vp,,rm
Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Petaka Pujian

Enam petaka yang berpotensi ada dalam pujian. Empat akan menimpa si pemuji dan dua akan menimpa yang dipuji.

OLEH PROF HASANUDDIN Z ABIDIN

Secara umum, manusia suka dipuji. Banyak juga yang suka memuji, dengan berbagai alasan. Ada yang sifatnya tulus dan konstruktif, tetapi banyak juga yang tidak tulus dan lebih bertendensi “menjilat”.

Karena dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu menemui kasus memuji dan dipuji ini, pandangan agama terkait hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama.

Dalam bukunya al-Arba’in fi Ushul ad-Din yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul 40 Pokok Agama, Imam al-Ghazali RA mengingatkan tentang enam petaka (bencana) yang berpotensi ada dalam pujian. Empat akan menimpa si pemuji dan dua akan menimpa yang dipuji.

Pertama, saat si pemuji berlebihan dalam memuji, sehingga ia menyatakan sesuatu yang tidak benar atau tidak sesuai kenyataan. Dalam hal ini sejatinya ia menjadi berbohong.

Kedua, saat pujian diberikan kepada orang yang tidak disukai, dan hanya dimaksudkan untuk mencari muka agar disukai atau mendapatkan keuntungan tertentu. Dalam hal ini, ia menjadi terkontaminasi sifat kemunafikan dan riya.

Ketiga, saat si pemuji menyatakan sesuatu yang belum ia yakini kebenarannya. Mungkin si pemuji hanya ikut-ikutan atau memuji karena solidaritas kelompok saja. Dalam hal ini si pemuji dapat menjadi pelaku “berucap sembarangan” (jizaf).

Dalam kasus seperti ini, petunjuk Rasulullah SAW berikut bisa menjadi acuan. "Siapa di antara kalian yang ingin memuji saudaranya tidak pada tempatnya, hendaklah ia mengucapkan: Aku mengira si fulan, demi Allah aku menduga dia, dan aku tidak menganggap suci seorang pun di hadapan Allah, aku mengira dia begini begini, sekalipun dia mengetahui tentang diri saudaranya itu". (HR Bukhari 2468).

Keempat, ketika si pemuji menyampaikan pujian ke orang yang dikenal sebagai orang zalim atau fasik. Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan, “Sesungguhnya Allah benar-benar murka, jika orang fasik dipuji.” (HR al-Baihaqi).

Adapun dua petaka pujian yang berpotensi menimpa orang yang dipuji, yaitu sebagai berikut. Pertama, pujian akan memunculkan sifat sombong dan ujub dalam diri yang dipuji dan membuat dirinya terlepas dari realitas.

Kesombongan dan rasa ujub juga akan mengundang sifat jelek lainnya. Pemimpin yang terlalu banyak dipuji akan mudah terkecoh dengan kinerjanya. Dia merasa sudah sukses dan melakukan banyak hal, tetapi sejatinya tidak demikian.

Kedua, pujian dapat membuat yang dipuji bergembira/puas secara berlebihan, sehingga dia berpotensi mengurangi, bahkan menghentikan amal baiknya selama ini.

Meskipun begitu, Imam al-Ghazali juga menyampaikan bahwa seandainya suatu pujian bersifat tulus dan bersih dari petaka-petaka tersebut, baik untuk si pemuji ataupun yang dipuji, maka hukumnya boleh atau bahkan dianjurkan. Rasulullah SAW sendiri kerap memuji para sahabatnya dalam rangka menambah semangat mereka dalam beribadah dan mencari keridhaan Allah SWT.

Keenam potensi petaka pujian dari Imam al-Ghazali di atas seyogianya dapat menjadi perhatian dan pegangan dalam aktivitas keseharian kita. Semoga.

Syekh Qaradawi, di Antara Hamka, Natsir, dan KH Hasan Basri

Pengaruh keilmuan Syekh al-Qaradawi telah dirasakan di seluruh dunia.

SELENGKAPNYA

Komitmen dalam Kebaikan

Komitmen pada kebaikan itu adalah salah satu ciri utama mukmin sejati.

SELENGKAPNYA

Perlakuan Aset Nonhalal, Dimusnahkan atau Disedekahkan?

Ada beragam kategori dana atau aset nonhalal.

SELENGKAPNYA