Awan menggelayut di langit di atas Gedung Bank Sentral Eropa di Frankfurt, Jerman, pada 19 September 2022. | AP/Boris Roessler

Tajuk

Ancaman Resesi Eropa

Perang Rusia-Ukraina yang tak ada tanda bakal berakhir memperburuk kondisi ini. Eropa terancam tergelincir ke jurang krisis.

Krisis membayangi kawasan Eropa. Pandemi Covid-19 yang terus melandai, ternyata belum mampu membangkitkan sepenuhnya perekonomian Benua Biru tersebut.

Perang Rusia-Ukraina yang tak ada tanda bakal berakhir memperburuk kondisi ini. Eropa terancam tergelincir ke jurang krisis. Kepala Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengakui bayang-bayang krisis yang makin gelap.

Dalam beberapa bulan ke depan, Lagarde memperkirakan aktivitas bisnis melambat. Di antara penyebabnya, rantai pasok energi dan bahan pangan yang tersendat sebagai dampak perang Rusia-Ukraina. Tak terelakkan, harga energi dan bahan pangan pun melonjak.

Kondisi tersebut memperlemah daya beli masyarakat di kawasan Eropa. ECB memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi zona Euro terus melemah. Prediksi ini dengan asumsi Rusia masih memasok gas alam ke wilayah Eropa melalui jalur pipa Nord Stream 1.

 

 
Perang Rusia-Ukraina yang tak ada tanda bakal berakhir memperburuk kondisi ini. Eropa terancam tergelincir ke jurang krisis. 
 
 

 

Dengan menggunakan asumsi ini saja, pertumbuhan ekonomi Eropa pada kuartal IV tahun ini negatif. Apalagi, jika kemudian Rusia merealisasikan ancamannya menyetop total pasokan gas ke wilayah Eropa.

Tak heran bila ECB memprediksi pertumbuhan negatif ini  berlanjut pada tiga bulan pertama 2023. Artinya, Eropa mengalami pertumbuhan ekonomi negatif pada dua kuartal berturut-turut. Kondisi yang disebut sebagai resesi.

Perang Rusia-Ukraina saat ini memang mendorong harga energi meroket. Pengeluaran masyarakat pun makin besar untuk kebutuhan keseharian. Ongkos produksi juga makin besar bagi para pengusaha. Situasi ini yang diprediksi Bank Dunia membuat bank sentral negara-negara maju menaikkan suku bunga global.

Hal ini imbas dari kenaikan harga energi dan pangan yang mengerek inflasi. Perusahaan tak lagi dapat membebankan kenaikan ongkos produksi itu ke konsumen dengan mudah, sebagaimana sebelumnya ketika beban masyarakat belum seberat saat ini.

Akankah jurus menaikkan suku bunga tersebut bakal mengerem laju inflasi? Menemukan jawabannya tidak mudah. Sebab, sinyalemen menuju resesi yang makin suram itu menemukan faktanya di titik-titik kehidupan di kawasan Eropa.

 

 
Akankah jurus menaikkan suku bunga tersebut bakal mengerem laju inflasi? Menemukan jawabannya tidak mudah.
 
 

 

Lembaga amal Chefs in Schools mengungkap laporan banyak anak di Inggris kelaparan hingga memakan penghapus atau bersembunyi di ruang bermain ketika jadwal makan siang. Penyebabnya, mereka tidak bisa membeli makan siang.

The Guardian melaporkan, ada salah satu siswa di Lewisham, London, yang pura-pura makan di luar kelas dengan membawa kotak bekal yang kosong. Sang anak tidak memenuhi syarat memperoleh makan siang gratis di sekolah, tapi tidak juga ingin kondisinya diketahui teman-temannya karena ketiadaan makanan di rumah.

Di Kota Cologne, Jerman, keluarga Engelbert Schlechtrimen yang telah menggeluti bisnis roti buatan rumahan selama 90 tahun terakhir, terpaksa menutup usahanya. Dari semula memproduksi roti gulung gandum, roti gandum hitam, dan kue cokelat, pada Oktober 2022 nanti mematikan oven mereka.

Kenaikan harga energi membuat mereka tak mampu menanggung ongkos produksi. Toko roti Schlechtrimen yang berproduksi sejak sebelum Perang Dunia II itu, kini menjadi salah satu korban krisis energi yang melanda Eropa.

Kompleksitas krisis membuat kondisi ini tak mudah mereka hadapi. Lowongan pekerjaan, kenaikan biaya bahan baku yang ekstrem, dan ledakan biaya energi. Kenaikan biaya bahan baku roti sudah melonjak 50 persen, kini mereka menghadapi krisis energi yang baru dimulai.

 
Kompleksitas krisis membuat kondisi ini tak mudah mereka hadapi. Lowongan pekerjaan, kenaikan biaya bahan baku yang ekstrem, dan ledakan biaya energi.
 
 

Direktur Pelaksana Konfederasi Roti Jerman, Friedemann Berg, menyebut, kondisi yang mereka hadapi ini bagaikan terjangan tsunami kenaikan biaya. Upaya penghematan energi ternyata tak mampu menutup biaya pengeluaran yang membengkak.

Krisis energi serupa juga dialami Slovakia. Perdana Menteri Slovakia, Eduard Heger, mengkhawatirkan kenaikan biaya listrik membuat ekonomi negaranya berisiko runtuh. Sokongan dana segar senilai miliaran euro dari Komisi Uni Eropa mereka butuhkan.

Namun, apakah bantuan ini mereka dapatkan? Atau diperoleh, tapi dalam kondisi terlambat? Kondisi di Eropa bukan tidak mungkin merembet ke kawasan lain. Transmisi krisis dalam era kekinian mudah menjalar, mengingat perdagangan global saling terhubung.

Saling ketergantungan antarkawasan mesti disikapi dengan memperkuat ketangguhan ekonomi masing-masing wilayah. Kerja sama regional harus diperkuat. Perekonomian domestik dibangkitkan. Kemandirian bahan pangan dan komoditas energi jadi keniscayaan. 

Mengenang KH Zainuddin MZ: Amplop Kosong dan Sepeda Ontel

Setelah tiba di rumah dan amplop itu disobek, ternyata tak ada isinya sepeser pun

SELENGKAPNYA

Saat Jenderal Jadi Tumbal

TNI-AD telah kehilangan putra-putra terbaiknya di pagi buta awal Oktober 1965.

SELENGKAPNYA

Mitigasi Haji untuk Tahun Depan Mulai Disiapkan

Bimbingan ibadah haji harus dilakukan secara profesional

SELENGKAPNYA