Sejumlah pemain rebana mengiringi pembacaan Risalah Maulid pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Muyassarin, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (19/10/2021). Seiring penurunan kasus COVID-19 di Ibu Kota, peringatan hari lahirnya Nabi Muham | ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/rwa.

Laporan Utama

Siapakah Shahib Simthud ad-Duror?

Kitab Simthu ad-Duror ditulis oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi

OLEH UMAR MUKHTAR

Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki keutamaan untuk disambut umat Islam. Hari tersebut dirayakan hingga dikenal dengan sebutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid biasa diisi dengan pembacaan kitab Simthu ad-Duror.

Namun, tak banyak yang tahu siapa penulis kitab tersebut dan seperti apa perjalanan hidupnya. Kitab Simthu ad-Duror ditulis oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. Dilahirkan pada Jumat, 24 Syawal 1259 H/1839 M, di Qasam, sebuah kota di Hadramaut, Yaman.

Ayah Habib Ali ialah Habib Muhammad bin Husain bin Abdullah al-Habsyi dan ibundanya, as-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad al-Haadi al-Jufri. Saat Habib Ali menginjak usia 7 tahun, ayahnya pindah ke Makkah bersama tiga anaknya, yakni Abdullah, Ahmad, dan Husein.

Pada usia 17 tahun, ayah Habib Muhammad meminta Habib Ali bertolak ke Makkah. Dia tinggal selama dua tahun di Makkah bersama sang ayah. Kemudian, setelah mendalami ilmu di Makkah, dia diperintah ayahnya kembali ke Seiwun untuk menikahkan adiknya, Aminah, dengan Sayid Alwi bin Ahmad Assegaf, yang merupakan salah satu murid ayah Habib Ali. 

Tak hanya itu, Habib Ali kembali ke Seiwun juga sebagai Alim. Saat itu, banyak warga Seiwun yang datang untuk menimba ilmu kepada Habib Ali. Namun, dia juga tidak berhenti belajar. Ia sering mengunjungi Tarim, sebuah kota di Hadramaut, untuk belajar kepada beberapa guru. Ada banyak guru di mana Habib Ali menuntut ilmu. 

Habib Zen bin Umar bin Sumaith dalam bukunya, Rangkaian Mutiara 99 Tokoh Ulama Dzuriyat Rasulullah, menjelaskan, dalam usia yang masih sangat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Alquran serta berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin. Hal ini dicapai sebelum menginjak usia yang biasanya dicapai oleh orang lain. Karena cepatnya Habib Ali dalam menguasai ilmu, dia dikagumi banyak orang dan mendapat kehormatan tersendiri.

Setelah itu, Habib Ali memimpin majelis ilmu, lembaga pendidikan, dan pertemuan besar yang biasa digelar kala itu. Habib Ali menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Juga mengarahkan dan mendidik para siswa dalam menuntut ilmu, serta membangkitkan semangat dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia. 

Pada usia yang terbilang muda, yakni 37 tahun, Habib Ali membangun Ribath atau pondok pesantren bagi mereka yang hendak menuntut ilmu di Seiwun. Pembangunan ini tidak lepas dari semakin banyaknya penuntut ilmu dari dalam dan luar kota yang bertujuan menimba ilmu kepada Habib Ali. 

photo
Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang (20 April 1870 – 13 Oktober 1968) - (DOK Wikipedia)

Habib Ali juga meninggalkan legasi berupa Masjid Riyadh yang dibangun di Seiwun pada 1303 H, saat usianya 44 tahun. Setiap Senin, di masjid ini digelar pengajian hadis. Habib Ali wafat di Seiwun pada Ahad, 20 Rabiul Akhir 1333 H, dan meninggalkan putra dan putri.

Pernikahannya dengan wanita Qosam membuahkan satu anak, yaitu Abdullah. Sedangkan, pernikahannya dengan Hababah Fathimah binti Muhammad bin Segaf Maulakhela melahirkan empat anak, yakni Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khodijah.

Putra bungsu Habib Ali, Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, dikenal luas di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Seperti bapaknya, Habib Alwi, mendirikan Masjid Riyadh di Solo, dan dikenal memiliki budi pekerti yang luhur, sopan santun, dan ramah kepada siapa pun.

Terlebih kepada mereka yang lemah, seperti fakir miskin dan anak yatim piatu. Kediamannya terbuka bagi siapa pun yang ingin berkunjung. Habib Alwi wafat di Palembang pada 20 Rabiul Awal 1373 H, dan dimakamkan di sebelah Masjid Riyadh Solo.

Penerus Habib Alwi adalah Habib Anis (1928-2006). Dia dikenal sebagai ulama yang kembali menghidupkan jaringan intelektual dan ulama Hadramaut dengan Indonesia.

Maulid Nabi, dari Al-Burdah Hingga Barzanji

Dari segi kritik sastra puisi-puisinya memang berbobot dan mendapat tempat sebagai karya estetis, lembut dan memikat.

SELENGKAPNYA

Kapten Visser dan Baret Merah Kopassus

Kapten Visser justru lebih memilih baret merah daripada baret hijau. Padahal, pasukan komando Belanda menggunakan baret hijau.

SELENGKAPNYA

'Gacor'-nya Haaland

Haaland semakin menjadi-jadi setelah resmi bergabung dengan Manchester City.

SELENGKAPNYA