Polisi antihuru-hara menahan pengunjuk rasa yang berdemonstrasi menolah pengerahan pasukan cadangan ke Ukraina di Moskow, Rusia, Rabu (21/9/2022). | AP/Alexander Zemlianichenko

Opini

Dunia Pascaperang Ukraina

Kemenangan Moskow akan meningkatkan pamor Rusia dan kepercayaan diri Cina.

SMITH ALHADAR, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Pascaperang Ukraina, apa pun hasilnya, akan mengubah dunia. Bila Rusia kalah perang, hegemoni Barat atas dunia menguat, perkembangan Cina melambat dalam konteks kompetisi strategis dengan Barat. Bila terjadi sebaliknya, tatanan baru yang multipolar terbentuk.

Perang Dingin jilid II yang menghadapkan blok Cina-Rusia versus AS-NATO otomatis jadi kenyataan. Gerakan Non-Blok menemukan relevansinya kembali.

Pemikir militer kuno asal Cina, Sun Tzu, mengatakan, perang dimenangkan pihak yang mengenal kekuatannya sekaligus mengetahui kekuatan lawan. Presiden Rusia Vladimir Putin yang menginvasi Ukraina gagal paham pada dua aspek ini.

Ia underestimate kekuatan Ukraina dan overestimate militer Rusia. Perang yang ia proyeksikan berakhir cepat, ternyata memasuki bulan kedelapan. Bahkan, militer Ukraina kini menemukan momentum setelah berhasil mengusir pasukan Rusia dari wilayah Kharkiv yang luas.

 

 
Perang Dingin jilid II yang menghadapkan blok Cina-Rusia versus AS-NATO otomatis jadi kenyataan. Gerakan Non-Blok menemukan relevansinya kembali.
 
 

 

Kini Presiden Ukraina Volodymyr Zelinskyy tak tertarik lagi melakukan penyelesaian perang melalui perundingan damai. Kalau begitu, berarti Ukraina harus merelakan sekitar 15 persen wilayahnya kepada Rusia.

Tekad meneruskan perang sampai Ukraina memenangkannya juga menjadi keinginan AS dan sebagian anggota NATO. Dilihat dari perspektif kepentingan NATO, Rusia harus dikalahkan untuk menjatuhkan rezim Putin.

Pada gilirannya, ini menciptakan Rusia baru yang lemah, demokratis, dan pro-Barat sekaligus melemahkan Cina yang sebagian kekuatannya bersandar pada Rusia, dalam konteks perlawanannya terhadap hegemoni Barat.

Namun, kemeresotan kemampuan perang konvensional Rusia justru menjadikannya kian berbahaya. Bukannya mengendur dan mencari penyelesaian diplomatik, Putin memobilisasi 300 ribu dari dua juta tentara cadangan untuk berperang di Ukraina.

Pada saat bersamaan, Kremlin mensponsori referendum di empat wilayah Ukraina yang diduduki, yaitu Luhansk, Donestk, Kherson, dan Zaporizhia untuk menganeksasinya.

 

 
Pada gilirannya, ini menciptakan Rusia baru yang lemah, demokratis, dan pro-Barat sekaligus melemahkan Cina yang sebagian kekuatannya bersandar pada Rusia, dalam konteks perlawanannya terhadap hegemoni Barat.
 
 

 

Maka itu, setelah empat wilayah itu menjadi teritori Rusia, narasi perang berubah dari upaya Ukraina mengusir tentara pendudukan menjadi agresi NATO terhadap teritori Rusia, apabila perang berlanjut dan NATO terus memasok senjata ke Ukraina.

Dengan begitu, Putin mendapat “legitimasi” menggunakan senjata nuklir. Keputusan kemungkinan penggunaan nuklir diatur dalam doktrin militer Rusia. Prinsip penyebaran militer resmi Rusia memungkinkan penggunaan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya.

Dekret Putin tahun 2020 menambahkan empat situasi yang memungkinkan dikeluarkannya perintah serangan nuklir.

Yaitu, bila ada serangan rudal balistik di Rusia, serangan musuh “pada negara atau instalasi militer Federasi Rusia, yang menyebabkan gangguan respons oleh pasukan nuklir”. Memang tak dapat dibayangkan, Putin menggunakan nuklir taktis di Ukraina.

Dampak negatifnya terlalu mahal bagi Rusia karena tiadanya alasan rasional dan moral, bahkan bisa memicu Perang Dunia III. Namun, dari sisi psikologis Rusia, kita tak dapat mengabaikan kemungkinan itu bila perang bereskalasi dan NATO tak cukup bijaksana menghadapinya.

 

 
Dekret Putin tahun 2020 menambahkan empat situasi yang memungkinkan dikeluarkannya perintah serangan nuklir.
 
 

 

Sebab, tak ada orang Rusia yang siap menghadapi kekalahan. Kekalahan Rusia akan menghancurkan imajinasi kebesarannya. Ia akan mengerut, baik di hadapan NATO maupun Cina.

Dilema Barat

Sejak awal Barat meremehkan Rusia. Kecuali militer, Rusia jauh tertinggal dari Barat, baik dari sisi ekonomi maupun teknologi. Karena itu, NATO meluaskan perbatasannya dengan tidak mengindahkan keluhan geopolitik Rusia pascakeruntuhan Uni Soviet (1991).

