Santriwati membaca Al Quran bersama saat mengaji malam | ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Laporan Utama

Proses Penanaman Adab pada Anak

Pembahasan tentang adab ada dalam berbagai sumber

Akhlak lahir dari kebiasaan. Kebiasaan datang dari pembiasaan. Pola ini paling efisien dalam membangun kebiasaan-kebiasaan baik sehingga digunakan di banyak pondok pesantren, termasuk di Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah. Dari santri yang, misalnya, ketika di rumah tidak terbiasa bangun pagi, di pesantren dibiasakan bangun pagi.

"Meskipun berat di awal, tapi lama-lama jika terbiasa itu menjadi karakter dia. Pembiasaan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Itulah mengapa pembentukan akhlak itu membutuhkan waktu yang relatif lama," kata Pimpinan Ponpes Darunnajah KH Hadiyanto Arief kepada Republika, Rabu (14/9).

 

 

Pembiasaan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Itulah mengapa pembentukan akhlak itu membutuhkan waktu yang relatif lama

KH HADIYANTO ARIEF Pimpinan Ponpes Darunnajah 
 

 

Membangun kebiasaan membutuhkan waktu tahunan dan tidak bisa dicapai dalam waktu dua-tiga pekan atau bulanan. Termasuk juga membangun kebiasaan yang merupakan kunci kehidupan. Misalnya, kebiasaan dalam menyikapi masalah, yaitu dengan bersabar dan menahan emosi dalam kondisi apa pun. "Jadi, kebiasaan ini yang memang menjadi pola utama, tetapi bukan satu-satunya," ujar dia.

Kiai Hadiyanto menjelaskan, pembiasaan merupakan proses penanaman nilai yang mendorong seseorang, dalam hal ini santri, agar mengulang-ulang tindakan sehingga tertanam dalam alam bawah sadar dan diamalkan sehari-hari. Alhasil, bangun pagi yang semula sulit dilakukan, menjadi mudah.

"Kalau ada kebiasaan buruk pada santri, itu disadarkan dan dihilangkan dengan macam-macam caranya. Secara umum, yang pasti nasihat kiai itu banyak sekali, dan diulang-ulang, terutama terkait dengan adab," ujar dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PM Darussalam Gontor (@pondok.modern.gontor)

Pembahasan tentang adab ada dalam berbagai sumber, baik dari Alquran, hadis, mahfudzat, ataupun yang lainnya. Ini disampaikan tidak hanya di kelas, tetapi juga di berbagai kesempatan, seperti pada tausiyah setelah shalat. Proses penanaman akhlak mulia kepada santri tidak hanya dengan pembiasaan, tetapi juga dengan penyadaran.

"Jadi, memang tidak bisa dalam waktu singkat untuk mengubah kebiasaan. Juga dibantu dengan doa karena kiai itu siang-malam mendoakan santrinya, mendoakan tidak hanya keluarganya, tetapi juga seluruhnya, seperti guru dan para santri," kata Kiai Hadiyanto.

Sarana lain untuk melatih dan menanamkan akhlak kepada santri, kata Kiai Hadiyanto, yaitu dengan pengajaran agama terkait akhlak. Misalnya, pengajaran bahwa hubungan dengan Allah SWT dan manusia itu tidak bisa dilepas sehingga zikir dan shalat serta apa pun terkait wirid, itu merupakan sarana untuk melatih dan menanamkan akhlak mulia ke dalam diri santri.

"Tentu, dengan penguasaan bahasa Arab sehingga dia bisa menghayati dan meresapi serta memahami apa yang dia baca. Jad,i efeknya lebih dahsyat," kata dia.

Namun, Kiai Hadiyanto menyebutkan, ada satu hal yang paling utama dan penting dalam pembentukan akhlak mulia, yaitu keteladanan. Untuk itu, ponpes tentu selektif dalam memilih para pengajar, guru, ataupun ustaz. Hanya mereka yang baik akhlaknya yang dipilih untuk mendidik sekaligus menanamkan akhlak mulia kepada santri.

Cara demikian dilakukan supaya para santri tidak hanya mendengar instruksi dan arahan, tetapi juga mampu meniru perilaku teladan yang ditunjukkan oleh para guru ataupun ustaz di ponpes. Meski begitu, Kiai Hadiyanto menekankan, pemberian keteladanan ini dimulai dari kiai. Inilah yang sulit diperoleh di lembaga pendidikan lain dan juga tergolong jarang pada era seperti sekarang ini.

