ILUSTRASI Seorang ulama dari generasi tabiin, Shilah bin Asyam al-Adawi, pernah mengabaikan seekor harimau yang mondar-mandir di dekatnya kala sedang khusyuk dalam shalat. | DOK PEXELS

Kisah

Shalat yang Begitu Khusyuk

Benarkah informasi ihwal kekhusyukan Shilah al-Adawi dalam beribadah?

OLEH HASANUL RIZQA

Shilah bin Asyam al-Adawi merupakan salah seorang fakih dari generasi tabiin. Ia dikenang sebagai seorang yang alim, tawadhu, serta ahli ibadah dan zuhud. Ada cerita tentangnya yang cukup menarik.

Seperti dinukil dari At-Tarikh al-Kabir, pada suatu ketika pertempuran terjadi di dekat area Sungai Indus —kini Afghanistan. Kaum Muslimin berhadapan dengan musuh.

Komandannya adalah Ja’far bin Zaid. Dari penuturan bawahannya, ia mengetahui bahwa Shilah bin Asyam ikut serta dalam jihad ini. Hatinya gembira begitu mendapatkan kabar tersebut.

Kemudian, malam tiba. Para mujahid mendirikan tenda-tenda sebagai tempat beristirahat. Sebagian yang lain menyiapkan makanan di dapur darurat. Usai makan malam, mereka mendirikan shalat Isya.

Di antara jamaah, terdapat Shilah bin Asyam. Seseorang kemudian menyampaikan kepada Ja’far tentang tabiin itu. Memang, selama ini sang fakih dikenal akan ibadahnya yang kuat.

 
Ja’far pun pergi untuk mengamati langsung bagaimana Shilah bin Asyam beribadah pada malam di tengah suasana perang.
 
 

Ja’far pun pergi untuk mengamati langsung bagaimana Shilah bin Asyam beribadah pada malam di tengah suasana perang. Setibanya di tujuan, ia diam-diam menyaksikan seluruh jamaah telah menyelesaikan shalat. Mereka kembali ke tenda masing-masing.

Ternyata, Shilah juga masuk ke dalam tendanya. Seperti para prajurit Muslim lainnya, sang tabiin pun tertidur. Melihat itu, Ja’far sempat berpikir, benarkah kebenaran informasi ihwal kekhusyukan sang alim dalam beribadah? Jangan-jangan, kabar itu hanyalah rumor?

Karena masih penasaran, Ja’far pun tetap berada di tempatnya. Tidak lama kemudian, ia melihat Shilah keluar dari tenda, sedangkan para prajurit nyenyak tertidur.

Shilah tampak menyiapkan diri dan lalu berwudhu. Kemudian, ulama tersebut memacu kudanya ke arah hutan yang lebat. Dengan tetap menjaga jarak, Ja’far mengikutinya dari belakang.

Di suatu tempat yang kosong, Shilah berhenti. Setelah turun dari kudanya, alim tersebut mencari arah kiblat. Kemudian, ia bertakbir untuk memulai shalat. Dari balik batu besar, Ja’far masih saja mengamati orang saleh itu dengan rasa kagum.

“Aku melihatnya dari kejauhan. Ia berwajah syahdu, berserah diri kepada Allah. Seluruh anggota badan serta jiwanya tampak tenang. Seakan-akan, al-Adawi menemukan seorang sahabat dalam kesepian, menemukan cahaya dalam kegelapan,” tutur Ja’far seperti dikutip dalam At-Tarikh al-Kabir.

 
Seakan-akan, al-Adawi menemukan seorang sahabat dalam kesepian, menemukan cahaya dalam kegelapan.
 
 

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba, Ja’far melihat seekor harimau muncul dari sisi kanan tempat ulama itu shalat. Hewan buas itu berjalan mengendap-endap di belakang badan al-Adawi.

Ja'far sangat terkejut dan juga merasa takut. Ia cemas jikalau harimau itu sampai memangsa mereka berdua. Seketika, komandan pasukan Muslimin ini keluar dari persembunyiannya untuk memanjat pohon yang tinggi.

Sebelum naik ke atas pohon, Ja’far sudah mengira bahwa Shilah akan langsung membatalkan shalatnya. Sebab, auman harimau begitu nyaring, mustahil tidak terdengar.

Ternyata, dugaan itu salah. Ulama tersebut masih saja khusyuk dengan ibadahnya. Tampak dari wajahnya, Shilah sangat menikmati shalat. Tidak dihiraukannya harimau yang terus mendekatinya.

“Demi Allah, Shilah tidak menoleh kepada harimau itu. Ia tidak memedulikan harimau yang sedang ada di hadapannya,” kata Ja'far.

 
Demi Allah, Shilah tidak menoleh kepada harimau itu. Ia tidak memedulikan harimau yang sedang ada di hadapannya.
 
 

Mungkin saja, lelaki saleh itu belum menyadari kehadiran karnivora tersebut. Barangkali, ketika akan sujud dirinya akan langsung bergerak menjauh. Namun, dugaan itu salah.

Shilah tetap bersujud dengan tenang. Sesudah itu pun, sang ulama tetap melanjutkan rakaat berikutnya. Adapun harimau itu masih mengaum dan berjalan mengitari lelaki itu.

Akhirnya, ia duduk tahiyat akhir. Usai melakukan dua salam, Shilah tetap tenang walaupun mengetahui harimau di dekatnya. Bahkan, dahi hewan tersebut kemudian dipegangnya; seolah-olah binatang itu adalah kucing rumahan.

“Aku melihat, al-Adawi memegang harimau itu dengan tenang, sementara bibirnya mengucapkan sesuatu yang tidak begitu jelas kudengar,” tutur Ja’far.

Dan, tiba-tiba saja harimau tersebut berpaling dari Shilah al-Adawi. Hewan itu kemudian pergi tanpa suara, kembali ke kegelapan hutan belantara.

Shilah tetap di sana hingga waktu Subuh. Usai shalat dengan Ja’far, ulama itu mengangkat kedua tangannya dan bermunajat. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar menyelamatkan aku dari neraka. Apakah seorang hamba yang berbuat salah seperti aku ini berani untuk memohon surga kepada-Mu?”

Ja’far menyaksikan, al-Adawi berulang kali melafalkan doa tersebut hingga menangis. Sang komandan pun ikut menitikkan air mata. Keduanya lalu kembali ke basis pasukan Muslimin, seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada malam harinya.

Tercelanya Menipu Rakyat

Pemimpin yang menipu rakyat hanya mengundang murka Allah dan kemarahan rakyatnya.

SELENGKAPNYA

Hukum Menafsirkan Mimpi

Boleh menceritakan hanya mimpi yang baik

SELENGKAPNYA

Bolehkah Seorang Muslim Menjadi Komunis?

Prinsip-prinsip dalam Islam bertentangan dengan paham komunis.

SELENGKAPNYA