Rusia tak berdaya karena perlu bantuan finansial, perdagangan, dan teknologi Barat. Namun, ketika NATO bersikeras menerima lamaran Ukraina menjadi anggotanya, Putin melihatnya sebagai ancaman.

Ukraina tetangga Rusia. Bergabungnya Kiev ke NATO berarti perbatasan NATO telah sampai di perbatasan Rusia. Kalau dibiarkan, Rusia tak punya alasan lagi mencegah Georgia dan Belarusia, juga tetangga Rusia, mengikuti langkah Ukraina.

Bahkan, kemungkinan negara Asia Tengah lepas dari hegemoni Moskow. Jadi, Rusia merasa dikepung NATO.

 
Bahkan, kemungkinan negara Asia Tengah lepas dari hegemoni Moskow. Jadi, Rusia merasa dikepung NATO.
 
 

Tanpa bermaksud menjustifikasi agresi satu negara ke negara berdaulat lain -- karena itu melanggar ketertiban hukum internasional dan mengancam perdamaian dunia -- aksi Putin menyerbu Ukraina bisa dipahami.

Kini, Rusia berada di point of no return karena harus menang untuk menjaga muruah. Kemungkinan penggunaan senjata pembunuh massal oleh Putin harus dipertimbangkan secara serius.

Perang Ukraina menciptakan kerawanan politik dan keamanan dunia akibat naiknya harga energi dan pangan, menyusul terganggunya rantai pasok global yang memicu inflasi di mana-mana.

Dalam situasi ini, bank sentral AS, The Fed, terus menaikkan suku bunga yang menyebabkan resesi dunia di depan mata. Maka itu, narasi yang dibangun AS dan sekutunya tentang perang Ukraina tak mendapat pendengar yang luas.

Selain Cina dan India, mayoritas negara Timur Tengah menolak tunduk pada kemauan AS untuk mengisolasi Rusia. Ini menunjukkan, mereka tak menghendaki Rusia kalah perang sehingga tatanan multipolar yang mereka impikan buyar.

 
Menghentikan pasokan senjata ke Ukraina sama saja menjadikan Ukraina mangsa empuk Rusia.
 
 

Apakah NATO akan melanjutkan pasokan senjata ke Ukraina saat Rusia menganggap serangan terhadap empat wilayah, yang ia aneksasi sebagai serangan atas kedaulatannya? Kita bisa memahami beratnya NATO menghadapi kenyataan ini.

Menghentikan pasokan senjata ke Ukraina sama saja menjadikan Ukraina mangsa empuk Rusia.

Lebih daripada itu, kemenangan Moskow akan meningkatkan pamor Rusia dan kepercayaan diri Cina, yang dapat mendorongnya menginvasi Taiwan dengan bantuan Rusia saat citra NATO sebagai kekuatan militer terbesar redup.

Dalam KTT Oganisasi Kerja Sama Shanghai di Samarkand, Uzbekistan, pada 15-16 September 2022, Putin dan Presiden Cina Xi Jinping menegaskan, hendak membangun tatanan multipolar. Ini tak dapat dilakukan bila Rusia kalah perang.

Tak heran, kendati mendukung dialog untuk menyelesaikan perang, Beijing tak mengecam invasi Rusia. Sebaliknya, ia menyalahkan NATO sebagai provokator karena tak mengakomodasi keprihatinan geopolitik Rusia.

 
Menimbang determinasi Putin melanjutkan perang, yang besar kemungkinan dimenangkannya meski dengan harga sangat mahal maka tatanan baru dunia akan terbentuk.
 
 

Tatanan dunia baru

Menimbang determinasi Putin melanjutkan perang, yang besar kemungkinan dimenangkannya meski dengan harga sangat mahal maka tatanan baru dunia akan terbentuk. Pengaruh Barat dan peradabannya di dunia akan merosot.

Sebaliknya, sistem otoritarian efisien yang dipromosikan Rusia dan Cina kian menarik bagi banyak negara berkembang yang repot berurusan dengan demokrasi.

Isu Palestina mungkin terselesaikan karena Cina-Rusia lebih asertif membantu Palestina demi memenangkan hati dunia Islam. AS-NATO mau tak mau juga melakukan hal sama.

Sebaliknya, Asia Timur dan Asia Tenggara menghadapi tekanan berat Cina. Beijing akan semakin asertif dan agresif. Ke depan, ada reposisi politik negara di kawasan. Konsep sentralitas ASEAN akan berantakan.

Sebab, Myanmar, Laos, dan Kamboja, memperkuat hubungannya dengan Cina dan Rusia. Demi menjaga independensinya, Indonesia akan lebih dekat ke Barat untuk mengimbangi Cina, yang mengeklaim Laut Natuna utara sebagai wilayah pencarian ikan tradisionalnya.

Bahkan, Jakarta akan memperkuat kerja sama dengan Jepang, Korea, Australia, dan India.

Rumput Tetangga tak Selalu Hijau Sungguhan

Pamer di media sosial adalah jalan instan untuk mendapat pengakuan di aspek kehidupan sosial.

SELENGKAPNYA

Akar Tradisi Maulid Nabi SAW

Peringatan maulid mengalami akulturasi dengan budaya lokal

SELENGKAPNYA