"Kalau melihat guru di sekolah umum, belum tentu mereka total memberi keteladanan dalam kehidupan. Ini sangat penting. Jadi, sebelum memperbaiki akhlak orang lain, guru atau kiai harus memperbaiki akhlak mereka sendiri sehingga apa yang disampaikannya itu benar-benar berkah, terasa, memberi arti, meski sedikit," ujarnya menjelaskan.

Cara lain ponpes dalam menanamkan akhlak mulia di ponpes, dengan memenuhi kegiatan santri dengan berbagai hal positif secara terstruk tur. Dengan demikian, santri terbiasa menghabiskan waktu dengan hal-hal yang positif. Berbeda dengan lembaga pendidikan lain, ponpes menyibukkan murid dari jam 4 pagi sampai jam 10 malam, seperti di Ponpes Darunnajah ini.

Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis) Ustaz Jeje Zaenudin menyampaikan, penanaman akhlak mulia kepada para santri bukan perkara yang mudah dan tidak selalu berjalan mulus. Sebab, banyak santri yang masuk pondok pesantren (ponpes) dengan berbagai latar belakang pengalaman sekolah dan juga pergaulan yang buruk.

"Sehingga orangtuanya memasukkan ke pesantren dengan harapan bisa berubah jadi anak shaleh. Di sini masalahnya, seakan pesantren adalah bengkel akhlak. Jika sudah nakal, dimasukkan ke pesantren dan ketika berbuat buruk, terjadi kasus keburukan di pesantren, yang terkena nama buruknya juga tentu pesantren," ujarnya.

Dalam mengontrol akhlak mulia santri, di setiap ponpes pasti ada aturan dan sanksi ketat atas pelanggaran. Setiap hal yang bisa membawa dampak buruk pada akhlak santri pasti tidak diperbolehkan. Seperti membawa gawai, terlebih memainkannya.

Menurut Ustaz Jeje, tantangan menjaga kualitas akhlak santri semakin terasa berat karena beberapa hal. Di antaranya; semakin banyaknya jumlah santri di ponpes; latar belakang keluarga dan lingkungan sebelumnya yang beragam; perangkat teknologi yang mudah diakses; semakin disibukkannya para pengelola dan pendidik di ponpes dengan berbagai kelengkapan administratif sebagai konsekuensi regulasi pemerintah dan tuntutan modernisasi lembaga pesantren; dan kesibukan lain dari para kiai dan asatizahnya.

Karena itu, Ustaz Jeje menekankan, sebenarnya yang paling pertama bertanggung jawab atas pendidikan dan penerapan akhlak mulia itu adalah orangtuanya sendiri di dalam keluarga. Ponpes hanya menerima amanah tanggung jawab selama masa studinya anak.

"Orang tua tidak bisa otomatis melepaskan tanggung jawab dan menyerahkan sepenuhnya kepada pesantren. Tetap wajib memantau, mengontrol, mengevaluasi, dan memperbaikinya di dalam keluarga," ujarnya.

 

 

Orang tua tidak bisa otomatis melepaskan tanggung jawab dan menyerahkan sepenuhnya kepada pesantren

USTAZ JEJE ZAENUDIN Wakil Ketua Umum Persis
 

 

Di dunia pendidikan ponpes, sejatinya dan intinya penanaman akhlak itu bukan sekadar melalui pembelajaran materi akhlak di ruang kelas. Tetapi melalui penerapan budi pekerti dan adab-adab mulia dalam pergaulan langsung antara guru dengan murid, murid dengan murid, guru dengan guru, dan dengan masyarakat sekitarnya.

Penerapan akhlak mulia melalui praktik dalam pergaulan keseharian itu melahirkan adab kesopanan pribadi berupa perilaku ikhlas, sabar, tekun, mandiri, dan kesederhanaan. Termasuk juga adab pergaulan, adab menuntut ilmu, dan kesopanan-kesopanan lainnya.

Keteladanan Kunci Menanamkan Akhlak Mulia kepada Santri

Pembahasan tentang adab ada dalam berbagai sumber

SELENGKAPNYA

KH Hodri Ariev: Keteladanan Kunci Pendidikan Akhlak Santri

Semua pendidikan mestinya mengarah pada pembinaan akhlak

SELENGKAPNYA

Shalat yang Begitu Khusyuk

Benarkah informasi ihwal kekhusyukan Shilah al-Adawi dalam beribadah?

SELENGKAPNYA