut Kiai Mashudi, gaya bahasa Simthu ad-Duror ibarat menggunakan kromo inggil, tingkatan bahasa paling tinggi dalam bahasa Jawa.

"Isinya tentang puji-pujian yang menyentuh kalbu sehingga menyentuh para pembaca dan membuat mereka semakin menghayati. Meski tidak tahu artinya, tetap bisa menghayati, seakan terhipnotis dengan kata-kata yang digunakan. Rasa cinta kepada Rasulullah semakin tinggi jika menghayati bahasa yang indah dalam kitab ini," tuturnya.

 

 

 Meski tidak tahu artinya, tetap bisa menghayati, seakan terhipnotis dengan kata-kata yang digunakan

 

KH MASHUDI Sekjen Jatman
 



Salah satu contohnya ialah kalimat 'Ya robbi sholli 'ala Muhammad, maa laaha fil ufqi nuuru kaukab'. Artinya, Ya Rabbi, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad SAW selama cahaya bintang bersinar di ufuk. Menurut Kiai Mashudi, kalimat ini memiliki sisi balaghah yang luar biasa.

photo
Sejumlah pemain rebana mengiringi pembacaan Risalah Maulid pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Muyassarin, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (19/10/2021). - (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/rwa.)

Simthu ad-Duror memiliki bentuk syair yang enak dan tidak membosankan untuk diamalkan. Pilihan kata dan bait-baitnya punya padanan yang tepat sesuai konteks. Simthu ad-Duror mengandung banyak qasidah sehingga cocok untuk zaman sekarang. Dengan langgam, gaya, dan lahjah (dialek)-nya, memicu gairah dalam rangka meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Keasyikan dalam melagukannya menjadi inspirasi seperti tarian sufi. Pembaca Simthu ad-Duror seakan terhipnotis dengan keasyikan ingin menghadirkan Rasulullah SAW, tetapi tentu tidak sampai menyimpang. Sebab, itu justru dalam rangka mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW.

"Berqasidah itu sesuatu yang menarik dan tidak membosankan. Itulah satu trik metode untuk mengedukasi umat agar bagaimana mencintai shalawat dalam rangka mahabbah kepada Rasulullah SAW. Tentu dengan tata krama, sopan santun, tidak asal-asalan, dan tidak sembarangan," tuturnya.

Pesan khusus dari Habib Ali bersifat umum dan berkaitan dengan moralitas. Pesan khususnya, yaitu bagaimana setiap Muslim mencintai Rasulullah SAW, baik bagi yang dzuriyah (keturunan) Rasul, seperti habib atau syarifah, maupun yang bukan dzuriyah.

Siapakah Shahib Simthud ad-Duror?

Kitab Simthu ad-Duror ditulis oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi

SELENGKAPNYA

Hikmah di Balik Air Mata

Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata.

SELENGKAPNYA

Menggali Makna Khalifah

Menumpahkan darah dan melakukan perusakan, tentu saja tidak wajar dinamai khalifah.

SELENGKAPNYA