vp,,rm
Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Kebaikan Abadi

Kecendekiaan itu kebaikan abadi yang diwariskan lintas generasi.

OLEH IU RUSLIANA

Kecendekiaan itu kebaikan abadi yang diwariskan lintas generasi. Karyanya menjadi obor di kegelapan, pelita dalam gulita. Begitu banyak yang mendapatkan kearifan dan kedalaman ilmu pengetahuan. Tak hanya dikatakan, tapi dipublikasikan, sehingga para pencari ilmu dapat menimba banyak oase kebijakan dan pencerahan.

Pada kematian, kita mendapatkan nasihat dan peringatan. Prof Azyumardi Azra telah meninggalkan dunia dan kita para muridnya. Namun, namanya tetap abadi karena akan banyak pelajar, mahasiswa, dan para ilmuwan mempelajari karya-karyanya. Dari almarhum, kita belajar bahwa mewariskan itu bukan soal banyak materi, melainkan semua sikap keilmuan yang selaras antara pikiran, pernyataan, tulisan, dan tindakan.

Amal dari ilmu bermanfaat tak terputus, terus mengalir dalam keabadian. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam mati maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang terus mendoakannya” (HR Muslim).

“Wahai orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan” (QS al-Mujadalah: 11).

Bagi para ulama dan pencinta ilmu, kehidupannya akan dihiasi kemuliaan. Kematiannya tak memutus kebajikan. Lagi pula, matinya manusia pada kehidupan di dunia ini bukanlah ketiadaan. Ujian kematian menjadi musibah bagi yang ditinggalkan. 

Kematian merupakan perjumpaan dengan-Nya yang dirindukan. Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang lebih mempersiapkan diri dan yang lebih taat serta terbaik amalnya. Mereka yang cerdas akan menyiapkan dirinya untuk menghadapi semua kematian. 

 
Bagi para ulama dan pencinta ilmu, kehidupannya akan dihiasi kemuliaan. Kematiannya tak memutus kebajikan. 
 
 

Diriwayatkan Abdullah bin Abbas RA, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang memperhatikan wajah manusia, didapati orang tersebut sedang bergelak tawa. Maka berkata Izrail: ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah SWT untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak tawa.’” 

Seorang sahabat pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan al-Haitsami).

Wallahu a’lam. 

Hukum Tato Alis untuk Mempercantik Diri

Ada saja yang tak puas dengan alis yang ada sehingga mereka merekayasa alis versi mereka.

SELENGKAPNYA

Proses Penanaman Adab pada Anak

Pembahasan tentang adab ada dalam berbagai sumber

SELENGKAPNYA

Masjid Kapal Bosok, Unik Bersejarah di Kota Serang

Masjid Kapal Bosok menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian para pelancong.

SELENGKAPNYA